Perfect Life

Perfect Life
Bab 39. Rumah Baru



"Juna kau disini." Riana terbelalak menyadari Juna ikut naik ke mobilnya.


Tentu saja Steve akan membawa turut serta Juna jika tidak, mungkin Ia tidak akan ikut pindah.Kakak Beradik itu walaupun sering bertengkar namun tidak mau dipisahkan satu sama lain.


Riana segera menghubungi Kakak iparnya memberitahu keberadaan Juna yang ikut serta naik mobilnya.


.


Tiga puluh menit kemudian mobil Erick berhenti di halaman rumah mewah berlantai empat bergaya minimalis.


"Wah." Riana berdecak kagum.Kakaknya itu memang tidak pernah gagal memberinya kebahagiaan.Namun Erick malah terlihat murung dengan apa yang ada di depannya itu.


"Kau kenapa?" Riana terlihat bingung dengan reaksi suaminya.


"Tidak.Ayo masuk." Erick menarik tangan Riana sementara Juna dan Steve sudah masuk duluan.Riko tidak hanya membelikan rumah namun juga seisinya termasuk beberapa ART plus Tukang kebun yang sudah bekerja di rumah itu saat rumah itu di beli Riko.


"Selamat datang Tuan, Nyonya," sambut 5 ART salah satunya Mira pengasuh Steve yang pagi- pagi sudah pindah.


"Dimana Steve dan Juna?" Riana hendak mencari keberadaan keduanya namun Erick menahan tangannya.


"Biar Mbak Mira yang melihat mereka, kau istirahatlah." Erick menatap Mira sekilas yang langsung menuju kamar bermain Steve.Erick menarik tangan Riana menaiki lift menuju kamarnya dilantai paling atas.Sebelumnya Erick sudah melihat rumah ini atas perintah Riko hingga mengerti setiap sudut rumah itu.


Erick menyelimuti tubuh Riana yang sudah berbaring di ranjangnya.


"Aku ke kantor dulu, jika ada sesuatu hubungi aku.Istirahat lah yang banyak." Erick mengelus perut Riana sekilas lalu mengecup kening Riana sesaat sebelum pergi.


Sepeninggalan Erick, Riana kembali mengelus perutnya."Andai saja anak ini buah cinta kita, kau pasti akan lebih bahagia Erick," gumamnya.


***


Erick bergegas pulang kantor saat melihat jam di tangannya menunjuk pukul enam sore.Pekerjaan yang menumpuk membuatnya pulang telat.Tiba-tiba ponsel Erick bergetar di sakunya membuatnya harus segera mengangkat teleponnya.


Terdengar tangis dari seberang telepon membuat Erick bingung namun Ia tahu itu suara tangis siapa.


"Ada apa Bu, kenapa Ibu menangis?" cemas Erick.


"Ayah masuk rumah sakit, sakit jantungnya kumat," jelas Novi.


"Cepatlah kesini, Nak." Novi langsung memutus sambungan teleponnya.


Erick langsung bergegas pergi ke rumah sakit yang biasa Ayahnya dirawat saat sakitnya kambuh.


.


Lima belas menit Erick bersama Asistennya sampai dirumah sakit terbesar di kota itu.Namun Ia meminta Asistennya itu menunggunya di mobil.Langkah Erick mengayun menuju Lobby lalu menuju ruang ICU dimana Ayahnya di rawat.


Terlihat Ibu juga Dokter yang merawat Ayah Erick di dalam ruang ICU itu.Melihat kedatangan Erick, Dokter yang tak lain adalah Agnes langsung keluar.


"Ku kira kau sudah lupa jika punya orang tua," sindir Agnes.


Pria itu masuk ke ruangan ICU meninggalkan Agnes yang terlihat kesal dengan perlakuan kasar Erick.


Terlihat Ayahnya terbaring lemas dengan Ventilator yang terpasang di mulut Ayahnya juga beberapa alat lain yang menempel di tubuh Ayahnya.


"Bagaimana Ayah, Bu?" cemas Erick.


"Ayahmu keadaannya kritis sebaiknya kita bicara di luar." Novi menarik tangan Erick keluar dari ruangan itu.


Novi terdiam cukup lama saat sudah duduk berdua dengan putra semata wayangnya itu.


"Bu, apa yang terjadi katakan!bukannya Ayah sudah lama tidak kambuh sakitnya?" cerca Erick dengan pertanyaannya.


"Kenapa kau melupakan kejadian beberapa Minggu lalu!" Novi menatap tajam putranya itu yang pura-pura melupakan asal muasal suaminya kambuh lagi.


"Kau begitu bahagia tapi kau melupakan Ayah dan Ibu," imbuh Novi menunduk dengan nasib malangnya


"Jika kau ingin berbakti dengan Ayah dan Ibumu, turuti keinginan terakhir Ayahmu!"


"Apa Bu, apapun akan aku lakukan asal Ayah kembali sehat."


"Nikahi Agnes dan ceraikan istrimu!" tegas Novi.


"Apa?" Erick terbelalak dengan permintaan Ibunya.Baru beberapa minggu menikah Ia harus menceraikannya.


"Tidak Bu, Erick tidak bisa.Ibu bisa meminta apapun namun jangan memintaku menceraikan istriku," tegas Erick.


.


.


Pukul dua belas malam Erick memasuki rumahnya di bantu Putra Asistennya.


Riana yang belum tidur langsung turun saat melihat kepulangan suaminya lewat balkon kamarnya."Kau kemana saja?"


"Tuan Minum banyak, Nyonya," jelas Putra.


"Ya sudah, kau pulanglah."


Putra menunduk mengikuti perintah Nyonya melangkah pergi.


Riana membantu Erick naik ke kamarnya saat hendak menyelimuti tubuh suaminya, tubuhnya di tarik paksa membuatnya jatuh ke pelukan suaminya.


Riana yang meronta tidak berhasil karena suaminya menyegelnya dengan kungkungannya.


"Kau istriku kenapa kau menolakku!" racau Erick.


Pria itu melucuti paksa penutup tubuh Riana sampai koyak.Erick yang tidak sadar menggaulinya secara paksa namun perlahan Riana menikmati hubungan itu.Ia mengalahkan traumanya dengan terus menatap wajah pria yang dicintainya dan meyakinkan diri melakukannya dengan suaminya yang sudah seharusnya mendapat hak atas dirinya.