
Erick pun penasaran apa yang ingin dikatakan Kakak iparnya itu hingga ikut terlihat serius.
Huweekkk
Riana menahan mulutnya saat tiba-tiba perutnya mual ingin memuntahkan isi perutnya.Riana segera berlari menuju kamar kamar mandi.
"Kau kenapa?" Erick yang mengikuti Riana menatap cemas wanitanya itu setelah memuntahkan isi perutnya.Riana hanya menggeleng selain mual kini kepalanya juga terasa berat.
"Kau sebaiknya istirahat, kau juga terlihat pucat." Erick membantu Riana dengan setengah memapah tubuh Riana kembali menuju kamarnya.
"Apa perlu aku panggilkan Dokter?" tawar Erick yang masih terlihat cemas.Saat itu Riana sudah berbaring di ranjangnya.
"Tidak perlu, setelah beristirahat aku akan baik-baik saja." Riana mencoba menarik bibirnya memperlihatkan senyumnya agar kecemasan di hati prianya itu hilang.Saat itu Erick hendak membaringkan tubuhnya di sebelah Riana.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya mengernyitkan dahi.
"Aku akan bersamamu, menjagamu," jelas Erick.
Riana tersenyum dengan perhatian yang diberikan suaminya itu namun itu terlalu berlebihan."Kau pergilah ke kantor, hari ini Angela akan kembali ke kantor!"
Setelah sepuluh hari cuti karena merawat orang tuanya yang sakit di Yogyakarta, Angela kembali.Sahabatnya itu bahkan tidak berada disampingnya di hari bahagianya kemarin.Namun yang pasti tentang kabar bahagia itu Angela orang pertama yang paling bahagia.
"Lalu?" Erick menatap tidak mengerti.
"Dia pasti mencemaskan aku karena aku dan kau tidak ke kantor, aku akan baik-baik saja ada Mbak Mel juga, kan."
"Kenapa kau mencemaskan orang lain, Angel seharusnya tahu keintiman pengantin baru," keluh Erick sedikit kesal .
Cup
Riana mendarat kecupannya ke seluruh wajah suaminya lalu mengecup bibirnya sekilas.Erick yang merasa bergairah kembali ingin mengecup bibir Riana lebih lama namun ditahan Riana.
"Sudah sana pergi!"
Erick menuruti perkataan Riana karena jika tidak ia pasti tidak bisa menahan keinginannya sementara Riana sedang tidak enak badan.Ia lebih memilih kesehatan Riana segera pulih daripada menuruti nafsunya.
Sepeninggalan Erick Riana kembali mual , Ia segera berlari menuju kamar mandi.Setelah memuntahkan semua isi perutnya Riana termenung di tepi ranjang.Ia mengingat-ingat kapan terakhir kali datang bulan, setelah memeriksa di ponselnya hampir dua bulan tidak datang bulan.Kesibukannya membuatnya tidak mengingat sedikitpun.
"Oh my God, apa lagi ini.Bagaimana jika benar aku hamil?" Riana menutup mulutnya dengan telapak tangannya dengan pemikirannya itu.
Kembali ingatannya tertuju pada perbuatan Niko yang menggaulinya dengan paksa beberapa bulan lalu, mungkinkah kegiatan itu kini membuahkan hasil?
Riana segera bangkit, ia segera mencari tahu kebenarannya dengan melakukan testpack.Riana mengambil testpack yang tersimpan di lacinya mejanya.Ia memang membeli banyak alat itu beberapa hari sebelum menikah dengan Erick namun baru sehari menikah alat itu akan digunakannya.
Riana menunggu hasilnya dengan seksama perlahan satu garis nampak dan disusul satu garis lagi yang samar namun semakin lama semakin jelas.
Riana langsung terduduk lemas rasanya seluruh sendinya melemah hingga tidak mampu menahan berat tubuhnya.Air matanya perlahan menitik dengan derita yang terus saja membelenggu kehidupannya.Baru saja ia mereguk manisnya hidup dengan pria yang dicintainya kini masalah lain muncul.
"Bagaimana ini, Ya Tuhan," gumam Riana.
Tok ....
Tok ....
Belum lagi bisa mengatasi kekalutan hatinya seseorang mengetuk pintu kamarnya.Riana segera menyeka air matanya lalu membasahi wajahnya dengan air untuk menyembunyikan air matanya.
"Kau mau di periksa sekalian, Dokter Anton ada di kamar Mommy?" tawar Melati.
"Nggak perlu, Mbak.Aku sudah membaik dan aku sudah minum obat tadi," kilah Riana.
"Baiklah.Kau istirahatlah, kunci kamarmu agar Steve dan Juna tidak menganggu istirahatmu!" perintah Melati.
Riana mengangguk setelah itu Melati melangkah pergi.Riana langsung masuk kamarnya, Ia ingin memastikan hasil dari testpack itu hingga mencobanya berulang kali namun semua testpack itu menunjukkan hasil yang sama garis dua.
Riana tertegun dengan hidupnya, kedua kalinya ia kembali merasakan mengandung benih pria brengsek yang menghancurkan hidupnya.Setelah ini mungkin kah Ia mampu kembali melangkah maju apalagi dengan statusnya kini menjadi nyonya Erick.
Riana meremas perutnya yang masih rata itu.Ia ingin sekali menyingkirkan benih sialan itu dari rahimnya.
***
Seharian ini Riana terus berada di kamarnya dengan pemikirannya.Ia benar memikirkan harus menyampaikan kabar ini atau terus menyembunyikannya dari Erick.
"Seharusnya sedari awal aku tidak memikirkan untuk menikah denganmu Erick karena jika kepahitan yang akan kau dapat dariku, sebaiknya aku mengatakannya sebelum terlambat." Riana meyakinkan niatnya untuk menyampaikan semua pada Erick.Ia akan menerima apapun keputusan Erick.
Saat itu Erick memasuki kamarnya setelah pulang bekerja.Seharian ini bahkan ia terus menelepon wanitanya itu untuk menanyakan kabar.
"Bagaimana keadaanmu?" Erick duduk di tepi ranjang mengelus dan mengecup kening Riana.Sehari berpisah dari wanitanya itu, ia merasa sangat rindu bahkan rasanya seperti setahun tidak bertemu.
"Erick." Riana menatap lekat wajah Erick terlihat kecemasan juga kegelisahan di matanya.
"Ada apa?" Erick menjawab lembut untuk meredakan kegelisahan di hati istrinya itu.
Riana terdiam sesaat mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan kabar buruk ini.Hingga Ia yakin akan mengatakannya sekarang.
"Erick." Riana kembali terdiam membuat Erick semakin penasaran dibuatnya.
"Ada apa?"
"Tadi pagi Kak Riko ingin mengatakan apa?" kilah Riana, Ia tidak sanggup menyampaikan kabar buruk itu karena saat itu Erick nampak begitu bahagia.Senyumnya yang terus mekar membuatnya merasa tidak berdaya mengatakan semuanya.
Erick mengangkat kedua bahunya sebagai tanda tidak mengerti karena Ia juga langsung mengejar Riana yang berlari menuju kamar mandi hingga tidak mengetahui apa yang ingin dikatakan Kakak iparnya.
"Aku akan mandi dulu, kau tunggu sebentar ya?" Erick mengusap lembut wajahnya membuatnya di penuhi cinta.Erick memperlakukannya seperti seorang ratu, memanjakan dan meluapinya dengan cinta, bagaimana bisa Ia akan mengatakan hal menyakitkan itu padanya.
.
Setelah lima belas menit Erick keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya sementara dada bidangnya dibiarkan tanpa penutup.Riana menelan salivanya dengan susah payah saat menatap bulu-bulu halus yang memenuhi dada kekar prianya itu ditambah perutnya yang bergaris bak roti sobek semakin membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Riana ... Riana!" Beberapa kali Erick memanggil namanya namun wanitanya itu tidak menyahut membuatnya iseng ingin menggoda.Tubuhnya langsung mengungkung tubuh Riana membuat Riana semakin bergetar karena jantungnya berdegup kencang.
"Kau menginginkannya?" bisik Erick di telinga Riana dengan nafas hangat menyembul ke telinga.
Entah kebodohan apa saat itu Riana langsung mengangguk namun tangannya mendorong tubuh itu.
"Erick!" Riana yang sadar dengan perbuatan bodohnya, Ia langsung mendorong sepenuh tenaga tubuh Erick menjauh dari tubuhnya.
"Kita harus segera makan malam sebentar lagi pasti Mbak Mel memanggil kita." Riana kembali berkilah Ia tidak ingin kegiatan panas itu berlangsung mengingat waktu menunjukkan pukul tujuh malam, tentu itu tidak akan mendukung.
"Baiklah, aku akan memakai pakaianku dulu." Erick bangkit dari ranjang segera memakai pakaiannya.