
Sekitar pukul empat sore Erick hendak bergegas pulang.Tiba-tiba ponselnya berdering.Nama Agnes yang tertera di layar ponselnya.Erick tidak ingin menjawab namun jika tidak dijawab Agnes akan terus meneleponnya tanpa berhenti sampai Ia menjawab teleponnya.
"Ada apa?" ~ Erick.
"Cepat ke apartemenku!"~Agnes.
"Untuk apa, kau jangan menggangguku lagi!"~Erick.
"Kau!aku ini juga istrimu sebulan ini bahkan mengabaikan ku juga Ibu.Kau mau aku ke rumahmu menceritakan semua pada istrimu!"~Agnes.
"Jangan lakukan apapun.Baik lah aku akan ke apartemen mu sekarang."~Erick.
Erick memutus sambungan telepon itu.lalu bergegas pergi.
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit, Erick akhirnya sampai.Pria itu sudah berada tepat di depan pintu apartemen Agnes.Erick menghela napas panjang mengumpulkan kekuatannya menghadapi wanita licik seperti Agnes.Kejadian terakhir kali ke apartemen ini, Erick malah berakhir diatas ranjang bersama Agnes.Ia harus berhati-hati agar kejadian itu tidak terulang lagi.
Erick hendak memencet bel apartemen Agnes namun urung dilakukannya karena tiba-tiba terdengar bentakan yang cukup keras setelah sebelumnya terdengar bunyi piring atau gelas yang pecah.Erick mendekatkan telinganya ke pintu itu dan benar saja dugaannya, Agnes sedang membentak Ibunya walaupun Ibunya sudah memintai maaf.Erick mengepalkan tangannya dengan sikap kasar Agnes yang ternyata dugaannya selama ini benar, Agnes menjadikan Ibunya tinggal di apartemennya hanya untuk di jadikan pembantu.
Tanpa membuang waktu Erick memencet bel apartemen itu tanpa melepaskan membuat terus berbunyi walaupun pintu sudah terbuka dari dalam.
"Erick, kau datang, Nak."
Mata merah seperti habis menangis terlihat dari wajah Ibunya membuat Erick langsung menahan tangan Ibunya saat hendak melangkah pergi.
"Erick, kau sudah datang." Agnes melepas tangan Erick yang memegang tangan Ibunya berusaha mengalihkan tatapan curiganya.
"Ibu masih masak, biar Ibu menyelesaikannya bukannya jika masak harus diselesaikan dengan begitu masakannya akan enak," kilah Agnes bergelayut di lengan Erick.
Erick yang menatap ke arah Ibunya yang masuk ke dapur berpindah menatap sengit Agnes.Dihempaskannya tubuh Agnes yang menempel padanya dengan kasar.
"Kau kasar sekali!" pekik Agnes tidak terima di perlakukan seperti itu oleh Erick.Erick tidak mengindahkan Agnes, langkahnya mengayun menuju dapur menarik tangan Ibunya keluar dari sana.
"Bu ikutlah denganku, untuk apa ibu bertahan di tempat yang memperlakukan Ibu seperti pembantu."
Erick yang tidak sengaja melihat jari Ibunya berdarah semakin marah.
"Kau wanita yang jahat, kau perlakukan Ibuku seperti pembantu!" cerca Erick atas perbuatan kejam Agnes.
"Aku tidak pernah memperlakukan Ibu seperti tuduhanmu.Aku sudah mencari pembantu namun Ibu menolak karena hanya akan membuang uang saja katanya.Jika kau tidak percaya tanya pada Ibu." Agnes mendelik ke arah Novi dengan penjelasannya.
"Apa benar ya dikatakan Agnes, Bu?" Erick menatap penuh Novi.
"Be- betul Erick, Agnes tidak bohong." Novi berbicara dengan wajah menunduk.
Erick semakin menggeleng tidak mengerti kenapa Ibunya tidak mengatakan jujur malah membela Agnes yang jelas-jelas berlaku kasar.
"Apapun alasannya, aku ingin ibu tetap ikut bersamaku dan kau Agnes kan wanita jahat jelas-jelas aku mendengar kau membentak-bentak Ibuku tadi namun kau masih mengelak!"
"Cepat Bu, ambil pakaian Ibu!" timpal Erick.
"Tapi Erick." Novi melirik sekilas Agnes yang terlihat sangat marah namun akhirnya Novi melakukan perintah Erick.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku Erick, aku akan katakan pernikahan kita pada istrimu!" ancam Agnes dengan mata berapi-api.
"Silakan, aku tidak peduli." Remeh Erick dengan tatapan tajamnya lalu beralih ke Ibunya yang sudah keluar dengan kopernya.
Sepeninggalan Erick berserta Ibunya, Agnes melempar barang-barang yang ada di dekatnya dengan kasar.Dia bersumpah akan menggunakan segala cara membuat Erick dan Riana berpisah.
.
.
Erick mengantar Ibunya masuk ke kamar setelah sampai di rumahnya.Sebelumnya Novi dibuat takjub dengan rumah mewah berlantai empat itu juga beberapa ART yang menyambutnya tadi.
"Ibu istirahatlah, aku akan menjemput istriku dulu nanti kita makan malam bersama."
"Tapi Erick Ibu merasa tidak enak dengan istrimu selama ini Ibu ...." Novi menunduk tidak bisa meneruskan kata-katanya.Ia terlalu malu dengan sikapnya sebagai mertuanya yang jahat.
"Ibu tidak usah merasa tidak enak, istriku orang yang sangat baik dan bijaksana setelah Ibu mengenalnya pasti Ibu akan menyukainya."
Novi pun mengangguk dengan penjelasan Erick yang sedikit membuatnya lega namun tetap saja Ia merasa malu dengan semua sikapnya.
.
.
Erick, Riana dan Steve serta pengasuh Steve tiba dirumah jam delapan malam.Erick terpaksa menolak tawaran Riko untuk makan malam bersama demi bisa cepat sampai di rumah dan makan malam bersama Ibunya.
Kedatangan mereka di sambut Novi namun Novi seperti menjaga jarak karena merasa tidak enak dengan Riana.
"Steve Salim sama Nenek." Erick menurunkan tubuh Steve dari lehernya.Erick memang sering melakukannya walaupun hanya anak tiri namun Erick begitu menyayangi Steve.
Steve pun mencium punggung tangan Novi sekilas membuat Novi tersenyum mengelus pucuk kepala Steve.Seperti biasa Steve langsung berlari ke ruang bermainnya setelahnya diikuti Mira yang sebelumnya sudah memperkenalkan diri pada Novi.
"Ibu." Riana langsung memeluk mertuanya tanpa rasa marah atau benci.Walaupun selama ini keberadaannya tidak diterima mertuanya itu namun Riana tetap bersikap sopan.
"Siapa laki-laki kecil tadi?" Novi menatap Erick penuh tanya.
Erick bingung harus menjawab apa.Selama ini Ia bahkan tidak menceritakan tentang Riana karena Ibunya juga Almarhum Ayahnya tidak menerima hubungannya dengan Riana.
"Steve adalah putraku, Bu.Aku memiliki Steve sebelum menikah dengan Erick," jelas Riana tanpa ragu-ragu.
"Jadi kau menikahi janda." Novi sedikit kecewa dengan status Riana yang tenyata sudah memiliki seseorang putra.
"Aku mencintai Riana, Bu.Statusnya sama sekali tidak menganggu ku." Erick berucap penuh penekanan.
"Sebaiknya kita makan." Riana mengalihkan pembicaraan setelah sebelumnya diberitahu ART nya makan malam telah siap.
Makan malam itu tampak hening hanya ada dentingan sendok dan garpu.Novi masih merasa kecewa dengan status Riana.Seharusnya Erick bersama wanita lajang karena ketampanan putranya itu bisa saja memikat seorang model sekalipun.Tapi putranya malah terjebak pernikahan dengan seorang janda satu anak.
Selesai makan Erick mengantar Ibunya ke kamar untuk beristirahat.
"Istirahatlah, Bu.Disini Ibu tidak perlu menjadi pembantu seperti di rumah Agnes."
"Erick kenapa kau memilih wanita janda beranak satu itu, seharusnya kau bisa menikahi seorang gadis," protes Novi.
Tanpa mereka sadari seseorang mencuri dengar pembicaraan Ibu dan anak itu.Air matanya menitik dengan rasa tidak suka mertuanya padanya.Erick menikah dengannya hanya sebuah kesialan karena tidak hanya satu anak namun dua anak yang bukan darah dagingnya yang harus diterimanya saat menjadi suami dari seorang Riana.Riana wanita dengan noda hitam yang selamanya noda itu tidak akan pernah hilang.