Perfect Life

Perfect Life
Bab 42. Vegeland Park



Dua puluh lima menit akhirnya Erick sampai di rumahnya.Kedatangannya disambut Riana yang terus menunggunya di ruang tamu.Sejak pagi Ia bahkan ingin mendatangi rumah mertuanya namun urung dilakukannya karena takut Erick akan marah padanya jika dilakukannya.


"Kau kenapa tidak menjawab teleponku?" Riana hendak memeluk tubuh Erick namun Erick menahannya.


"Aku akan mandi dulu, tunggu sebentar ya?" Erick berlalu pergi meninggalkan Riana yang masih tertegun dengan penolakan suaminya.


"Mommy, Dad Siv dali mana, semalam bobo dimana?" Steve bertanya dengan polosnya.


"Dad Steve tidur dirumah nenek, sayang." Riana mengelus kepala Steve.


"Mbak, ajak Steve main ke taman!" perintah Riana pada Mira pengasuh Steve.Mira langsung mengangguk melangkah pergi bersama Steve.Sementara Riana menyusul suaminya ke kamar.Riana segera menyiapkan baju untuk Erick sebelum pria itu keluar dari kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian Erick keluar Ia segera memakai pakaian yang disiapkan istrinya.


"Akhir-akhir ini kau sibuk sekali sampai tidak menjawab teleponku?" telisik Riana.


"Aku hanya ...." Erick tidak meneruskan kata-katanya. "Aku sibuk mengurusi Ibu," kilah Erick.


Untuk pertama kalinya Erick membohongi Riana."Maafkan aku Riana," gumamnya.


"Kau mau pergi lagi?" Riana menatap Erick yang mengeluarkan baju kerjanya.Erick yang sudah memakai baju rumahan itu berganti pakaian kerja.


"Aku ada peninjauan proyek hari ini, kau ingin segera lihat taman hiburan yang kau mimpikan jadi nyata, kan?" Erick mengusap wajah istrinya yang tampak tidak rela melihatnya pergi lagi.


"Aku mau ikut?" Riana mengerjap beberapa kali dengan permohonannya.


"Kau akan kelelahan." Erick mengelus perut Riana yang semakin hari semakin membuncit.Pria itu sangat memikirkan keadaan bayi dalam kandungan Riana meski bukan benihnya.


"Jika aku kelelahan aku akan segera beristirahat." Riana bergelayut di bahu suaminya membuat Erick tidak dapat menolak permintaannya lagi.


Semenjak pindah rumah Riana memang tidak pernah pergi kemana pun.Kesibukanya hanya dirumah beristirahat banyak sesuai permintaan suaminya.Beberapa hari ini Erick yang selalu pulang malam dan kadang tidak pulang membuatnya kesepian.


.


.


Mobil Erick terparkir di sebuah tempat yang cukup luas.Putra dengan sigap membuka pintu untuk istri atasannya itu.Saat itu Steve yang ikut serta ingin berlari namun Erick langsung menahan tubuh kecil Steve.


Tempat itu masih dipenuhi puluhan pekerja yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.Fokus Steve tertuju pada beberapa permainan yang sudah terpasang di tempat itu.


"Mommy, Siv ingin naik itu." Steve menunjuk kincir angin raksasa yang sudah terlihat dari tempat mereka berdiri.


"Itu belum bisa sayang karena belum selesai nanti kalau sudah selesai, Daddy janji kau yang akan pertama menaikinya." Erick tersenyum menatap wajah Steve yang saat itu melengkungkan bibirnya keatas.Wajah polosnya begitu tidak sabar ingin menaiki semua wahana disana.


Taman bermain yang rencananya akan dinamai sesuai nama Steve, Vegeland Park yang diambil dari nama Steve Gerald Wijaya.Tempat itu sudah rampung tujuh puluh persen, diperkirakan awal tahun depan tempat itu akan dibuka secara resmi.


Erick menuntun Riana ke sebuah tempat sementara Steve bersama Putra melihat-lihat taman satwa yang sudah rampung pengerjaannya.


"Kemana Erick?" Riana penasaran kemana Erick membawanya sementara fokus beberapa pekerja tertuju pada keduanya saat keduanya melewatinya.


"Kau suka?" tanya Erick saat hamparan bunga mawar berbagai warna tergelar di depannya.


"Wah." Riana berdecak senang dengan pemandangan yang tersaji di depannya saat ini.


Seorang pekerja berjalan kearahnya dengan membawa setangkai mawar merah memberikannya pada Erick.


"Sebenarnya aku ingin membawamu ke tempat ini sampai benar-benar sempurna namun kau sudah tidak sabar.Ijinkan Aku pria hina ini mencintaimu seumur hidupku." Erick berjongkok saat mengutarakan rasa cintanya itu di depan wanitanya.


Pipi Riana langsung merona dengan kata-kata manis dari Erick.Diluar dugaan, tiba-tiba Steve datang merebut setangkai mawar merah dari tangan Erick.Seketika suasana yang tadinya begitu romantis menguar begitu saja.


"Maaf Tuan." Putra merasa bersalah dengan kedatangan Steve yang menganggu keromantisan pasangan itu.


Erick mengangkat tangannya sebagai jawaban dari permintaan maaf Putra.


Steve berlarian kesana kemari, ia nampak begitu bahagia berada di tempat itu.


Cup.


Riana mengecup pipi suaminya yang sedikit kecewa." I love you, honey," bisik Riana ke telinga Erick.Erick yang sedikit kecewa akhirnya tersenyum degan balasan manis yang di dapatnya.Ia mengejar Riana yang berlari setelah mengutarakan rasa cinta beberapa detik lalu.


"Terima kasih Tuhan kau memberiku hidup yang begitu sempurna setelah semua hal buruk yang terjadi padaku," gumam Riana menatap hamparan taman mawar itu.Erick mendekap tubuhnya dari belakang, mengecupnya penuh kasih sayang.