Perfect Life

Perfect Life
Bab 6. Kembali Berhutang Nyawa



Sesampainya dirumah Riana langsung menuju kamarnya.Wanita itu langsung saja masuk ke dalam kamar mandi.Riana yang masih berpakaian lengkap langsung menguyur tubuhnya dengan air.


Pria brengsek itu kembali menggaulinya secara paksa namun bukan bayangan pria itu yang kini memenuhi benaknya tapi Erick.


Erick saksi hidupnya.Kali kedua Erick kembali menyelamatkan dirinya yang sengaja menantang maut.


...Teruslah pergi sejauh kau mau, lari sejauh kau mampu karena itulah dirimu!...


Kata-kata itu terus saja memenuhi pikirannya.Selama ini dirinya selalu lari tanpa menyelesaikan semuanya.


"Ya, aku memang selalu lari Erick karena itulah diriku, Riana si pengecut." Riana mengumpat dirinya sendiri yang selalu bodoh menyikapi semua masalahnya dengan terus berlari.


"Namun kali ini aku akan tunjukkan padamu, siapa aku," ingatnya pada dirinya sendiri.


Ya Riana sudah bertekad untuk melawan pria yang merusak hidupnya itu sampai titik darah penghabisan.


"Kau ingin merusak karirku, hidupku! sebelum kau lakukan itu, akan aku buat kau hancur terlebih dahulu!" Riana tersenyum menyeringai dengan semua keberaniannya.


Beberapa hari berlalu Riana kembali bekerja seperti biasa tidak ada yang berubah darinya namun dari hari ke hari Riana semakin bahagia karena semua masa lalu yang buruk Riana telah membuangnya jauh.Semenjak kejadian terakhir kali dengan Niko membuatnya sadar hidupnya adalah miliknya bukan milik pria brengsek itu.


Drt ....


Drt ....


Drt ....


Ponsel Riana bergetar.Tanpa ragu-ragu Riana menjawab telepon dari Niko.


Lagi-lagi pria diseberang telepon itu tertawa saat Riana menjawab teleponnya namun Riana tak kalah dari pria itu yang langsung membuat pria itu berhenti tertawa.


"Jaga tawamu karena aku takut kau tidak akan bisa tertawa lagi!"~Riana.


"Kau!apa maksudmu, berani sekali kau mengatakan hal bodoh itu padaku!"~Niko.


Riana tertawa sinis.


"Kau ingin aku hancur kan namun sebelum aku hancur, kau akan ku buat hancur lebih dulu!"~Riana.


"Brengsek!kau cari mati!"~Niko.


Tut ....


Tut ....


Tut ....


Riana tersenyum senang karena pria itu begitu sangat marah dan langsung memutus sambungan teleponnya.


Riana kembali memandangi berkas yang ada di mejanya dengan senyumannya.


"Kau akan membantuku terbebas dari pria brengsek itu." Riana kembali memasukkan berkas itu ke dalam stopmap lalu memasukkannya ke dalam tasnya.


Saat itu seorang wanita menatapnya sedih karena sahabat juga atasannya itu memutuskan untuk mundur dari perusahaan yang telah susah dibangunnya.


"Ri, apa tidak bisa kau mengubah keputusanmu itu?apa kau tahu kau sedang berada di puncak karirmu bukannya ini impianmu lalu kenapa sekarang kau-" Angela tidak meneruskan kata-katanya karena terlalu sedih dengan keputusan wanita di depannya itu.


Riana langsung memeluk sahabatnya itu. "Aku tidak menyerah hanya saja aku butuh waktu untuk bahagia.Aku terlalu sibuk hingga melupakan Steve."


Angela mengerti keputusan sahabatnya itu karena memang selama beberapa tahun ini Riana begitu sibuk mengejar karir hingga melupakan kebahagiaannya sendiri.


"Kau harus menikah Riana, aku yakin kau akan bahagia bersama pangeranmu itu." Angela mengurai pelukannya menatap lekat wajah Riana dengan senyum penuh keyakinan.


"Pangeranku, siapa?" Riana mengernyitkan dahi mendengar ucapan Angela.


Saat itu Angela hanya tersenyum karena sahabatnya itu tidak pernah mengakui perasaannya karena jelas-jelas Angela yakin akan hal itu.


Namun seketika langkahnya terhenti mendengar ucapan Angela.


"Kau masih saja tidak mengakui perasaanmu pada Erick."


Sudah lama Angela ingin mengutarakan keyakinannya itu agar sahabatnya itu menyadari perasaannya yang sama sekali tidak dianggapnya itu.


"Itu tidak benar, aku tidak pernah mencintainya." Riana mengelak.


Angela langsung menghadang langkah Riana ia tidak ingin kehilangan momen penting ini.


"Kau, mau sampai kapan membohongi perasaanmu sendiri!Jangan sampai suatu saat kamu menyesali keputusanmu ini, kau juga tahu Erick. mencintaimu sejak lama bahkan pria itu terus menunggumu beberapa tahun dan kini kau menyianyiakan begitu saja!kau akan menyesal Riana!" Angela berkata dengan lantang karena sahabatnya itu begitu egois.Angela ingin sahabatnya itu sadar namun Riana adalah Riana wanita keras kepala itu meninggalkannya begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.


Riana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi saat itu pikirannya kembali memikirkan ucapan Angela namun Riana sadar cintanya itu tak pantas untuk pria itu karena ia sadar wanita seperti apa dirinya.


Tiba-tiba mobil Riana dihadang mobil hitam yang langsung memotong jalannya dengan berhenti tepat di depan mobilnya.


Pengemudi mobil itu langsung turun menuju ke arahnya.Beberapa pria berpakaian serba hitam menarik tangannya dengan paksa.


"Siapa-"


Belum lagi menyelesaikan pertanyaannya Riana sudah di bungkam mulutnya dengan sapu tangan membuatnya tidak sadarkan diri.


.


.


Saat sadarkan diri Riana sudah berada di sebuah ruangan besar yang seperti gudang dengan duduk di kursi dengan tangan terikat juga mulut ditutup lakban.


Pria di depannya itu tersenyum menyeringai saat melihat Riana sadar.


Riana meronta-ronta dari tempatnya namun usahanya sia-sia karena di tempat itu tidak akan ada yang menolongnya.


Pria itu terus tertawa lebar melihat aksi Riana.


"Kau berani melawanku, rasakan akibatnya!" Pria itu mendekat dengan tawa penuh kemenangan.Seketika Riana mengalihkan pandangannya membuat pria itu murka melayangkan tangannya


Plakk ....


Plakk ....


Plakk ....


Tiga tamparan mendarat di wajah Riana seketika air matanya menitik.Riana pasrah akan hidupnya karena pria ini tidak akan melepaskan begitu saja.


Melihat Riana yang terlihat pasrah, Niko kembali tertawa.


"Apa kau tahu kenapa aku memperlakukanmu seperti ini?" Niko menatap wajah Riana dengan tatapan penuh kebencian.


"Aku sangat membenci kakak yang begitu menyayangimu itu hingga mempermalukan aku.Dia pikir siapa," timpalnya.


Niko kembali tersenyum puas karena berhasil membawa Riana untuk membuat pria bernama Riko itu bertekuk lutut di hadapannya.


Niko langsung menyuruh anak buahnya untuk menghubungi Riko namun ketika ingin berbicara tiba-tiba pintu gudang itu di dobrak dari luar membuat Niko memutus sambungan teleponnya.


"Siapa kau?" Niko menatap tajam beberapa pria yang mengganggu rencananya.


Tanpa basa-basi anak buah Erick segera menghajar orang-orang yang menghadang atasannya untuk menyelamatkan Riana.Anak buah Niko tumbang seluruhnya menyisakan Niko yang nampak ketakutan.Pria itu langsung lari kabut sebelum menjadi bulan-bulanan Erick dan anak buahnya.Saat anak buahnya ingin mengejar Niko, Erick menghentikannya membuat anak buahnya hanya menurut.


Ya, pria itu kembali menyelamatkan nyawa Riana entah apa yang terjadi padanya kalau Erick tidak datang.


Setelah kejadian terakhir Riana ingin bunuh diri, Erick memerintah anak buahnya untuk menjaga Riana karena Erick tahu wanita yang dicintainya itu sedang ada masalah.Saat anak buah Niko membawanya paksa anak buah Erick langsung memberitahunya.Erick segera bertindak untuk menyelamatkan Riana.