
Dampak scandal besar itu akhirnya membuat saham di perusahaan Wijaya grup anjlok mencapai hampir 50 persen membuat perusahaan itu semakin di terpa isu kebangkrutan ditambah proyek besar yang dipegang Riana yang menghabiskan dana memperburuk keadaan.
Pagi itu Riko terlihat termenung di meja kerjanya setelah semalam ia tidak bisa memejamkan matanya karena masalah ini.
Drt ... drt ... drt
Ponsel Riko bergetar.Riko langsung menjawab panggilan telepon dari Erick.Keduanya berbicara panjang lebar mengenai masalah ini.Ya Erick merupakan tangan kanan Riko segala sesuatu tentang perusahaan Erick lah pengambil keputusan kedua setelahnya.Dari Erick juga Riko akhirnya bisa menentukan ke arah mana perusahaannya yang hampir bangkrut itu dibawa.Scandal ini benar-benar akan meluluh lantakkan perusahaannya jika tidak ditangani tepat sasaran.
Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan Erick.Riko kemudian menghubungi anak buahnya untuk melakukan tugas yang ia berikan.
Melati memasuki ruangan suaminya itu perlahan karena terlihat suaminya sedang berbicara dengan seseorang.
"Mas kita sarapan dulu, Mami sudah menunggu di ruang makan," pinta Melati.Ditatapnya wajah lelah suaminya walaupun saat itu masih pagi terlihat lingkaran hitam tergambar di bawah mata suaminya menandakan prianya itu tidak bisa istirahat dengan baik.
"Kau saja dengan Mami, aku tidak lapar." Riko menolak dan memutar kursinya menatap jendela ruang kerjanya.Saat itu wajah kekhawatiran yang begitu besar sengaja ia sembunyikan karena Ia tidak ingin keluarganya mengetahui kondisi perusahaannya saat ini.
Melati tidak diam begitu saja karena saat ini ialah yang dibutuhkan suaminya.Kehadirannya mungkin tidak membantu sama sekali namun Melati yakin dengan cinta yang begitu besar, Ia mampu menyalurkan kekuatan terbesarnya itu agar suaminya bisa menentukan arah jalan yang benar.
"Kau sedang mengacuhkanku atau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" Melati duduk di pangkuan suaminya dengan wajah mendongak keatas seperti sedang berpikir.
Melihat kekonyolan istrinya itu Riko menahan tawa.Melati pun ikut tersenyum akhirnya wajah kaku dengan banyak pemikiran itu kini melepas seiring senyum yang sedikit tergambar namun cukup merilekskan ketegangan pikirannya.
"Kau tahu, kau adalah penerang di keluarga ini jadi jangan sampai kau meredup dan kehilangan cahayamu." Melati mengusap wajah suaminya itu menghujaninya dengan kecupan membuat prianya itu semakin tersenyum lebar dengan perlakuan yang diterimanya.
"Kau memang pintar membangkitkan aku."
"Jelas saja karena aku semangatmu." Bangga Melati.
Riko langsung merubah posisi duduknya dengan Melati yang kini duduk tanpa membuang waktu pria itu langsung mencumbuinya.
"Apa yang kau lakukan!" pekik Melati mendorong tubuh Riko.
"Kau harus bertanggung jawab karena telah membangkitkan Riko junior," bisiknya.
"Ahh, kau!" Melati langsung bangkit dan menarik paksa suaminya keluar dari ruangan itu.
***
Di villa pribadi milik keluarga Wijaya yang sebenarnya pulau itu bernama pulau DD, Dewi Dreamland yang diambil dari nama Papi Riko, Denny Wijaya.Dreamland tanah impian karena pulau ini adalah impian Papi Riko
Di pulau DD itu ada puluhan pekerja yang diperkerjakan untuk mengurus tempat itu hingga membuat villa itu tetap terawat dengan segala fasilitasnya.
Riana duduk di kursi pinggir kolam renang yang tempat itu menjurus ke pantai.Udara pagi itu begitu menyegarkan raganya namun tidak dengan batinnya.Semalamam bahkan Riana terus terjaga karena masalah yang sedang menimpanya.
Erick terlihat menatap Riana dari kejauhan perlahan mendekat.
"Aku membawakan sarapan untukmu."Erick meletakkan nampan berisi setangkup sandwich serta segelas jus jeruk.
"Kenapa kau mengatakan hal bodoh itu lagi!" pekik Erick menatap tajam ke arah Riana.
"Aku selalu dan selalu membuat masalah untukmu.Kau bisa meninggalkanku karena tidak ada alasan lagi kau bersamaku.Sebentar lagi semua ini, perusahaan bukan menjadi milikku." Riana menatap sekeliling villa itu dengan tatapan sedihnya.
"Bicara apa kau, semudah itu kau menyerah!kau yang mengembangkan perusahaanmu menjadi perusahaan besar bahkan memiliki anak cabang dimana-mana lalu kau menyerah begitu saja dengan masalah sekecil ini!" Erick kecewa dengan sikap yang ditunjukkan Riana."Ingat kau si ratu bisnis tidak ada yang boleh menjatuhkanmu!" tegas Erick.
"Apa lagi yang bisa aku lakukan selain menyerah.Jangan kau pura-pura tidak mengetahui dampak besar yang dialami perusahaan!" pekik Riana dengan nada yang sama dengan Erick.
Riana tahu betul dampak yang ditimbulkan dari masalahnya.Semalaman ia berpikir bagaimana bangkit dari scandal itu namun Ia menyadari itu bukan sebuah isu semata karena nyatanya scandal itu benar adanya.
"Tapi aku tidak menyerah semudah itu, aku akan buktikan!" Erick berkata penuh keyakinan.
Mendengar Erick berkata penuh keyakinan Riana merasa bersemangat untuk berjuang bukannya menyerah di dalam keterbatasan.
"Kau sudah makan?" Riana mengambil setangkup roti panggang itu lalu menyuapkan ke mulut Erick.Erick pun mengigit dengan gigitan besarnya.
"Wah kau membawanya untukku atau untukmu sendiri." Riana langsung mengigit sandwich itu sebelum direbut Erick karena pria itu berusaha merebut sandwich itu dari tangannya.
"Berikan padaku, nanti akan aku ambilkan lagi, sebanyak gunung itu?" Erick menunjuk sebuah gunung yang nampak jelas dari tempatnya berada.
"Wah, kau ingin membuatku sebesar itu." Riana menggeleng tidak percaya.
Pagi itu nampak kembali ceria setelah keduanya bercengkrama di sela-sela sarapan mereka.
.
.
Setelah sarapan keduanya menyusuri pantai pasir putih itu.Tempat itu memang luar biasa tidak salah Papi Riana menggelontorkan budget yang sangat besar demi membuat pulau secantik ini.Setahun setelah pulau ini di miliki keluarga Wijaya, Papi Riana meninggal karena serangan jantung hingga belum cukup menikmati pulau impiannya Papinya sudah harus kembali ke pangkuan sang Khalik.
Disela-sela Erick menemani Riana, pria itu tidak tinggal diam dan bersenang-senang begitu saja namun Ia terus berusaha membantu Riko mengatasi masalah perusahaan dari jarak jauh.Erick menyewa jasa Hacker untuk mengalihkan scandal besar tentang Riana.Dalam waktu 24 jam bahkan isu yang diangkat beberapa Hacker itu naik menjadi trending topik melewati scandal Riana.Erick yang baru saja mendengar kabar itu dari anak buahnya tersenyum senang karena pengalihan isu itu akhirnya menelan kasus Riana hingga perlahan publik akan melupakan kasus itu.
"Siapa yang meneleponmu?" tanya Riana sesaat Erick kembali setelah menjawab panggilan teleponnya.
"Jangan lagi merisaukan semua karena perlahan aku akan membuatmu kembali duduk di singgasanamu." Erick terus tersenyum tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang menderanya kini.
"Apa maksudmu?"
"Kau harus berterima kasih dengan pangeranmu ini karena berhasil menggeser berita tentangmu." Bangga Erick.
Erick segera mengakses internet lewat ponselnya dan benar saja isu tentang Riana menurun jauh yang awalnya menjadi trending topik.
Melihat itu Riana sampai menitikkan air mata karena terharu.Pria itu begitu cerdik memanfaatkan kesempitannya menjadi solusi besar yang sangat berpengaruh pada isu yang ditimbulkan.
Di era ini memang kecepatan berita ditentukan oleh kecepatan internet dalam menyebar berita.Entah di kota atau di desa akses internet begitu cepat karena kemajuan jaman.Satu, dua orang kemudian menjadi jutaan orang menjadi Massa yang berperan penting dalam mengangkat isu kecil menjadi isu besar.