Perfect Life

Perfect Life
Bab 13 Kejutan Untuk Niko



Riana menuruni tangga dengan riang bersama Steve dan Juna.Ketiganya nampak gembira di pagi itu.


Riana mensejajarkan tingginya dengan tinggi Steve dan Juna . "Kalian main dulu, Mommy harus membawakan sarapan untuk Daddy Niko." Menatap Steve sesaat lalu berpindah ke Juna.


Keduanya pun berlari menuju ruang bermain mereka bersama pengasuhnya.


Riana segera bergegas ke dapur untuk mengambil makanan.10 menit kemudian Riana keluar dari dapur dengan nampan yang berisi makanan.Langkahnya mengayun menuju kamar tamu.


Tok ... tok ... tok


"Masuk," sahut suara dari dalam kamar.


Riana melangkah masuk, meletakkan nampan berisi makanan itu di nakas.


"Makanlah, aku membawanya untukmu." Riana tersenyum lalu duduk di tepi ranjang.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Setelah sarapan, aku akan pergi."


Bukan jawaban yang di dengar Riana dari pertanyaannya namun pernyataan dari pria itu akan pergi dari mansionnya.


"Kau masih belum sehat, tinggallah untuk beberapa hari," pinta Riana.


"Aku sudah cukup merepotkanmu, aku malu kau begitu mengkhawatirkanku, orang yang seharusnya kau benci." Niko menunduk.Ia sudah kehilangan muka dengan semua kebaikan wanita di depannya itu.


"Gara-gara diriku, kau bertengkar dengan kakakmu.Aku memahami semua kebencian kakakmu padaku," timpalnya.


Rasa benci dan dendam dihati Riana memang belum sepenuhnya sirna namun Riana sadar siapa pria itu bagi Steve.Riana membuang semua egonya demi hak Steve memperoleh kasih sayang dari pria yang sudah menyakitinya itu.Mungkin orang akan menganggapnya bodoh dengan semua kebaikannya namun Riana tetaplah seorang Ibu yang mementingkan segalanya untuk Steve.


"Sudah jangan banyak memikirkan hal lain yang terpenting kau segera sembuh.Abaikan kakakku." Riana bangkit dari duduknya melangkah pergi namun baru beberapa langkah Riana menghentikan langkahnya kembali menatap Niko. "Aku akan menyuruh Mbak Melati untuk menjagamu selama aku di kantor.Kamu tenang saja, dia orang yang sangat baik." Riana berucap dengan senyumnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Riana yang keluar dari kamar Niko melihat Erick duduk di sofa ruang tamu.Namun ia sedikit heran karena setahunya kakaknya sudah berangkat ke kantor.


"Kak Riko sudah berangkat," jelasnya.


Riana kembali melangkahkan kakinya.


"Aku menunggumu," jelas Erick.


Riana menghentikan langkahnya mendengar ucapan Erick, membalikkan badannya dengan tatapan membulat sempurna kearah Erick. "Kau menung-"


Tiba-tiba ponsel Erick berdering membuat Riana menghentikan ucapannya.Erick segera menerima panggilan telepon itu beberapa saat lalu mendekati Riana, memberikan ponselnya kepada Riana. "Tuan Riko ingin bicara," ucap Erick.


Riana mengambil ponsel Erick.Riana berbicara panjang lebar di telepon lalu mengembalikan ponsel Erick setelah selesai.


"Apa sebenarnya rencana kakakku?" Riana mendelik ke arah Erick terlihat raut kecurigaan di wajahnya.Saat di telepon pun Riana bersitegang saat berbicara dengan Riko membuatnya tampak kesal menerima perintah kakaknya dengan terpaksa.


Riana menghela napas panjang lalu menghembuskan kasar dengan sikap kakaknya yang tiba-tiba menyuruh asistennya untuk mengerjakan proyek baru dengannya karena jelas-jelas sudah ada Angela yang membantunya.


***


Beberapa hari kemudian.


Kedekatan Riana dan Erick semakin intens karena mereka selalu bertemu dan mengerjakan proyek baru itu bersama.


Disela-sela waktu sibuknya, Riana juga mengurus anak perusahaannya yang akan dialihkan nama kembali ke Niko melalui tangan Angela.Riana tidak ingin kakaknya mengetahui secara langsung dirinya lah yang mengembalikan perusahaan itu.Perusahaaan yang dulu dibuat gulung tikar namun kembali dibangun dengan tangannya kembali ke tangan Niko.


Riana menunggu Niko yang masih bersiap.Kemarin Ia menghadiahkan setelah jas yang dibelinya agar Niko bisa langsung memakainya hari ini.


Pria itu keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.Mata Riana terbelalak dengan ketampanan wajah Niko ditambah lesung pipitnya membuat penampilannya semakin manis.Warna jas abu-abu itu begitu sempurna melekat di tubuhnya kontras dengan kulitnya yang putih.Aura bahagia terpancar dari wajah pria itu, membuatnya terlihat seperti pria yang berbeda. "Kau sudah siap?"


Niko mengangguk Keduanya melangkah keluar dari mansion itu namun tiba-tiba langkahnya keduanya di hadang Steve yang langsung merentangkan tangannya meminta gendong Niko.


"Om lapi sekali, mau kemana?Steve ikut," rengek Steve.


Steve bahkan memeluk tubuh pria yang menggendongnya itu dengan erat tidak mau terpisah darinya.Beberapa hari tinggal di mansion itu membuat keduanya begitu akrab meski panggilan Daddy belum terdengar dari mulut kecil Steve.


"Steve, Om mau kerja.Sepulang kerja kita main lagi, ya?" Niko menurunkan Steve membujuknya dengan halus.


"Om janji?" Steve menatap Niko penuh penuntutan.


"Janji." Niko tersenyum sambil menjewer kedua telinganya sebagai tanda kesanggupan akan memenuhi janjinya.Steve pun kembali masuk bersama pengasuhnya.


Mobil Riana memacu setelah keduanya masuk ke dalam mobil.Sekitar 20 menit Riana menghentikan mobilnya tepat di gedung yang sekarang sudah menjadi milik Niko.


Niko terbelalak dengan sambutan seluruh karyawan yang membawa tulisan Selamat Datang Ceo Niko Byantara


"Apa ini Riana, kau." Niko benar-benar dibuat tak bisa berkata-kata.Tangan yang dianggapnya lemah itu melakukan hal besar itu untuknya.


"Aku pasti akan segera mengembalikan semuanya."


"Kau hanya perlu membuat Steve bangga." Riana kembali mengingatkan semua kebaikan itu dilakukannya demi Steve.


Riana memberikan remote mobil kepada Niko yang sebelumnya sudah di pencet hingga mobil keluaran terbaru itu terbuka dengan sendirinya. "Ini hadiah untuk pak CEO yang baru."


Niko kembali tercengang dengan semua kebaikan wanita di depannya itu sampai mobil pun sudah dipersiapkan.Spontan Niko langsung memeluk Riana karena terlalu bahagia lalu mengecup tangan Riana. "Aku pasti membuatmu juga Steve bangga."


Riana segera menarik tangannya dari kecupan bibir Niko. "Masuklah!"


Niko pun akhirnya masuk setelah semua karyawan sudah kembali ke tempat kerja masing-masing.


Seorang pria yang sedari tadi menatap keduanya, menatap penuh amarah dengan tangan terkepal erat.