Perfect Life

Perfect Life
Bab 36. Kebijaksanaan Erick



"Maafkan aku Erick, aku tidak mampu mengatakannya padamu.Aku ...." Riana tidak sanggup meneruskan kata-katanya, melepas dekapannya.


"Sebaiknya kau tinggalkan aku sebelum terlambat!" imbuh Riana.


"Kau gila!aku tidak habis pikir, kau tega membunuh darah dagingmu sendiri."


Erick marah bukan karena Riana hamil dan menyembunyikan hal itu darinya namun karena aksi gila Riana yang ingin menyakiti dirinya juga janin yang ada dalam rahimnya.Saat Riana melakukan tes kehamilan berulang kali, Riana tidak menyadari testpack habis pakainya itu jatuh ke lantai.Erick yang selesai mandi menemukan strip uji kehamilan itu.Marah, tentu saja Erick sangat marah namun Ia berusaha menahannya, Ia ingin Riana sendiri yang memberitahunya.Erick pun mengerti penolakan Riana saat ingin menyentuhnya karena hal itu.


"Kau ingin aku menerima anak sialan ini, kau gila!"


"Kau tahu aku sudah cukup menderita memiliki Steve seorang diri dan kini aku harus memilikinya lagi!" Riana meraung hebat dengan penderitaannya.Selama ini dia mencoba tegar dari luar namun hatinya begitu rapuh.


Erick langsung memeluk tubuh Riana membelainya penuh kasih sayang."Tenanglah ada aku, kau melupakan aku ini suamimu.Kita akan merawat anak ini berdua." Erick menyeka air mata yang membasahi pipi Riana. "Tidak akan lagi aku biarkan kau menangis," imbuhnya.


Riana langsung memeluk Erick erat.Beruntungnya dirinya dicintai pria seperti Erick yang selalu menerimanya apa adanya.Walaupun bisa saja pria itu meninggalkannya namun tidak dilakukannya karena rasa cintanya yang lebih besar dari apapun.


Erick bahkan mampu membendung kemarahannya saat mengetahui wanitanya hamil dengan pria lain namun Ia tahu kehamilan Riana juga akibat dari kurang tegasnya dirinya.Jika saja Ia tahu akan berakhir seperti ini, mungkin waktu itu akan melenyapkan pria yang sudah menorehkan luka berulang kali di hati wanitanya itu.


***


Keesokan harinya.


Erick dan Riana tampak rapi dengan pakaian kerjanya.


"Kau mau pergi kerja, Riana," tanya Melati saat melihat keduanya melangkah keluar dari mansion.


"Iya Mbak, aku baik-baik saja kok." Fokus Riana berpindah ke Steve yang menggenggam tangan Melati.


"Steve, kau tidak ingin say goodbye sama Mommy dan Dad Erick?" Riana hendak mencium putranya itu namun diluar dugaan Steve melengos masuk ke dalam mansion yang disusul Juna.Riana yang sempat berjongkok kembali berdiri dengan rasa kecewanya.


"Kau harus lebih banyak menghabiskan waktu dengan Steve, Riana.Kau juga Erick," tutur Melati menatap keduanya bergantian.


"Iya Mbak," sahut keduanya serempak.


Erick dan Riana melangkah pergi masuk kedalam mobilnya menuju ke kantor namun sebelum pergi ke kantor mereka akan ke rumah sakit.Riana sudah membuat janji bertemu Dokter kandungan yang kemarin di datanginya.


.


"Bagaimana Dokter?" Erick menatap Dokter yang tengah melakukan USG itu.


"Bapak lihat sendiri, janin dalam kondisi yang sangat baik, sehat," jelasnya.


Riana maupun Erick bernapas lega setelah mendengar penjelasan Dokter itu.Janin berumur 9 minggu itu begitu kuat padahal kemarin Riana memakan nanas muda sampai sepuluh buah.Riana yang langsung muntah secara tidak sengaja mengeluarkan semua isi perutnya sehingga efek dari nanas maupun wine belum sampai ke janinnya.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan keduanya keluar dari ruangan itu.Riana bergelayut di bahu Erick sedang Erick menuntunnya dengan hati-hati membuat beberapa orang menatapnya iri dengan kemesraan pengantin baru.Agnes yang tidak sengaja melihat keduanya terus berumpat kesal mengatai keduanya membuat seorang perawat yang mengekor di belakangnya menunduk takut.


.


.


Sesampainya di kantor, Erick mendudukkan Riana dengan hati-hati membuat Angela yang memperhatikan keduanya merasa aneh."Kau sakit, Na?" tanyanya cemas.


Riana menggeleng.


"Lalu kenapa pangeranmu memperlakukanmu seperti orang sakit?"


Riana hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun membuat Angela kesal lalu berpindah menatap Erick.


"Makanya segera menikah, jika kau menikah kau pasti akan seperti ini setiap hari," sentak Erick.


"Hiks ... hiks." Angela melangkah keluar dari ruangan itu sambil membuat parodi menangis dengan ucapan Erick karena bagaimana mau menikah, kekasih saja tidak punya.Aksi angela pun berhasil membuat Erick dan Riana tertawa geli.


"Kau ini kasar sekali." Riana mencubit gemas pinggang suaminya namun bukannya marah Erick malah menatapnya penuh ambisi.


Cup


Ciumannya mendarat di kening Riana membuat Angela yang saat itu akan masuk kembali keluar dengan parodi tangisnya dengan kelakuan pengantin baru itu.


Keduanya kembali tertawa dengan penderitaan Angela.


Di detik berikutnya, keduanya kembali bertatapan intens. "Tidak ada alasan lagi, kau menolakku!" ancam Erick.


Riana pun hanya mengigit bibir bawahnya dengan ancaman yang menggelikan dari suaminya itu.