Perfect Life

Perfect Life
Bab 35. Pergilah Ke Neraka!



Keesokan paginya.


Riana memutuskan untuk tidak pergi bekerja hari ini.Sejak pagi Ia terus muntah-muntah membuat Erick tidak tega, menyuruhnya banyak beristirahat.


"Aku akan mengantarmu ke Dokter dulu sebelum ke kantor," tawar Erick.


"Tidak, kau harus ke kantor karena hari ini ada rapat direksi!" tegas Riana.


"Aku akan pergi sendiri," timpalnya.


Erick sedikit berpikir namun setelah itu mengiyakan ucapan istrinya itu.


"Kau harus diantar supir!" tegas Erick mengusap wajah Riana yang saat itu sedang memasangkan dasi ke kerah bajunya.


Cup


Kecupan mendarat di seluruh wajah Riana lalu berakhir ke bibir Riana.


"Sudah sana pergi!" Riana mengurai tautan keduanya dengan mendorong tubuh Erick serta memberikan tas kerjanya.


Erick pun tersenyum."Nanti aku telepon," ucapnya sesaat sebelum meninggalkan kamar itu.Riana mengacungkan jempolnya sebagai tanda ok.


Riana terduduk lesu sepeninggalan Erick.Mengelus perutnya yang memang sedikit membuncit dari sebelumnya."Kau kenapa harus hadir disaat seharusnya aku hidup bahagia dan nyaman bersama pria yang aku cintai.Kau enyahlah dari hidupku!" lirih Riana penuh emosi meremas perutnya sendiri.


Riana bersiap pergi ke Dokter untuk memastikan kehamilannya.Riana menggunakan jalur VVIP sehingga Dokter itu hanya menerima satu pasien yaitu dirinya.Gerak-geriknya sebagai orang yang cukup terkenal sebisa mungkin harus terjaga privasinya.Riana bisa saja mengundang Dokter itu ke rumahnya namun jika itu dilakukannya pasti akan membuat orang dirumahnya curiga.


Riana memasuki ruangan Dokter itu.Senyum keramahan Dokter itu langsung menyambutnya antusias.Dokter yang akan memeriksanya adalah salah satu penggemar Riana sehingga pertemuan yang tidak disengaja itu membuatnya cukup senang.


"Selamat atas pernikahannya, Nona Riana." Dokter wanita itu mengucapkan selamat dengan senyuman termanisnya.


"Terima kasih.Tolong cepat lakukan tugasmu, aku tidak ingin berlama-lama disini!" tegas Riana seketika membuat Dokter itu tegang.


.


.


Riana meninggalkan rumah sakit setelah mendapatkan hasil dari pemeriksaannya.Benar dugaannya, kehamilannya sudah menginjak bulan ke -dua.Riana juga sempat meminta Dokter itu untuk menggugurkan kandungannya dengan iming-iming memberikan berapa pun yang Dokter itu minta, namun Dokter itu menolak karena tindakan itu menyalahi hukum.Aborsi adalah suatu kejahatan.


Sementara sepeninggalan Riana, Dokter yang bernama Vera itu masih tertegun dengan permintaan pasiennya tadi.Seorang Riana wanita yang begitu disegani punya skandal yang memalukan karena hamil setelah beberapa hari menikah.Tentunya hamil diluar nikah dan yang lebih mencengangkan memintanya untuk mengaborsi.


"Wah, enak sekali Dokter Vera ini satu pasien sudah seperti berpuluh pasien," seru teman Dokternya.Vera bahkan tidak mendengar beberapa kali temannya itu mengetuk pintu hingga membuatnya temannya itu langsung masuk.


"Kau ini memuji atau menggodaku!" kesal Vera.


Menyadari temannya berekspresi seperti orang bingung membuatnya bertanya."Ada apa, seharusnya kau senang kan, kau bisa pulang lebih awal.Siapa pasien VVIP, itu katanya artis ya?"


Vera yang masih tertegun tidak menyadari temannya itu melihat data pasiennya.


"Riana Delia!" seru temannya itu dengan mata terbelalak.


"Hei lancang sekali kau!" Vera langsung menutup berkas yang berada di mejanya.Data pasien apalagi pasien VVIP sangatlah rahasia namun karena kecerobohannya data itu bocor.


"Aku hanya penasaran," kilah teman Dokternya itu.


"Kau harus merahasiakan semua ini kalau sampai bocor habis karirku sebagai Dokter kandungan!" tegas Vera dengan ancamannya.


Temannya itu mengangguk sebagai tanda setujunya.Ia pun keluar dari ruangan itu dengan pikiran yang semakin kacau.Baru beberapa hari menikah Riana sudah hamil."Ternyata kau sebahagia itu Erick, sebentar lagi bahkan kau akan punya keturunan," gumam wanita itu yang tidak lain adalah Agnes Mabella.


"Tapi kenapa Erick tidak mengantarnya ke Dokter?" gumamnya lagi.Agnes terus melangkah dengan pemikiran tentang Riana hingga memasuki ruangannya.


.


.


.


.


Sepuluh buah nanas muda yang sudah disiapkan oleh ART-nya sesuai permintaannya sudah siap di meja kamarnya serta sebotol wine yang tersimpan di kamarnya sudah dikeluarkannya.Riana kembali memegang perutnya."Kau pergilah neraka," gumamnya.Riana melahap sepuluh nanas muda itu sekaligus meminum sebotol wine.Namun tidak ada reaksi apa-apa pada tubuh Riana.


"Apa ini tidak berhasil?"


Riana kembali mengambil sebotol wine dari lemarinya lalu kembali meneguknya.Sebotol wine itu belum habis, Ia merasakan kepalanya mulai pening membuat semua benda disekelilingnya terasa berputar-putar.Perutnya juga merasa mual hebat hingga dengan langkah sempoyongan menuju kamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya membuat badannya lemas lalu jatuh tidak sadarkan diri.


.


.


Erick memasuki kamarnya.Terlihat meja di kamarnya begitu berantakan 2 botol wine bertengger disana serta beberapa piring kosong.


"Riana," pekik Erick mencari keberadaan Riana namun Ia tidak menemukan lalu melangkah menuju kamar mandi.Betapa terkejutnya saat menemukan Riana tergeletak disana.Erick langsung mengangkat tubuh Riana tanpa berpikir panjang menghubungi Dokter Anton, Dokter keluarga Wijaya.Erick memanggil ART-nya melalui telepon intercom.Beberapa ART masuk ke kamarnya.


"Siapa yang datang ke kamar, Nona?" selidik Erick.


"Tidak ada Tuan."


"Lalu siapa yang membuat kekacauan ini?" tanya Erick lagi menunjuk meja yang berantakan.


"Nona sendiri yang meminta dibelikan nanas muda sepuluh buah lalu menyuruh mengupas semua.Kami hanya menjalankan perintah, Tuan," ucap ART itu dengan tubuh bergetar ketakutan.


"Sudah bereskan semua!" titah Erick.


Melati dan Dokter memasuki kamar Riana.Melati yang melihat kedatangan Dokter Anton ke mansion-nya merasa cemas ternyata Erick yang memanggilnya.


"Ada apa Erick, Riana kenapa?" Melati terlihat cemas.


"Entahlah Mbak.Dokter cepat periksa istriku!" Erick menatap Melati sekilas lalu berpindah ke Dokter itu.


Dokter itu langsung memeriksa Riana.


"Bagaimana Dokter?" Erick menatap Dokter dengan raut wajah penuh kecemasan.Pria itu sangat cemas namun tetap bisa menyembunyikan semua karena jika tidak Ia mungkin tidak bisa bertindak cepat dengan memanggil Dokter secepatnya.


"Nona Riana mengalami masalah pencernaan," jelas Dokter.


Dokter pun memberikan resep obat lalu memberikannya kepada Erick."Setelah siuman beri Nona makan bubur, jangan makan asam, pedas serta bersantan," imbuh Dokter Anton.


"Terima kasih Dokter." Erick hendak mengantar Dokter Anton turun ke bawah namun Melati mendorongnya duduk karena dia yang akan mengantar Dokter Anton ke bawah.


Cukup lama Erick menatap wanitanya itu.Erick tidak habis pikir apa yang dilakukan Riana karena itu diluar batas kewajaran.


Riana perlahan membuka matanya mulai sadar."Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara lemah.


"Apa yang kau lakukan?" Bukan jawaban yang keluar dari mulut suaminya namun pertanyaan dengan raut menahan amarah.Pria itu langsung berdiri mengalihkan pandangannya ke jendela kamarnya.


Erick adalah pria yang sangat pintar walaupun seorang pria namun Ia tahu betul yang dilakukan Riana itu untuk apa.


Riana langsung bangkit memeluk tubuh Erick dari belakang.Entah kekuatan dari mana, tadinya merasa sangat lemah namun tiba-tiba berubah sangat kuat.