
Tidak ingin menanggapi Ibunya lebih jauh, Erick lebih memilih segera masuk ke ruangan rawat itu.
Terlihat Riana menangis sesegukan membuat Erick merasakan pilu saat mendengar tangis itu. Pria itu mendekat ke arah Riana yang memiringkan tubuhnya ke kanan.
"Maaf," ucapannya penuh ketulusan.
"Tidak, bukan salahmu Erick mungkin ini memang takdir yang harus aku jalani karena aku tidak menginginkan dia sebelumnya." Pasrah Riana.
"Erick aku sudah memikirkan ini, aku ingin kita bercerai," ucapnya berat namun Riana sudah meneguhkan hatinya. Ia ingin memulai lembaran baru bersama Steve dan berjanji akan mulai bahagia tanpa memikirkan hal lain.
"Aku tidak mau!" tolak Erick menggenggam tangan Riana erat.
Dari pintu Novi menatap keduanya lalu keluar, memberi keduanya waktu bicara dari hati ke hati.
"Aku mohon Erick kebersamaan kita bukan sebuah kebahagiaan namun sebuah kesalahan. Kesalahan karena aku membiarkanmu mu masuk ke dalam hidupku yang suram. Mulai lah hidup yang baru bersama Agnes. Terima dia dan lupakan aku." Riana mengusap wajah pria yang menitikkan air matanya saat Ia berbicara.
"Izinkan aku membahagiakanmu tapi aku bukan pria sempurna seperti keinginanmu dan keluargamu. Aku pria hina." Erick menunduk dengan ucapannya.
"Dengar Erick aku melepaskanmu agar kau bisa bahagia dan aku juga bahagia. Waktu yang singkat bersamamu aku sangat bahagia. Terima kasih Erick."
Walau berat akhirnya Erick menerima permintaan Riana karena Ia sadar Riana menderita karenanya. Erick melepaskan Riana bukan tidak mencintainya namun karena Ia sangat ingin melihat wanita yang selalu ada di hatinya itu bahagia.
Sejatinya cinta itu tidak mengikat, tidak memaksa namun mencintai adalah bisa melihat orang yang kita cintai bahagia.
***
Beberapa bulan kemudian.
Setelah rangkaian sidang yang cukup panjang akhirnya Riana dan Erick kini berstatus bukan lagi suami istri.
Jauh sebelum Riana meminta cerai, Riana sudah memikirkan arah hidupnya ke depannya. Ia akan melepas hidupnya sebagai ratu bisnis menjadi wanita biasa di desa yang menjadi pilihannya. Riana berharap akan menemukan kebahagiaannya dengan cara itu. Kekayaan, jabatan hanya membuat hidupnya terlihat sempurna bagi orang lain namun menyiksa hidupnya. Riana akan memulai hidup nya dari nol dan melupakan semua kenangan masa lalunya yang kelam.
Diusianya yang menginjak 26 tahun bahkan Riana sudah menjadi janda. Tentu saja hal itu membuat keluarganya sedih tidak terkecuali Nani. Sebagai seorang Ibu, Nani jelas merasakan kegetiran hidup putrinya itu.
"Riana apa kau tidak ingin mempertimbangkan keputusanmu itu, Mommy tidak ingin kau kesusahan apalagi kekurangan, Nak." Nani menatap nanar wajah putrinya yang saat itu tengah berkemas memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Betul Riana, tetaplah disini. Mbak Mel, Kak Riko, Mommy, Juna dan Nayya, kamu semua menyayangimu." Melati juga sedih dengan keputusan Riana.
"Hidup ini sudah cukup mempermainkan aku Mbak, kali ini biarkan aku yang mempermainkan hidup." Riana berucap penuh keyakinan.
"Biarkan Riana mencari jalan kebahagiaannya tapi aku nggak yakin paling-paling seminggu bocah ingusan ini akan pulang. Dia tidak pernah kekurangan mana bisa hidup tanpa uang. Pemikiran yang konyol," ucap Riko sinis.
"Jangan ngomong gitu Mas, kita harus doakan Riana akan menemui jalan hidupnya yang lebih baik. Jika butuh sesuatu kau bisa hubungi Mbak Mel. Mbak Mel juga akan sering-sering mengunjungimu." Melati memeluk adik iparnya itu dengan erat lalu berlanjut ke Nani yang banjir air mata. Perpisahan itu akhirnya tak luput dari raung kesedihan dari keluarga itu.
.
.
Riana menaiki bis menuju desa tempatnya akan tinggal. Riko sebenarnya sudah menawarkan untuk mengantar namun Riana menolak karena ingin naik bis sesuai keinginannya. Sepanjang perjalanan Steve terus saja berceloteh. Bocah Lima tahun itu begitu antusias naik bis karena ini baru pertama kali bagi Steve naik kendaraan besar itu. Biasanya Steve selalu naik mobil yang menurut Steve bis lebih keren karena lebih besar begitu lah pemikiran polos seorang anak berumur lima tahun itu.
Setelah perjalanan dua jam akhirnya Riana dan Steve tiba di rumah yang sudah d belinya sebelumnya. bukan rumah mewah seperti rumahnya sebelumnya juga bukan rumah mewah seperti mansion milik keluarganya hanya sebuah rumah yang cukup sederhana.
"Mommy ini rumah siapa, rumahnya jelek." Steve menatap tidak suka.
Riana mensejajarkan tingginya dengan Steve.
"Steve ini rumah baru kita, kita harus bahagia memiliki rumah karena di luar sana banyak orang yang tidak memiliki rumah juga tidak bisa makan." Riana memberi pengertian. Satu hal yang positif bisa Ia rasakan dari keputusannya ini mengajarkan Steve untuk hidup sederhana. Sebelumnya Riana selalu memanjakan Steve dengan kekayaan hingga Ia lupa mengajarkan Steve hidup sederhana karena nyatanya kekayaan bukan tolak ukur kebahagiaan.
"Kenapa tidak punya rumah Mommy, apa mereka tidak kerja?" polos Steve dengan pertanyaannya.
Riana menggeleng dan tersenyum. "Mereka orang-orang yang kurang beruntung namun mereka selalu bersyukur dan itu yang Mommy ingin mengajarkan Steve untuk lebih bersyukur dengan keterbatasan."
"Mommy ngomong apa sih Steve nggak ngerti." Steve menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Suatu saat kau akan mengerti sayang, ayo masuk sudah mau Magrib." Riana mengelus kepala Steve lalu menuntunnya masuk ke dalam rumah itu.
Setelah membersihkan diri Riana merasa lapar namun karena di rumahnya tidak ada apapun untuk di masak Riana memutuskan untuk ke warung sekedar membeli mie instan.
Beberapa orang yang juga berbelanja ke warung sempat mengenali Riana namun Riana segera membantah Ia tidak ingin orang mengetahui siapa dirinya karena menurutnya Riana yang sering muncul di tivi itu sudah tiada.
"Tapi Mbak mukanya mirip banget sama Riana yang di tivi itu?" kekeh wanita itu.
"Riana itu kan kaya sedang saya, mana mungkin Riana tinggal di desa terpencil seperti ini," kilah Riana.
Akhirnya wanita itu setuju dengan Delia. Riana mengganti namanya sebelumnya menjadi Delia nama tengahnya.
"Mbak Delia mampir ke rumah saya nanti saya masakin yang enak-enak," tawar wanita bernama Reni dengan ramah sembari menunjuk rumahnya yang terlihat dari tempat mereka berdiri. Sungguh Riana merasa senang di tempatnya tinggal orang-orangnya ramah dan baik.
"Saya pasti mampir Mbak Reni."
"Ke rumah saya juga Mbak Delia, " tawar wanita yang satunya bernama Nita yang rumahnya berjarak beberapa rumah dari rumah Reni.
"Iya mbak terima kasih, saya pamit dulu ya anak saya sudah lapar."
Sejak tadi Steve sudah merengek mengajak pulang namun karena masih ngobrol Riana mengabaikan Steve.
Riana langsung memasak mie instan setelah sampai di rumahnya dan menyajikannya di meja makan.
Kali pertama bagi Riana memakan mie instan hidupnya yang selalu berlebih bahkan tidak sekalipun memakan makanan sederhana seperti mie instan.
"Steve mau ayam goreng, Mom." Steve tidak mau membuka mulutnya saat sendok berisi mie sudah berada di depan mulutnya.
"Ya sudah kalau nggak mau biar Mommy yang Maan sendiri. Mm enak banget." Riana memakan mie instan setengah di sedot-sedot ala-ala orang cina makan mie instan membuat Steve menelan ludahnya.
"Aku mau Mom." Steve langsung merebut mie di depan Riana dan langsung memakannya tentu saja dengan cara seperti Riana tadi.
Riana senang akhirnya Ia bisa membujuk Steve makan walau hanya dengan makanan seadanya dan sesederhana mie instan.
Riana dan Steve sudah berada di kasurnya yang cukup keras berbeda dengan kasurnya yang empuk. Benar-benar tidak nyaman namun. Riana berusaha mengesampingkan semua itu demi Steve juga. Ia ingin membuktikan pada Steve Ia Mommy yang kuat sekuat wonder women.