Perfect Life

Perfect Life
Bab 41. Jebakan Agnes



Tengah malam Erick pulang ke rumah setelah seharian mengalami kejadian yang cukup membuatnya terpukul hingga membuatnya juga tersudut.Namun Erick tidak ingin membuat masalah ini semakin besar.Ia akan merahasiakan pernikahan keduanya yang benar-benar dilakukannya dengan terpaksa.Erick akan mencari cara untuk membawa Ibunya keluar dari apartemen Agnes setelah itu menceraikan Agnes.


Erick menatap wajah Riana yang terlelap dalam tidurnya.Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika istrinya tahu tentang pernikahannya dengan Agnes tanpa sepengetahuannya.


"Erick." Riana yang menyadari kepulangan suaminya menatap pria itu.Wajahya yang lesu juga raut penuh kesedihan begitu terlihat.Sebenarnya Riana ingin datang ke rumah mertuanya saat Erick menyampaikan kabar duka itu namun Erick melarangnya dengan alasan tidak ingin terjadi keributan disana.Riana yang memahami hubungannya dengan mertuanya akhirnya pasrah dengan larangan Erick.


"Dimana, Ibu?" Riana hendak turun dari ranjangnya namun tiba-tiba tubuhnya ditahan Erick.


"Ibu tidak ingin pindah kesini," kilah Erick.


"Kenapa kau tidak membujuk Ibu, kasian Ibu tinggal sendiri." Riana terlihat kecewa dengan sikap suaminya yang membiarkan mertuanya tinggal seorang diri.


"Sudahlah, kita akan pikirkan cara agar Ibu mau tinggal disini," ucap Erick dengan nada lesu.Ia tidak cukup punya tenaga untuk berdebat lagi.Hari ini hari yang cukup berat dalam hidupnya.


"Maaf Erick." Riana memeluk tubuh kekar yang begitu rapuh itu.Ia ingin menjadi kekuatannya dengan memberinya kasih sayang juga cinta.


***


Beberapa hari kemudian.


Sepulang kerja Erick mampir ke rumah Agnes saat itu hanya ada Novi karena Agnes belum pulang kerja.


"Ayolah Bu, ikut aku pulang ke rumahku.Disana ada menantu Ibu.Ibu juga tidak perlu melakukan semua ini sendiri." Saat itu Novi sedang mencuci piring setelah menyiapkan makan malam.Di apartemen mewah itu bahkan Agnes tidak memiliki pembantu hingga Novi yang mengerjakan semua pekerjaan pembantu dari mengurus rumah, memasak juga mencuci baju.


"Ibu melakukannya karena senang ," kilah Novi.Ia duduk di meja makan setelah menyelesaikan semua pekerjaannya.


Wajah tuanya begitu terlihat kelelahan.


"Kau harus bersikap adil dengan kedua istrimu, Agnes juga istrimu.Seharusnya kau juga memikirkan perasaanya," tutur Novi.


"Jika kau tidak bisa menceraikan istri pertamamu, paling tidak berlaku lah adil," timpal Novi.


Erick hanya termangu dengan perkataan Ibunya.Ia berpikir untuk menceraikan Agnes namun bagaimana dengan Ibunya.Ia harus memikirkan cara membawa Ibunya keluar dari apartemen itu lalu menceraikan Agnes karena Ia takut Agne akan melukai Ibunya.Agnes adalah tipikal orang yang mampu berbuat apapun demi memenuhi keinginannya.


Dari kejauhan, Agnes yang sudah pulang menguping pembicaraan keduanya.


"Nak Agnes sudah pulang, kau pasti lelah." Novi langsung mengambil alih tas juga jas Dokter yang ada di tangannya membawanya masuk ke kamarnya menantunya itu.


Perlakuan istimewa itu di tatap tajam Erick.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Agnes merasa pria itu sedang menghakiminya.


"Kau wanita licik.Kau perlakukan Ibuku seperti pembantu," tukas Erick.


"Siapa, aku?" Agnes menunjukkan dirinya sendiri dengan tuduhan Erick.


"Ayo kita makan Bu, aku sudah lapar." Agnes sengaja mengalihkan pembicaraan dengan menuntun Novi yang keluar dari kamarnya menuju meja makan.


Keduanya sudah duduk di meja makan sementara Erick masih berdiri di tempatnya.


"Erick makanlah bersama kami, kau belum makan, kan?" Novi bangkit dari duduknya menarik tangan Erick mendudukkannya di meja makan.Ketiganya makan tidak ada suara yang terdengar hanya saja perlakuan manis Agnes pada Novi membuat Erick merubah pemikirannya tentang wanita itu.


"Makan yang banyak, Bu.Ibu harus sehat-sehat agar bisa melihat cucu Ibu." Agnes melirik ke Erick sekilas lalu fokus mengambil lauk yang diletakkan ke piring Novi.Mendengar itu Erick memutar mata malas.


Setelah makan Agnes mencuci semua piring kotor sementara Novi dan Erick berbicara di ruang tamu.


"Kau lihat Agnes itu anak yang baik," puji Novi. "Beri kesempatan Agnes untuk menjadi istrimu, kau pasti akan mencintainya jika mengenalnya lebih dekat," tutur Novi.


Nyatanya mengenal Agnes sejak kecil tidak membuat pria itu mencintai wanita itu yang juga teman dari masa kecilnya.


Agnes menuju ke arah mereka dengan membawa dua gelas jus jeruk lalu menyajikannya di meja.


"Terima kasih, Nak." Novi segera meminum habis segelas jus jeruk itu.


"Ibu akan beristirahat, Ibu sangat lelah," kilah Novi.Ia sengaja membiarkan Agnes dan Erick berduaan.


"Kenapa kau tidak meminumnya, kau takut aku meracuni mu." Agnes menatap gelas milik Erick yang masih penuh isinya.


"Aku akan pulang, istriku menungguku." Erick bangkit dari duduknya.


"Sebelum kau pulang setidaknya kau minum dulu, aku akan meminumnya biar kau percaya aku tidak meracuni mu." Agnes meneguk jus itu sedikit setelah itu memberikannya pada Erick.Erick pun segera meminum jus jeruk itu karena tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.Ia sudah sangat merindukan Riana.


Erick meletakkan gelas yang sudah kosong kembali ke meja.Di detik kemudian Erick merasa berkunang-kunang dengan matanya membuatnya mengucek matanya beberapa kali.


"Riana kau." Erick langsung memeluk tubuh wanita di depannya ******* bibirnya penuh tuntutan.Keduanya masuk ke dalam kamar.


.


Tubuh Erick tumbang saat pelepasan untuk ketiga kalinya sementara Agnes senang akan rencananya yang berjalan lancar.Pria yang berstatus suaminya itu akhirnya melakukan tugasnya sebagai suami dengan pengaruh obat perangsang premium.


"Tidak salah aku membelinya dengan harga yang mahal jika sebagus itu efeknya," gumam Agnes.


.


.


Erick terbangun saat alarm di ponselnya terus berbunyi.Ia menatap ponselnya sekilas.Seperti biasanya Ia akan mencium harum rambut istrinya namun kali ini Ia mencium harum berbeda dari rambut istrinya.


"Apa mungkin dia ganti sampo," gumam Erick.


"Kau sudah bangun?" Wanita di sebelahnya itu mendongak ke wajahnya.


Deg


Spontan Erick langsung bangkit saat wanita yang berada disampingnya itu bukan Riana melainkan Agnes.Menyadari tubuhnya polos tanpa penutup Erick langsung memungut bajunya yang berserakan di lantai dan langsung memakainya.


"Apa yang kau lakukan, kenapa?" cerca Erick dengan apa yang mungkin dilakukan keduanya.Agnes bangkit menuju ke arahnya walaupun polos tanpa penutup Agnes melangkah santai memperlihatkan body gitar spanyol nya.


"Kau gila!" Erick mengalihkan pandangannya walaupun tanpa ia sadari cacing absurd nya sudah bereaksi saat melihat tubuh polos Agnes.Ia menelan salivanya dengan susah payah.


"Kau ini kenapa, bukannya kau sudah menikmati semua malam tadi.Kau lupa malam tadi kau begitu ganas," bisik Agnes.Wanita itu mendekap tubuh prianya membuat sengatan aneh langsung menjalar ke seluruh tubuh Erick.Tangannya bergerak ingin meremas sesuatu yang padat yang begitu menggodanya.


"Sadar Erick, Riana menunggumu di rumah." Ingat Erick dalam hatinya.


Spontan Erick mendorong tubuh Agnes.Ia langsung memakai seluruh pakaiannya dan langsung beranjak pergi meninggalkan Agnes yang tersenyum penuh kemenangan.


Erick bergegas pergi namun tiba-tiba suara Ibunya menghentikannya.


"Erick, kau sudah bangun?" Novi menyadari semalam Erick menginap saat menyadari sepatunya masih berada di rak sepatu apartemen itu.


Erick melanjutkan langkahnya tanpa bergeming dengan pertanyaan Ibunya.


Sesudah berada di mobilnya Erick mengecek ponselnya.Beberapa kali panggilan juga pesan singkat dari Riana memenuhi layar ponselnya.Erick segera memacu mobilnya menuju rumahnya.


Saat diperjalanan Erick kembali mengingat kejadian semalam kenapa Ia bisa berakhir di ranjang bersama Agnes dan melakukan hal yang tidak akan mungkin dilakukannya dengan sadar.


"Oh." Erick menyadari kelicikan Dokter spesialis jantung itu yang sudah menjebaknya dengan jus jeruk hingga setelah meminumnya Ia menjadi tidak kontrol akan dirinya sendiri.Ia malah merasa melakukan hubungan suami istri itu dengan Riana.