Perfect Life

Perfect Life
Bab 38. Perfect Life



Setelah makan malam Steve, Juna berlari menuju ruang bermain diikuti kedua pengasuhnya.Nani memilih beristirahat ke kamarnya setelah makan malam diantar Minah sementara Riko memilih masuk ke ruang kerjanya meninggalkan Melati, Riana dan Erick.


"Na, apa kau berniat keluar dari mansion ini?" Pertanyaan Melati seketika membuat Riana dan Erick tertuju padanya.Entah apa yang dipikirkan kakak iparnya itu hingga menanyakan hal itu.Riana menatap Erick yang saat itu masih menatap Melati.


"Aku ikut kemana suamiku pergi, Mbak Mel," jelas Riana yang langsung ditatap haru Erick yang duduk Disampingnya Melati tertegun mendengar jawaban Riana.Ia kembali mengingat kata-kata yang sering Almarhum Ibunya katakan, "Ikut kemana suamimu membawamu." Kata-kata itu yang sering dikatakan Ibunya bahkan itu menjadi pesan terakhir Ibunya sebelum menghembuskan napas terakhirnya.


Glekkk


Melati menelan salivanya dengan susah payah mendengar jawaban Riana.Mungkin benar yang dikatakan suaminya, mereka harus hidup mandiri dirumah mereka sendiri.


"Kau bagaimana, Erick?"Melati berpindah menatap Erick.


"Aku sebenarnya sudah berniat bahkan sebelum resmi menikahi Riana, Mbak Mel.Apalagi Riana sudah mengandung sekarang." Erick mengelus perut Riana.


"Hamil," pekik seseorang pria dari kejauhan yang sedari tadi mencuri dengar obrolan ketiganya.Pria itu mendekat menatap tajam ke arah Erick. "Kau licik sekali Erick, Kau." Riko mengacungkan jempolnya ke Erick.


Hampir saja Erick mengira Riko akan marah besar akan tindakan yang sebenarnya bukan dia yang melakukan namun Ia bernapas lega kakak iparnya itu tidak marah.


"Sebaiknya besok kalian langsung pindah," imbuh Riko.


"Kau ini kenapa menyuruh mereka buru-buru sama saja kau mengusir mereka!" Melati memukul dada suaminya membuat Erick dan Riana tersenyum geli akan kekonyolan keduanya.


Setelah obrolan itu Riana dan Erick bergegas ke kamar untuk mengemasi barang-barang mereka.Riana hanya akan membawa sebagian bajunya sementara Erick bajunya tidak terlalu banyak.


"Mommy," pekik Steve berlari ke arah keduanya disusul Juna.


"Mommy, Siv nggak mau pindah.Siv mau tinggal disini sama Kak Juna sama Kak Nayya," rengek Steve.


Riana memeluk Steve berusaha menenangkan rengekan Steve. " Steve, kau tidak ingin tinggal sama Mommy sama Daddy?" Riana berkata dengan lembut.


"Sini sayang." Riana ikut memeluk Juna.


"Nanti kita akan sering main kesini, atau Steve mau kesini setiap hari juga nggak pa pa.Kita hanya pindah tidur sayang," tutur Riana.


"Apa di lumah balu Siv banyak mainan?"


"Tentu." Riana benar Erick mengangguk bersamaan.


Steve akhirnya menyetujui keinginan Mommy dan Daddynya.


"Ayo Dad Erick antar kalian Bobo." Erick menggendong keduanya keluar dari kamar itu sementara Riana menyelesaikan mengemasi bajunya.


Setelah mengemasi bajunya ke dalam koper, akhirnya Riana bisa merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang.Hamil muda membuatnya cepat lelah.Ia mengelus lembut perutnya untuk pertama kali setelah sebelumnya Ia ingin menyingkirkan hama pengganggu dalam hidupnya itu.Seperti Erick yang menerima kondisinya dengan keikhlasan mulai saat ini Riana akan menerima keberadaan janin yang ada dalam perutnya walaupun sebenarnya masih berat batinnya menerima benih sialan itu.


Pikiran Riana teralihkan saat pintu kamarnya dibuka dari luar, Erick yang telah kembali dari kamar Steve dan Juna.


"Apa mereka sudah tidur?" Menatap Erick yang sudah berbaring di sampingnya.Erick mengangguk dengan pertanyaan Riana.Tangannya mengelus lembut perut Riana yang sedikit membuncit dari sebelumnya.


"Dia bukan darah dagingmu tapi kau menerimanya dengan lapang, kau memang pria yang luar biasa." Riana menatap haru pria tampan dengan segala sifat luar biasanya.


"Tapi Dia suci tidak memiliki dosa, apa hakku menghakiminya."


Lagi-lagi Riana menatap kagum akan sikap suaminya itu.


Hidupnya memang tidak seindah orang lain bayangkan cantik, sukses dan bergelimang harta.Siapa sangka semua itu hanyalah kisah semu.Kenyataanya hidupnya kelam karena masa lalu yang ditanamnya sendiri.Pergaulan bebas membawanya ke masa sulit hingga harus menerima akibatnya sampai kini.


Beruntung Ia memiliki keluarga yang mencintai juga mendukungnya sampai puncak kesuksesan.Dan Erick pria berhati malaikat yang Tuhan kirimkan padanya dengan menerima segala masa lalu kelamnya.Benar-benar hidup yang sempurna.


"Bolehkah malam ini ...."


Erick tidak meneruskan kata-katanya karena Riana lebih dulu mengangguk.


"Kapan pun kau inginkan," bisiknya lembut di telinga Erick membuat hasrat Erick semakin naik.


Erick menatap wajah Riana melancarkan aksinya menahan dagu Riana membuat bibir keduanya bertautan.Tangan Erick pun tidak diam begitu saja meremas bukit sintal yang begitu kenyal membuat darahnya semakin mendesir ke satu arah hingga membuatnya keras sempurna.


Erick begitu menikmatinya namun Riana terlihat memejamkan matanya dengan tubuh yang bergetar tapi tidak diindahkannya.


Melihat Riana seperti menahan sesuatu, Erick langsung melepas tautannya lalu bangkit dari tubuh Riana.


"Tidak apa-apa, jangan takut." Erick membangkitkan tubuh Riana memberinya minum.Terlihat Riana benar-benar ketakutan sampai Erick memegangi gelas minum Riana karena tubuhnya yang terus bergetar.


Setelah itu Erick membaringkan tubuh Riana dan menyelimutinya.


"Ma- maaf Erick," ucap Riana terbata-bata.


Pria itu menggeleng dan berusaha menampilkan senyumnya walaupun sebenarnya Ia sedikit kecewa karena malam yang dinantikannya harus ditahannya beberapa waktu.


"Aku-"


"Ssttt," potong Erick meletakkan telunjuknya tepat di depan bibir Riana.Erick mengusap kening Riana perlahan wanitanya itu memejamkan matanya tertidur.


"Aku tidak menyangka, kau benar-benar trauma.Sedalam ini pria itu menyakiti jiwa dan ragamu, seharusnya aku melenyapkan jika tahu begini," gumam Erick menyesali semua yang telah terjadi.


***


Keesokan paginya.


Riana bersiap meninggalkan mansion yang setahun terakhir ditinggalin bersama keluarganya.


"Mommy benar-benar tidak ingin ikut Riana?" Riana menatap wajah tua Nani.


"Mommy akan tinggal disini saja, kau jaga diri jangan sampai kelelahan." Nani mengelus perut Riana.


"Ayo Mommy," teriak Steve yang sudah berada di dalam mobil.Bocah empat tahun itu sudah tidak sabar melihat rumah baru e salah mainan baru maksudnya.


"Riana kau sering-sering lah kesini jika tidak Mbak Mel yang akan kesana,"pesan Melati bernada ancaman.


"Iya kakak iparku tersayang." Riana memeluk erat tubuh Melati lalu mencubit pipinya gemas.Melati adalah sosok Mommy kedua bagi Riana, sosok dewasanya walaupun seumuran namun panutan bagi Riana.Wanita berjilbab pink itu sampai menitikkan air matanya.


"Sudah Mbak, aku hanya pindah rumah bukannya lenyap selamanya." Riana menyeka air mata Melati.


Setelah berpamitan mobil itu pun melesat membawa Riana,Steve juga Erick pergi.


"Kau cengeng sekali." Riko mengelus kepala istrinya menatapnya penuh.Melati wanita lemah lembut yang berhasil meluluhkan hatinya hingga tak mampu berpaling.