Perfect Life

Perfect Life
Bab 20. Melamar



Riana terdiam.


"Lamaranmu, kami terima Erick.Diamnya wanita itu adalah sebuah kesanggupan," sergah Riko.Spontan Melati mencubit paha suaminya karena begitu lancang berbicara padahal Riana belum menyetujui.


Namun Riana hanya diam tidak ada sangkalan dari mulutnya menandakan ia sepemikiran dengan Kakaknya.


"Kapan kalian akan menikah?" Nani menatap Erick sekilas lalu Riana.Begitu juga Erick menatap Riana beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan calon mertuanya itu.


"Kita akan saling mengenal dulu, Nyonya besar.Steve juga harus pelan-pelan di beritahu agar tidak syok."


Erick memang tidak ingin terburu-buru karena memikirkan Steve.Baru beberapa waktu menerima Niko sebagai ayahnya menggantikan Riko kini Ia harus mengenalnya juga sebagai calon papa, pasti Steve akan bingung pikir Erick hingga memilih untuk saling mengenal dulu daripada buru-buru menikah.


Mendengar itu Nani dan Riko semakin yakin Steve adalah pria terbaik yang dikirim Tuhan untuk mendampingi berlian keluarga Wijaya itu.


"Baiklah Erick, Mommy serahkan semua pada kalian berdua." Menatap Erick lalu Riana.


"Dan jangan panggil Nyonya, panggil Mommy," timpal Nani menepuk bahu Erick.Wanita yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu akhirnya bangkit meninggalkan ruangan itu.


"Ayo sayang." Riko menarik tangan Melati pergi menjauh dari pasangan baru itu.


Keduanya tampak terdiam karena salah tingkah dengan sikap masing-masing.


"Aku akan mengambil barang-barang ku di apartemen." Riana bergegas pergi.


Erick segera menyusulnya.


Mobil Erick melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan di sore itu.Keduanya tampak fokus dengan aktivitasnya masing-masing.Erick fokus mengendarai sementara Riana pikirannya masih tertuju pada keputusannya menerima Erick sebagai orang yang akan menjaganya seumur hidup.Ada keraguan di hatinya walaupun sebenarnya ia juga sangat menginginkan Erick sebagai calon Papa Steve.


Erick yang menatap Riana yang tampak termenung lalu menggenggam tangan wanita itu membuyarkan pikiran Riana.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Erick menatap Riana sekilas.


"Tidak.Aku hanya-"


"Kau tidak perlu banyak berpikir tentang hubungan kita, kita jalani saja semua seperti air mengalir.Mulai sekarang aku minta jangan pernah lagi menitikkan air matamu yang berharga, kau mengerti?" Pria itu berkata penuh kelembutan membuat Riana semakin dibuat berharga oleh pria yang satu ini.


Riana tahu betul pria seperti apa Erick.Pria yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya sendiri dan kadang terkesan dingin namun dibalik semua itu Ia adalah pria perhatian yang memperlakukan wanitanya seperti seorang ratu.


Mobil Erick kini sudah terparkir tepat di depan apartemen yang Riana tuju.Riana segera turun namun sebelum turun ia berkata, "Kau tunggulah disini, aku tidak akan lama!"


Riana segera berlalu menuju unit apartemennya.Setelah masuk ke apartemennya, Riana segera mengemas barang-barang yang tidak begitu banyak masuk ke dalam koper.


Riana langsung bergegas pergi namun saat beberapa langkah Ia melihat sosok pria yang begitu ia kenali keluar dari lift bersama seorang wanita.Riana segera bersembunyi agar tidak diketahui.Pria itu adalah Niko yang bergandengan mesra dengan seorang wanita menyusuri koridor apartemen itu.Unit apartemen Niko berada tepat disebelah milik Riana.


"Kau memang tak pernah berubah.Aku menyesal mempercayaimu begitu saja!" Riana menatap pria itu hingga hilang masuk dalam apartemennya.Saat itu air matanya menitik begitu saja karena harapan tinggallah harapan yang tidak akan terwujud.


Riana segera bergegas pergi karena ia hampir saja melupakan Erick yang menunggunya namun sebelum pergi ia menghapus air matanya.Ia tidak ingin air matanya dilihat Erick.


Keduanya berlalu pergi setelah masuk ke dalam mobil.Erick sebenarnya mengetahui kedatangan Niko dan seorang perempuan yang masuk ke lobby apartemen namun Erick berharap Riana tidak mengetahuinya hingga ia tidak menceritakan apa yang dilihatnya tadi.