Perfect Life

Perfect Life
Bab 43. Takut Kehilangan



Seminggu Kemudian.


Sebelum berangkat kerja Erick akan mengantar Riana pergi ke Dokter untuk mengecek kandungan Riana.Pria itu duduk di sofa kamarnya menunggu dengan sabar Riana yang tengah merias diri di depan cermin.Kondisi hamil tiga bulan tidak mempengaruhi Riana dalam hal menjaga penampilan.


Suaminya yang tampan di atas rata-rata mengharuskannya menjaga penampilan jika tidak ingin suaminya di rebut pelakor.


Sekilas Riana melirik ke arah suaminya yang sedang asyik memandangi gawainya lalu berpindah ke cermin di depannya, Ia segera menyelesaikan riasan wajahnya yang cukup sederhana namun membuat kecantikan alaminya semakin sempurna.


"Ayo," ucapnya berdiri tepat di hadapan Erick dengan tas yang sudah melingkar di lengannya.


Pria itu langsung bangkit namun Ia menahan tangan Riana sesaat, menahan wajah Riana agar tidak lepas dari pandangannya.


Cup


Kecupan mendarat ke seluruh wajah Riana dan berakhir ke bibir Riana.


"Kau cantik sekali," puji Erick dengan senyuman bahagianya.


Pria itu benar-benar bahagia dengan pernikahannya sama halnya dengan Riana.Sepasang insan itu saling memberi dan menerima membuat pernikahan itu terasa sempurna walaupun banyak konflik yang terjadi sebelum dan sesudah pernikahan mereka namun mereka tetap bahagia.Penantian selama bertahun-tahun akhirnya terbayar dengan kebersamaan mereka saat ini.


Erick dan Riana bergandengan tangan menuruni tangga nampak Steve berlari ke arah keduanya dan langsung mendekap keduanya.


"Mommy, Daddy," seru Steve.


Erick mengangkat tubuh Steve naik ke dadanya. Setelah pindah serta Riana yang menghabiskan banyak waktu di rumah, Steve menjadi anak yang cukup manis.Ia juga sudah menerima Erick sepenuhnya menjadi Daddy nya.


"Siv mau ke lumah Kak Nayya sama Kak Juna," pinta Steve menatap Daddy Erick sekilas lalu berpindah ke Riana.


"Ok." Erick menyetujui permintaan Steve.


Setelah sarapan bersama mereka menuju ke mansion Wijaya.Tiga puluh menit akhirnya mereka sampai.Steve langsung berurai lebih dulu masuk ke mansion itu diikuti Mira sementara Riana dan Erick menyusul masuk setelahnya.


Keduanya memasuki Mansion itu disambut Melati yang langsung memeluk Riana.


"Kau ini nakal sekali, sejak mempunyai Erick kau melupakan kami." Melati mencubit gemas pipi Riana.Selama pindah adik iparnya itu belum pernah mengunjunginya lagi.


Riana hanya tersenyum menanggapi gerutu an Kakak iparnya itu begitu juga dengan Erick.Riana yang melihat Mommy nya langsung melangkah ke tempatnya.Ia langsung memeluk Mommy nya dengan erat.


"Riana, kangen sama Mommy."


"Kau membohongi Mommy, buktinya selama seminggu ini kau tidak kesini jika memang merindukan Mommy," sangkal Nani.


Nani melihat raut kebahagiaan dari wajah putrinya membuatnya lega.Akhirnya Riana menemukan kebahagiaannya.Senyum yang bertahun-tahun hilang itu akhirnya bersemi kembali di wajah Riana.


"Mommy berharap kalian tetap bahagia.Tidak ada lagi air mata juga rintangan yang berarti di rumah tangga kalian."


"Aamiin, Mom." Ketiganya menyahut doa Nani.


"Riana harus pergi Mom, Riana akan memeriksakan kandungan Riana ke Dokter." Riana kembali memeluk Nani sebelum pergi.


"Kau akan pergi lagi baru juga datang," protes Melati.


"Setelah ke Dokter, aku akan kembali Mbak."


Melati pun manggut-manggut dengan ucapan Riana.


Akhirnya mobil Erick melesat meninggalkan mansion itu.Dalam perjalanan ponsel Erick bergetar membuat fokus keduanya tertuju pada ponsel Erick namun setelah melihat nama yang tertera di layar Erick langsung me reject panggilan itu.


"Kenapa tidak diangkat?" Riana merasa aneh suaminya tidak menjawab panggilan di teleponnya.


"Aku tidak mau merusak fokusku berkendara," kilah Erick.


Riana akhirnya menerima alasan suaminya yang masuk akal.


Mobil Erick berhenti di sebuah rumah sakit namun kedatangannya malah menjadi fokus beberapa orang.


Riana hanya tersenyum mendapat lontaran pertanyaan bernada perhatian seperti itu.


"Maaf Bu, saya saat ini fokus dengan rumah tangga saya karena sudah ada suami saya yang mengurus semua," jawab Riana dengan sopan serta senyum yang terus menghiasi wajahnya.


Aura pasangan suami istri itu begitu positif membuat wanita itu ikut bahagia.


"Semoga Mbak Riana tetap bahagia." Doa wanita itu menjabat tangan Riana juga Erick setelah itu melangkah pergi.


Erick dan Riana melanjutkan langkahnya masuk ke Lobby rumah sakit itu.Kebersamaan pasangan itu berhasil membuat mata sinis terarah kepada keduanya.


"Erick!" pekik wanita itu yang berjas Dokter mendekat.


Erick menelan salivanya dengan susah payah saat mengetahui ternyata Agnes yang memanggil namanya.


"Tunggu sebentar, sayang!" perintahnya pada Riana.Erick melangkah mendekati Agnes yang ingin mendekatinya namun Ia lebih dulu menyingkirkan Agnes menjauh dari Riana.Ia tidak ingin wanita itu mengatakan sesuatu pada Riana.Sementara Riana menatap keduanya dengan tatapan aneh karena bukannya mengenalkan Erick malah menarik Dokter wanita itu menjauh darinya.Riana teringat seperti pernah melihat wanita itu tapi Ia lupa siapa dan dimana bertemu.


"Erick," pekik wanita itu saat Erick melangkah menjauh, sebelumnya mereka sudah berbicara empat mata.


"Ayo." Erick menarik tangan Riana melanjutkan langkahnya meninggalkan Dokter wanita itu yang tampak terlihat kesal.


"Siapa Dokter itu, kenapa aku sama sekali tidak mengingat siapa dia," gumam Riana di sela tarikan tangan Erick.


.


.


Setelah melakukan pemeriksaan bulanan Erick dan Riana bergegas pergi.Sebelum pergi ke kantor, Erick akan mengantar Riana terlebih dulu ke mansion Wijaya.


Erick mengecup kening Riana juga mengelus perutnya sebelum kembali melesat dengan mobilnya.


"Nanti sore, aku akan menjemputmu."


Riana mengangguk setelah itu mobil Erick melaju pergi.


Langkah Riana mengayun memasuki mansion itu namun suasana di mansion itu tampak sepi.Riana mendudukkan tubuhnya di sofa.Ia kembali mengingat tingkah aneh suaminya saat di rumah sakit tadi.Ia juga mengingat-ingat siapa teman Dokter Erick tadi.


Bhuk


Seseorang menepuk bahu Riana membuatnya sedikit tersentak namun sesaat karena Riana kembali termangu.


"Kau kenapa, bagaimana dengan kandunganmu?" Melati duduk tepat di samping Riana.


"Baik-baik saja Mbak." Wajah Riana tampak tidak bersemangat ketika mengucapkannya membuat Melati menatap penasaran.Sikapnya jauh berbeda dengan pagi tadi yang nampak ceria.


"Apa ada masalah?" Melati mengusap punggung adik iparnya itu.


"Tidak ada Mbak, aku hanya merasa sikap Erick aneh saat di rumah sakit tadi."


"Aneh bagaimana?" Melati menatap Riana antusias.


"Saat bertemu dengan teman Dokternya, ia malah menjauh dariku dan hanya ngobrol berdua.Apa mungkin mereka menyembunyikan sesuatu dariku?" cerita Riana.


"Alah kau ini berlebihan, wanita hamil memang selalu seperti itu suka cemburuan," sangkal Melati.


"Benarkah Mbak, apa Mbak dulu juga seperti ini?"


Melati mengangguk. "Aku cemburuan juga sering sekali menangis tanpa sebab," jelas Melati.


"Oh." Riana pun merasa lega dengan penjelasan Kakak iparnya itu.Erick tidak mungkin menyembunyikan sesuatu darinya karena prianya itu sangat mencintainya.


"Maafkan aku Erick karena sudah berpikiran buruk tentangmu, aku hanya takut akan kehilangan dirimu," gumam Riana.