Perfect Life

Perfect Life
Bab 37. Jangan Pisahkan



Erick dan Riana dalam perjalanan pulang kantor.Keduanya fokus dengan pikiran masing-masing.Riana memikirkan ucapan Kakak iparnya yang menyuruhnya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Steve.


Setelah menikah Riana disibukkan dengan urusannya sendiri tanpa memperhatikan Steve.Steve malah lebih dekat dengan Melati yang selalu memperhatikannya serta dua puluh empat jam menjaganya daripada Ibu kandungnya sendiri.


"Erick, gimana caranya agar Steve mau dekat dengan kita?" Riana menceritakan keresahan dalam hatinya.


"Kau lebih baik banyak dirumah biar kantor aku yang handle." Erick mencoba berbesar hati walau sebenarnya Ia lebih suka waktunya dilalui bersama Riana.Ia tidak boleh egois hanya mementingkan kesenangannya sendiri karena Steve lebih jauh berhak atas Riana.


"Aku ingin kau seperti Mbak Mel, tetap di rumah menjaga dan merawat anak-anak kita kelak," imbuh Erick.


Riana berpikir apa yang dikatakan Erick benar.Selama ini Ia hanya ingin membuktikan pada dunia Ia bukan wanita lemah seperti yang dikatakan Niko.Tujuannya sukses untuk membalas segala sakit hati dan menunjukkan pada dunia, Riana wanita kuat yang tidak mudah ditundukkan begitu saja walau nyatanya dalam proses itu terkadang pasang surut.Kini Ia dapat menikmati hasil perjuangannya, bertengger di puncak kesuksesannya menjadi wanita paling berpengaruh dalam dunia bisnis.


"Sudah saatnya aku turun dan kembali ke asalku karena sekarang ada Erick yang akan menjagaku dan Steve," gumam Riana menatap lekat pria di sampingnya.


"Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu." Riana menuruti kata Erick tanpa perdebatan sama sekali membuat Erick tersenyum senang.


Mobil Erick berhenti di sebuah mini market.


"Kau mau beli sesuatu?" Riana menatap bingung karena Ia tidak berencana ke mini market namun entah mengapa suaminya berhenti di tempat itu.


"Kau, tunggulah sebentar." Erick keluar dari mobilnya masuk ke mini market itu.


Sepuluh menit pria itu keluar dengan kresek putih di tangannya lalu menaruh keresek itu di kursi belakang mobil.


"Kau beli apa?" telisik Riana.


"Kau akan tahu sendiri setelah sampai dirumah."Erick tersenyum menyeringai dengan rencananya.


Mobil pun kembali melesat menuju mansion.Sepuluh menit mereka sampai di halaman mansion mewah itu.Riana dan Erick turun dari mobil melangkah masuk namun baru beberapa langkah Riana menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" Erick menatap bingung dengan ekspresi Riana yang tampak bersedih.Dulu ketika Ia pulang kantor selalu disambut Steve dengan pelukan namun semua itu tidak ada lagi.


"Tidak, aku hanya ...." Riana lebih memilih tidak meneruskan kata-katanya.Ia menarik tangan Erick kembali melanjutkan langkahnya memasuki mansion itu.


"Dimana Steve, Bik?" tanya Riana pada ART yang membukakan pintu.


"Tuan Muda bermain bersama Tuan muda Juna dan Nona muda Nayya," jawab ART nya sopan.


Erick menarik tangan Riana menuju taman belakang dengan kresek putih yang turut dibawanya.Terlihat Steve, Juna dan Riko bermain bola sementara Nayya dan Melati antusias menyaksikan ketiganya bermain.


Deg


Riana merasa Ia seperti Ibu durhaka karena mengabaikan Steve selama ini, Steve terlihat bahagia dengan tawa lepasnya.Melati yang melihat kedatangan Riana dan suaminya mendekat."Kalian sudah pulang?"


Tangan Erick yang memegang kresek putih membuat fokus Nayya langsung tertuju padanya.


"Uncle, bawa apa?" Nayya langsung menyerobot kresek itu dari tangan Erick.


"Nay, kau tidak sopan!" bentak Melati menatap tajam Nayya.


Nayya pun mengembalikan kresek itu ke tangan Erick kemudian terlihat menunduk.


"Ini hanya ice cream kok, Mbak Mel." Erick memberikan kresek itu ke tangan Nayya membuat Nayya kembali ceria.


"Juna, Steve sini!" pekik Nayya mengangkat kreseknya tinggi - tinggi.Keduanya langsung berlari menuju Nayya.Seorang mendapat satu yang sudah di tangan masing-masing.


"Buat Dad Riko, mana?" Riko terlihat sedih karena tidak kebagian.


Saat hendak menikmati ice cream itu mereka dihentikan dengan suara Melati. "Tunggu!"


"Apa lagi Mommy Mel, Siv ingin memakan es clim ini!" kesal Steve yang juga ditatap kesal Nayya dan Juna.


"Berterima kasih dulu sama Dad Erick!" perintah Melati.


"Telima kasih Dad Elik," ucap ketiganya serempak menatap Erick yang duduk bersebelahan dengan Riana.


"Sama-sama," balas Erick dengan senyum manis.


Ketiganya memakan es cream dengan bahagia, walaupun hanya sederhana namun sudah sangat luar biasa bagi anak-anak seperti mereka.


"Istirahatlah, kalian pasti lelah!" perintah Melati menatap keduanya yang tampak kelelahan.


Riana pun mengangguk menuruti perintah Kakak iparnya karena sebenarnya sejak hamil Ia selalu kelelahan walaupun tidak melakukan apapun.Erick mengambil alih tugasnya dan memberikannya lebih banyak waktu istirahat di kamar khusus ruangan Riana yang kini juga menjadi ruangannya setelah resmi menjadi suami Riana.


Melati menatap keduanya dengan senyum bahagia yang lagi-lagi diartikan lain oleh suaminya.


Ehem


Riko berdeham dengan Melati yang tidak berkedip melihat Riana dan Erick.


"Kau ini keterlaluan, aku hanya menatap Adik iparku bahagia, kau cemburu juga!Bagaimana denganmu yang memegang wanita lain di depan mataku waktu itu!" protes Melati dengan sikap posesif berlebih suaminya.


"Wanita itu aku sudah jelaskan, dia wanita yang ingin merusak acara pernikahan Riana waktu itu!" tegas Riko.Berkali-kali Ia menjelaskan namun tidak dipercayai istrinya itu.


"Iya, aku percaya," sahut Melati dengan nada tidak ikhlas.


"Percaya kok gitu!"


"Terserah, aku lah."


Keduanya sama-sama terdiam sesaat.Riko berpikir untuk menyampaikan keinginannya selama ini yang sengaja Ia menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan pada istrinya itu.


"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu." Wajah Riko berubah serius.


"Apa katakan," jawab Melati tanpa mengalihkan pandangannya pada ketiga bocil yang kembali bermain bola.


"Aku sudah menyiapkan rumah untuk Riana dan Erick juga Steve."


"Apa?" Melati terperangah dengan ucapan suaminya itu, menatap penuh Riko.


"Aku tahu kau pasti tidak menyetujuinya namun pikirkan dalam satu atap tidak boleh ada dua kepala.Riana sudah memiliki Erick yang akan menjaganya jadi biarkan mereka hidup sesuai keinginan mereka," jelas Riko.


"Bagaimana dengan mereka?" Melati menunjuk ketiga bocah yang bermain bola dengan tawa penuh kebahagiaan itu.


"Mereka akan mengerti, lagian mereka hanya berpisah tempat tinggal saja, mereka masih bisa main bersama."


"Tidak.Aku tidak akan membiarkan satu orang pun keluar dari mansion ini!" tegas Melati melengos pergi meninggalkan Riko.


"Sudah aku duga semua pasti berakhir seperti ini, Melati pasti akan berkata demikian," gumam Riko.


Melati sangat menyayangi keluarganya termasuk Riana dan Steve.Selama ini Ia yang mengurus dan menyayangi keluarganya dengan luapan kasih sayang begitu besar.Ia pasti akan kukuh mempertahankan Riana dan Steve di mansion itu apapun yang terjadi membuat Riko harus mencari cara agar Melati mau menyetujui idenya itu.