
Erick terbangun menyadari kepala seseorang tertidur di lengannya.Harum khas bunga langsung tercium saat mendekatkan kepalanya pada kepala wanitanya.
Di detik berikutnya Ia menyadari tubuhnya polos tanpa sehelai benang hanya selimut yang menutupi tubuhnya.Erick mengingat kejadian tadi malam, meskipun tidak begitu ingat namun Ia ingat semalam melakukan pergulatan panas.
"Mungkinkah?" gumamnya.Menyibak selimut yang juga menutupi tubuh istrinya.Di saat yang sama Riana terbangun saat menyadari prianya menatap tubuh polosnya.Segera Ia menarik kembali selimut itu kembali menutupi tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" pekiknya.
"Apa semalam aku memaksamu?" tanya Erick menatap Riana penuh.Ia menyadari perbuatannya pasti menyakiti jiwa dan raga istrinya.
Riana mengangguk.
"Maafkan aku, aku ..." Erick tidak bisa meneruskan kata-katanya karena terlalu malu dengan perbuatannya yang sudah mengingkari janjinya sendiri.
Saat itu Riana menggeleng menanggapi ucapan suaminya.
"Kau tidak melakukan kejahatan tapi kau hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi hakmu.Maafkan aku karena begitu egois." Riana menggenggam jari suaminya.Ia berjanji mula saat ini akan menyerahkan hidupnya di tangan pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Momen haru itu seketika membuat suasana menghangat.Tanpa aba-aba Erick kembali menggagahi Riana.Rasanya dunia dalam genggamannya saat cintanya diterima sepenuhnya hingga tidak ada pembatas antara keduanya.
.
.
Erick tumbang setelah pergulatan panas itu berakhir.Tubuhnya melemas dengan nafas yang semakin turun setelah sebelumnya nafasnya memburu cepat.
Drt ... drt.
Ponsel Erick bergetar membuatnya mau tidak mau bangkit untuk menjawab panggilan telepon yang sudah beberapa kali diabaikannya.
Erick terlihat serius saat menjawab panggilan telepon itu membuat Riana menatap penasaran.
"Siapa yang sakit?" Riana mendengar Erick mengucapkan rumah sakit saat menjawab teleponnya tadi.
"Ayahku sakit keras." Erick langsung bangkit memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Aku akan ikut bersamamu." Riana hendak bangkit.
"Kau tetaplah di rumah!" tegas Erick masuk ke kamar mandi.
Riana yang berniat menjenguk Ayah mertuanya itu hanya bisa menggigit jari dengan niatnya.Selama menikah Ia belum sekalipun bertemu dengan mertuanya bahkan saat acara pernikahan sebulan lalu mereka juga tidak hadir.
Riana menyadari statusnya sebagai istri Erick belum diterima oleh kedua orang tua Erick.Terlebih pernikahan yang terkesan dipaksakan itu oleh keduanya dibawah restu orang tua Erick tentu tidak akan mudah membuat orang tua Erick menerimanya.
Erick mencium kening Riana, muka bantalnya itu tetap cantik bagi Erick.
Braaakkk
Pintu kamar itu di dorong dengan keras dari luar.Terlihat Steve memasuki kamar itu.
"Mommy." Steve langsung berlari menjatuhkan tubuhnya diatas Riana.
"Steve, kau!" pekik Riana mendelik ke arah Steve, tubuhnya ditindih tubuh Steve terlebih perutnya.
Erick langsung mengangkat tubuh Steve dari tubuh Riana.
"Steve, kau tidak boleh melakukannya lagi.Ingat dalam perut Mommy ada adek bayi." Erick memperingatkan dengan lembut membuat Riana menatap puja.
"Semakin hari aku semakin mencintaimu," gumamnya.
"Maaf Mommy, maaf Daddy." Steve menunduk menyadari kesalahannya.
Erick mengacak kasar rambut Steve. "Jaga Mommy sama adek bayi ya selama Daddy pergi."
"Siap Daddy." Wajah Steve langsung berubah ceria karena kelembutan hati Dad Erick yang selalu sabar walaupun Ia berbuat salah.
Erick pun melangkah pergi
.
"Bagaimana keadaan Ayah, Bu?" cemas Erick.Saat itu Novi hanya menangis tidak menanggapi pertanyaan Erick.Joni sudah kritis nafasnya pun sengal.
"Kau harus memenuhi keinginan terakhir Ayahmu!" pekik Novi masih dengan air mata yang terus menitik.
Ayah Joni pun terlihat penuh harap menatapnya.
"Tapi Bu, Erick tidak bisa melakukannya!" tolak Erick dengan nada lantang.
Semakin lama nafas Ayahnya semakin sengal, air matanya pun menetes diantara kesakitan yang terus menyiksanya.Saat itu ayah Erick menggenggam tangan Erick sebagai harapan terakhirnya.
.
Ayah Agnes yang merupakan pemilik rumah sakit itu sudah berada di ruangan itu bersama dua orang saksi yang akan menikahkan Erick dan Agnes.
Erick ingin memberitahu Riana namun keadaan Ayahnya yang semakin parah membuatnya tidak punya waktu lebih.
Erick pun akhirnya mengucap ijab qobul di depan Ayahnya.
"Sah," ucap dua saksi bersamaan.
Ayah Joni pun tersenyum dengan keinginan terakhirnya yang sudah terpenuhi.Semakin lama senyum itu memudar bersamaan monitor yang menunjukkan jantung berhenti berdetak.
Agnes langsung memeriksa kondisi Joni namun saat itu Ia melipat kedua tangan Joni di dada menandakan pria itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
"Ayah!" pekik Erick mengguncang tubuh Ayahnya begitu juga dengan Novi yang terus menitikkan air matanya.
.
.
Selesai pemakaman Novi terlihat melamun karena rumahnya pun sudah sepi dari pelayat yang datang.Ia tidak menyangka suaminya sudah meninggalkannya untuk selamanya.Tidak ada lagi tempatnya mengadu hanya air mata yang akan menemani hari-harinya.
"Bu sebaiknya, Ibu ikut tinggal bersamaku," tawar Erick.
"Ibu akan tinggal bersama Agnes, Ia menantu Ibu sekarang." Novi menatap Agnes yang berjalan ke arahnya.
"Erick tidak serius menikahi Agnes, Bu.Lagian aku juga sudah punya istri," sangkal Erick.
"Mungkin kamu tidak menerimaku, Erick.Pernikahan ini sah, saat ini aku istrimu di mata agama.Kau jangan mempermainkan pernikahan kita."
Sebaiknya kau antar aku dan Ibu ke apartemen kita," timpal Agnes.Ia menuntun Novi keluar dari rumah itu menuju mobil.
"Kenapa jadi seperti ini?" gumam Erick.Sebelumnya Erick sudah memberi tahu Riana tentang Ayahnya yang meninggal.Erick juga meminta waktu untuk membawa Ibunya pindah ke rumahnya namun nyatanya Ibunya tidak bersedia tinggal dengannya.
Satu jam akhirnya Erick, Agnes serta Novi sampai di apartemen milik Agnes yang cukup mewah.
"Bu, lebih baik Ibu ikut tinggal bersamaku." Erick menahan tangan Ibunya yang akan memasuki kamarnya di apartemen itu.Novi menepis tangan Erick berlalu pergi bersama Agnes.
Erick tidak tahu lagi harus melakukan apa.Semua begitu cepat hingga diluar kendalinya.
"Kau jaga Ibuku, sampai terjadi sesuatu pada Ibuku, aku tidak akan-"
"Kenapa kau memasrahkan Ibumu padaku, kau yang harusnya menjaganya!" potong Agnes dengan ketus.
"Kau pasti senang dengan kondisi ini tapi ingat, aku akan membawa Ibuku keluar dari sini!"
Pria itu melangkah pergi meninggalkan Agnes yang menatapnya kesal.
"Aku akan pastikan kau akan bertekuk di lutut di hadapanku," seringai licik Agnes.
Agnes cukup puas dengan statusnya saat ini yang sudah sah secara agama menjadi istri Erick.Perlahan ia akan menggeser posisi Riana menjadi posisinya.
Flash Back On.
Seminggu setelah pernikahan Erick dan Riana, Agnes berkunjung ke rumah orang tua Erick.Wanita licik itu datang bersama Papanya menagih janji atas kesepakatan kedua keluarga itu.Nyatanya Joni tidak bisa membuat putranya memenuhi janji itu dan malah putranya itu menikahi wanita lain.Joni yang berhutang budi dengan Papa Agnes merasa sangat terbebani.Karena memikirkan semua itu membuat sakit jantungnya kambuh hingga akhirnya meninggal.
Flash Back Off.