
Riana memasuki ruangan ICU namun ruangan itu terlihat kosong membuat Riana histeris dan menangis.
"Niko.Niko!" pekiknya.
Riana terkulai jatuh ke lantai saat itu tenaganya seketika hilang dengan kenyataan yang ada di depannya.Air matanya menitik deras bahkan tangisnya semakin keras menyadari kini putranya menjadi yatim.Riana memukul-mukul lantai itu melampiaskan kesedihannya.
Beberapa perawat mencoba membantunya bangkit dari lantai.
"Ada apa Bu?" tanya seorang perawat yang merasa aneh dengan tangis Riana.
"Dimana kamar jenazah?" tanya Riana sambil menghapus air matanya.
"Maksud Ibu Riana, Pak Niko?beliau sudah sadar dan di pindah keruang perawatan," terang perawat.
Seketika Riana terbelalak dengan ucapan perawat itu karena Riana berpikir Niko sudah meninggal mengingat ruangan itu sudah kosong.
Setelah mendengar penjelasan dari perawat itu Riana langsung menuju ruang perawatan Niko.Perlahan Riana memasuki ruangan itu namun hanya beberapa langkah Riana berdiri cukup jauh dari Niko.Ada raut kebahagiaan di wajahnya tapi juga ada kesedihan karena pria itu mungkin akan kembali menekannya dengan semua keinginannya.
"Kau akan tetap disana?"
Niko berkata dengan lembut lalu tiba-tiba Niko merintih memegangi kepalanya.Riana yang melihat Niko kesakitan langsung berlari mendekat.
"Apa ada yang sakit?" Riana terlihat sangat cemas. "Dokter!" pekiknya.
Tiba-tiba Niko memegang tangan Riana. "Aku baik-baik saja," ucap Niko dengan senyum meringis menahan sakit.
"Dimana putraku, aku bermimpi dia datang kemari berdoa untukku.Putraku sangat tampan kan?" ucap Niko.
Niko kembali merintih kesakitan memegangi kepalanya.
"Steve, aku akan mengajaknya kesini besok.Dia pasti senang melihatmu sudah sadar," timpal Riana.
Riana menatap wajah Niko dengan mata terpejam karena saat itu pria itu kesakitan di bagian kepala.Riana sangat bersyukur Niko melewati masa kritisnya dan berharap pria itu akan segera sembuh.
Beberapa hari dirumah sakit tidak ada anggota keluarga pun yang menjenguknya membuat Riana selalu datang.Niko sebatang kara, ayahnya meninggal karena depresi akibat perusahaannya bangkrut sementara ibunya pergi setelah mengetahui suaminya jatuh miskin.
***
Keesokan paginya.
Riana sedang memakaikan baju Steve karena Riana ingin membawa Steve menemui Niko.Riana tersenyum menatap Steve yang sudah rapi.Senyumnya mengembang menatap wajah tampan putranya lalu mendaratkan kecupannya di kedua pipi gembul Steve.
Melati nampak berdiri mengamati keduanya.Ada rasa bersalah dalam diri Melati karena perbuatan suaminya yang melampaui batas hingga membuat ayah kandung Steve kritis. "Riana, Mbak Mel akan ikut denganmu."
"Tetaplah dirumah Mbak kalau Kak Riko tahu pasti marah," ucapnya sedikit ketus.
Melati menyadari perubahan sikap Riana itu normal.Sikapnya memang sedikit berbeda karena keramahannya itu berubah menjadi ketus setelah insiden itu.Riana juga tidak betah saat berada dirumah karena Riana lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dan dirumah sakit.
Riana melangkahkan kakinya sambil menggandeng tangan Steve begitu saja tanpa memperdulikannya.
"Riana tunggu!" pekik Melati.
Riana menghentikan langkahnya membalikkan badannya menatap kakak iparnya itu.
"Maafkan Kakakmu semua yang dilakukannya hanya untuk melindungimu, kau tahu Kakakmu begitu menyayangimu," jelas Melati berharap Riana memahami.
Riana mendekat lalu memeluk kakak iparnya yang terlihat menitikkan air mata.Terlihat raut kesedihan dari wajah cantik kakak iparnya itu. "Aku tahu mbak kak Riko sangat menyayangiku namun aku butuh waktu untuk menenangkan diri." Riana mengurai pelukannya lalu melangkahkan pergi.