Perfect Life

Perfect Life
Bab 26. Bertemu Dengan Calon Mertua



Beberapa hari berlalu.


Hari ini Erick akan membawa Riana pergi menemui orang tuanya.Pria itu sudah tidak sabar ingin segera menikahi belahan jiwanya itu.Restu dari keluarga Riana pun sudah ia kantongi tinggal meminta restu dari orang tuanya semua akan beres.


Riana terlihat gugup dengan wajah tegangnya.Erick yang memperhatikan Riana menahan tawanya sesaat.


"Tenang saja." Erick tersenyum menatap wanita disebelahnya lalu menggenggam tangannya.


Riana pun mencoba tersenyum walaupun perasaannya tidak menentu.


Mobil Erick pun berhenti di sebuah halaman yang cukup luas namun sangat asri dengan berbagai tanaman sayur di sisi halaman juga berbagai macam bunga yang memenuhi teras.


"Ibumu pasti sangat suka berkebun," decak Riana.


"Ibu dan ayahku memang menghabiskan waktu mereka dengan berkebun.Diusianya mereka Yang hampir kepala enam, Novi ibu Erick dan Joni suaminya hanya menghabiskan waktunya dirumah sejak Erick melarang keduanya bekerja.Sepuluh tahun menjadi asisten pribadi dengan gaji yang mumpuni mampu memensiunkan ayahnya dari pekerjaan lamanya, Guru SMA.


"Ayo." Erick melingkarkan tangannya di pinggang, mengajak Riana masuk.Keduanya berdampingan masuk ke dalam rumah itu.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Erick mengetuk pintu.Tidak berapa lama sepasang pria dan wanita paruh baya menuju ke arah mereka.


"Erick, kau pulang, Nak." Novi memeluk putranya itu.Fokusnya langsung berpindah ke wanita cantik di samping Erick begitu juga ayahnya.


"Ibu, Ayah.Kenalkan ini Riana, calon istri Erick." Erick memperkenalkan Riana dengan senyumnya begitu juga Riana tersenyum menatap kedua orang tua Erick.


Riana segera menjabat tangan orang tua Erick namun saat ingin menjabat, ayah Erick mundur beberapa langkah sebagai penolakan.


"Sebaiknya kau bawa wanita ini pergi Erick!" tegas Joni terlihat tidak suka dengan kedatangan wanita yang bersama Erick.


Novi terlihat menenangkan emosi suaminya itu namun pria itu berlalu pergi ke ruangan lain.


"Erick kau tahu kan, ayahmu sudah menjodohkanmu dengan anak dari teman ayahmu," jelas Novi.


Mendengar itu Riana langsung keluar dar rumah itu.Jelas kedatangannya tidak diterima orang tua Erick.


Erick langsung menyusul Riana dengan mobilnya, Saat itu Riana terus saja melangkah tanpa memperdulikannya.


"Riana tunggu!"


Wanitanya itu tetap saja melangkah tanpa mau mendengarkannya.Erick segera turun setelah mobilnya terhenti.Dengan langkah seribu ia mengejar Riana.Erick menahan pergelangan tangan kekasihnya itu.


Jelas terlihat mata memerah dengan tetesan air mata menyiratkan kesedihan kekasihnya itu.Erick langsung menghapus air mata itu.


"Kau tahu kenapa aku tidak menceritakan ini sebelumnya?" pertanyaan sekaligus pernyataan dilontarkan pria itu sekaligus.


"Kau seharusnya berpikir seratus kali lipat untuk membawaku ke orang tuamu, jika kau tahu akhirnya akan seperti ini!" ketus Riana.


Pria itu malah tersenyum dengan kemarahan yang terlontar dari mulutnya.


"Kau tertawa, kau pikir ini lucu!" Riana semakin kesal karena Erick malah menertawakan semua kesedihan juga rasa sakit akibat penolakan kedua orang tua Erick.


Riana berusaha melepas pergelangan tangannya dari Erick namun pria itu tetap tidak mau melepasnya.


"Apa maksudmu, apa kita menikah tanpa persetujuan mereka?"


"Sebaiknya aku segera mengantarmu pulang karena hari sudah semakin gelap," sergah Erick menarik Riana masuk ke dalam mobilnya.


Keduanya kini sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang.


Sejak Erick bekerja di kantor Riko, Erick tinggal terpisah dari orang tuanya.Rumah Erick yang berada di pinggiran kota menyulitkannya jika harus pulang pergi memakan waktu satu jam.Erick memilih tinggal di apartemen yang tidak jauh dari kantornya.Sebulan sekali Ia mengunjungi orang tuanya untuk memberi uang bulanan dan juga melihat keadaan ayah dan ibunya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi?" desak Riana setelah cukup lama Ia mendiamkan pria itu.


"Apalagi kau tahu jawabannya," singkat Erick.


Riana tertegun mendengar jawaban erick yang membuatnya harus berpikir.


"Cukup lama aku menunggumu bertahun-tahun.Jika aku menyetujui permintaan ayahku aku pasti sudah menjadi suami orang," ungkap Erick.


Riana seakan tersayat hatinya mendengar ungkapan dari kekasihnya itu.Selama ini Ia bahkan tidak menganggap pria itu.Pria yang selama lima tahun menunggunya dengan setia tanpa kejelasan darinya.


"Erick." Riana berkaca-kaca menatap pria itu membuat Erick langsung menepikan mobilnya.


Riana langsung memeluknya. "Maafkan wanita bodoh ini Erick, aku tidak menyangka selama ini kau menungguku tanpa kejelasan."


"Aku mencintaimu Riana dan aku tidak rugi sedikitpun jika memang kita tidak ditakdirkan bersama karena melihatmu bahagia, aku sudah bahagia," ungkap Erick tulus. "Namun setelah sekian lama kesempatan ini datang, aku tidak akan menyia-nyiakan begitu saja." Erick menatap lekat wajah cantik Riana.


Keduanya kembali berpelukan mesra.


Sebelum Erick membawa Riana ia sudah meyakinkan hatinya, apapun yang terjadi ia akan tetap menikahi wanita itu meski tanpa restu kedua tuanya.Ia yakin Riana adalah wanita terbaik yang tidak bisa di gantikan dengan siapapun.Lambat laun kedua orang tuanya akan mengerti dan menerima pernikahannya.


Erick melangkah menuju mansion milik keluarga Riana dengan bergandengan mesra dengan Riana.Erick akan mengutamakan niatnya untuk segera memperistri Riana dalam waktu dekat.


"Mommy." Steve berlari ke arah Riana sementara Riana langsung membungkuk menerima pelukan dari putranya itu.


"Mommy dari mana sama Papa?" celetuk Steve dengan pertanyaan namun bukan pertanyaan yang membuat pasangan kekasih itu melotot namun sebutan papa terlontar dari mulut Steve.


"Papa." Riana mengulang ucapan Steve.


"Iya Mommy, Papa Erick." Steve terlihat menarik jas pria yang Ia sebut sebagai papa.Steve mengulurkan tangannya ingi di gendong Erick.Pria itu langsung menarik tubuh Steve naik ke gendongannya.


"Kak Riko!" pekik Riana menyadari siapa dibalik ucapan-ucapan aneh Steve beberapa hari ini.


"Aku mendengarmu!" Riko keluar dari ruang kerjanya sementara Melati yang mendengar pekikan Riana terlihat menuruni tangga bersama Nayya dan Juna.


Mereka sudah duduk di sofa ruang tamu beserta Nani yang langsung dipanggil Art-nya tadi sesuai perintah Riana.


"Kau seharusnya berterima kasih padaku, Riana." Riko melayangkan protesnya karena tidak terima dengan pekikan dari mulut Riana tadi.


Secara tidak langsung memang Riko membantunya menyelesaikan masalah karena Ia tidak harus menjelaskan kepada Steve tentang hubungan seriusnya dengan Erick.


"Baiklah Kak, aku menyerah.Kau menang sekarang," pasrah Riana membuat Riko tersenyum bangga.


"Baiklah kami berdua mengumpulkan kalian semua karena kami ingin mengatakan sesuatu."


Saat itu seluruh orang di mansion itu berkumpul mendengar pidato dari pasangan yang akan segera menikah itu termasuk beberapa art juga pengasuh ketiga malaikat kecil di keluarganya itu.


"Kami memutuskan akan menikah Minggu depan," jelas Riana.