Perfect Life

Perfect Life
Bab 45. Luluh



Keluarga Erick tengah sarapan bersama.Semua orang di ruangan itu terfokus dengan piring masing-masing.


"Makan yang banyak, sayang biar baby nya sehat." Erick menaruh lauk ke piring Riana.


Mendengar ucapan Erick seketika novi menatap penuh Riana.


"Ibu, juga." Riana ikut menaruh ayam goreng ke piring mertuanya itu.


Novi tampak tidak bergeming dengan sikap Riana membuat Riana sedikit kecewa namun sesaat karena Erick menggenggam tangannya dengan senyum membuatnya merasa diberi kekuatan oleh suaminya itu.


Selesai sarapan Erick berpamitan pergi.Sepeninggalan Erick, Riana ikut duduk di sofa bersama mertuanya.


"Ibu ingin keluar atau-"


"Tidak," potong Novi cepat.


Riana pun tersenyum menyembunyikan rasa kesalnya namun Ia harus tetap mengambil hati mertuanya itu.


Riana melangkahkan menuju dapur.Ia membuatkan teh untuk mertuanya walau saat itu ada banyak ART namun Ia memiliki membuat sendiri.


Riana keluar membawa nampan yang berisi secangkir teh dan dua toples makanan ringan.


"Minum tehnya, Bu." Riana menyajikan teh di meja.


"Hem." Novi menjawab dengan dehaman.


Ia kembali duduk.


"Jika Ibu butuh sesuatu katakan saja padaku Bu," ucap Riana dengan senyuman.


Novi sedikit tersentuh dengan perlakuan manis Riana namun sesaat karena Ia kembali mengabaikannya.


"Walaupun, Ibu tidak menganggap ku tapi aku tidak akan menyerah," gumam Riana dalam hati.


***


Beberapa hari kemudian.Novi terus bersikap cuek pada Riana walau Riana selalu membalas kecuekan itu dengan sikap yang manis.


"Dimana Ibu?" tanya Erick saat melihat Ibunya tidak duduk di mejanya saat sarapan pagi.


Tok ... tok.


Riana mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar itu membuat Riana langsung masuk.


Terlihat mertuanya itu masih terbaring diatas ranjangnya dengan tubuh tertutup selimut seluruhnya.Terdengar juga rintihan dari dalam selimut itu.


"Ibu." Riana meraba kening Novi.Benar dugaannya, suhu tubuh mertuanya sangat panas.Riana segera menghubungi ART nya lewat sambungan intercom.Lima menit kemudian Erick naik ke kamar Ibunya.


"Kau sudah menghubungi Dokter, Erick?" panik Riana.


"Sudah," jawab Erick.


"Tunggu Ibu, aku akan buat bubur untuk Ibu agar Ibu bisa minum obat segera." Riana mendorong tubuh Erick untuk duduk menemani mertuanya itu.


"Kau bisa menyuruh pembantu, kan?" Erick menahan tangan Riana yang hendak melangkah pergi.


"Tidak, aku akan membuatnya sendiri untuk Ibu." Riana melanjutkan langkahnya.


Erick tersenyum dengan sikap perhatian istrinya itu.


"Ibu bisa lihat, menantumu itu sangat menyayangimu lalu apalagi yang Ibu cari?wanita seperti Agnes ya mungkin benar masih single namun Ia memperlakukan Ibu seperti seorang pembantu," jelas Erick menatap lekat wajah ibunya yang terlihat menahan sakit.


.


.


Setelah Dokter memeriksakan Novi, Riana segera menyuapi mertuanya dengan bubur yang dibuat oleh Riana sendiri.Riana begitu sabar melayaninya membuat Novi saat itu menitikkan air mata.


"Maafkan Ibu, Nak." Novi menggenggam erat tangan Riana yang masih memegang sendok.Air matanya juga menitik tidak kuasa menahan kesedihannya karena tidak menerima Riana sedangkan Riana sangat menyayanginya.


"Ibu untuk apa minta maaf sudah menjadi kewajiban Riana mengurus Ibu." Riana menyeka air mata mertuanya membuat Novi menarik tubuh Riana ke pelukannya.


"Mommy," pekik Steve memasuki kamar itu.


"Nenek, cakit?" Steve langsung memijat kaki Novi tanpa disuruh membuat Novi mengelus lembut kepala Steve. "Anak baik."


"Ibu tahu kenapa kau cinta mati sama wanita ini, kau memang tidak salah Erick," gumam Novi.Ia menatap lekat wajah Riana yang terus tersenyum menatapnya.