
Riana bergegas pergi setelah pekerjaannya selesai langkahnya mengayun meninggalkan Erick yang masih berada di ruangannya setelah rapat keduanya berakhir.
"Tunggu Riana!
Riana menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Erick.
"Aku harus pulang, Steve-"
Erick yang sedari pagi menahan emosinya diluapkan begitu saja dengan menarik paksa tangan Riana menghempasnya ke tembok, tubuhnya langsung mengungkung Riana.
"Apa yang kau lakukan, jangan kurang ajar!" Riana berusaha keluar dari kungkungan tubuh Erick namun pria itu semakin mendekat membuat keduanya tak berjarak.Pria itu mendaratkan kecupan menuntutnya dibibir Riana.Diluar ekspektasinya yang mengira Riana akan menolak, Riana bahkan mengimbanginya membuat aktivitas itu begitu nikmat walaupun hanya sebuah ciuman.
Tamparan keras tiba-tiba mendarat sesaat setelah Riana mendorongnya.Erick bahkan terperangah dengan aksi Riana yang tiba-tiba berubah, penuh kelembutan berubah hempasan begitu kuat.
"Disini, aku atasanmu!Jangan berani kurang ajar!" pekik Riana dengan suara lantang.
"Kau menolakku karena pria itu, kau bahkan melakukan semuanya untuk bisa membahagiakannya!" pekik Erick. Riana yang saat itu sudah mengayun langkahnya tiba-tiba menghentikan langkanya.
"Aku akan mengundurkan diri," timpalnya.
Riana kembali melangkah tanpa menengok sedikit pun ke arah pria itu.
"Maafkan aku Erick, kau pantas mendapat gadis yang lebih baik dariku," batinnya.Langkahnya terus mengayun meninggalkan tempat itu.
Sementara Erick terlihat kesal melihat wanita yang dicintainya itu berlalu begitu saja.Ia terus saja mendapat penolakan walaupun sudah berkali-kali menyatakan perasaannya.
.
.
Riana memasuki mansionnya dengan langkah berat.Ia begitu lelah dengan banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakannya hari ini.Tiba-tiba langkahnya di hentikan Riko yang berdiri diujung tangga dengan tatapan penuh amarah.Lagi-lagi Riko tak habis pikir dengan pemikiran konyol adiknya itu.
Riana melewatkannya begitu saja namun dengan cepat Riko menahan pergelangan tangannya. "Kau hutang penjelasan padaku!" Riko menarik tangan Riana menuju ruang kerjanya karena tidak ingin perdebatannya kali ini di dengar orang lain.
Riko mendorong Riana ke kursi setelah berada di ruang kerjanya.
"Ada apa lagi Kak, aku sangat lelah," keluh Riana.Riana bahkan memejamkan matanya yang terasa berat, menganggap kemarahan di wajah kakaknya sebagai hal biasa.
"Riana!" sentak Riko membuat Riana langsung terjaga. "Kau keterlaluan, kau lupa siapa Niko!" ucapnya menggebu-gebu menahan amarah yang sebenarnya ingin meledak dengan kuat saat itu.
Riko bukanlah pria yang mudah dibodohi.Pria itu mempunyai banyak mata, membuatnya mengetahui jelas apa yang dilakukan Riana dibelakangnya.
"Kenapa Kakak harus berteriak-teriak, aku mendengarmu!" ketus Riana.
"Karena perbuatanmu itu, aku rugi besar.Semudah itu kau percaya bajingan itu!" tambahnya masih dengan emosi yang sama.
"Apa salahnya Kak, aku melakukannya demi Steve.Kakak lupa Niko itu-"
"Hentikan omong kosongmu!Steve tidak membu-"
Riana bangkit dari duduknya dengan raut wajah sedih bercampur kecewa meninggalkan Riko begitu saja padahal saat itu Riko belum selesai bicara.
"Riana!" pekik Riko.Riana tetap saja melangkah tidak mengindahkannya.
"Bajingan itu kembali membuat ulah, kau lupa siapa aku!" gumam Riko.Matanya menatap satu sudut dengan tatapan penuh siasat.Kali ini Ia tidak akan melepaskannya seperti yang sudah-sudah.
Niko kembali berhasil menghasut Riana demi memenuhi ambisinya menjadikan Steve sebagai alatnya.Riko bisa mencium aroma kebusukan dari Niko karena pria itu tak pernah berubah.
"Riana."
Terdengar pekikan Melati dari arah luar membuat Riko yang masih berada di ruang kerjanya bergegas keluar.
"Ada apa?"
Riko menatap sekeliling hanya ada Melati yang terlihat menenangkan Nayya dan Juna yang menangis kejer.
"Mas, kejar Riana, dia membawa Steve pergi bersamanya!" panik Melati menunjuk ke arah luar.
Riko segera berlari keluar namun sayang mobil Riana sudah melaju meninggalkan mansion itu.
"Riana!" Tangan Riko terkepal erat dengan aksi nekad adiknya itu.
.
.
Mobil Riana terus melaju tanpa arah tujuan.
"Mommy, Steve ingin pulang," rengek Steve.Selama di mobil Steve terus saja merengek pulang membuatnya tidak bisa berpikir.
"Diam Steve!" Kesabarannya sudah habis untuk pertama kalinya ia membentak Steve.Seketika Steve menangis karena suara kerasnya.Riana menghentikan mobilnya di depan hotel.
"Maaf sayang." Riana langsung memeluk Steve sesaat mobilnya berhenti.Setelah Steve cukup tenang, Riana masuk ke lobby hotel itu untuk check in.Riana langsung menuju kamar diantar pegawai hotel itu setelah selesai check in.
"Tidurlah Steve," pinta Riana saat keduanya sudah berbaring di ranjang.Keduanya langsung terlelap dalam tidurnya.