
Riana tampak termenung sepeninggal Riko.Ia masih tak habis pikir dengan Niko yang sangat dipercaya sudah berubah nyatanya pria itu malah menusuknya.Pura-pura berubah hanya demi mengambil kekayaannya bukan karena Steve.Riana menyesal telah membuat Steve mengetahui siapa Daddynya karena nyatanya Daddy hanya seorang pecundang yang memanfaatkannya.
Erick yang melihat Riana termenung merasa harus mengatakan sesuatu."Sebaiknya kau kembali ke mansion Kakakmu karena disana tempat yang aman untukmu juga Steve."
Erick benar-benar takut Niko akan berbuat yang tidak baik kepada Riana setelah penghinaan tadi, pria itu sangat berbahaya.
"Aku ...." Riana tampak berpikir namun Ia meyakini Kakaknya masih marah kepadanya.
"Semarah apapun dia tetaplah Kakak yg sangat menyayangimu."
Erick benar walaupun Riana sangat ceroboh nyatanya Kakaknya itu bisa menghandle semua yang harus di jaganya tanpa sepengetahuannya.Ia tak bisa berpikir apa yang terjadi padanya, jika Niko benar-benar mengambil alih kekayaan miliknya, mungkin saat ini ia sudah keluar dari perusahaannya ini lalu hidup luntang-lantung di jalanan karena terlalu malu dirinya untuk pulang.
"Pulang dan minta maaflah, aku yakin Kakakmu akan memaafkanmu," tutur Erick.
"Mommy." Suara teriakan menyahut diantara pembicaraan Riana dan Erick.Saat itu Steve kembali dengan kantong kresek, sepertinya Angela membelikan sesuatu saat mengajaknya pergi untuk mengalihkan perhatiannya.Angela memang cerdik saat ia berdebat dengan Niko segera Ia membawa Steve pergi dari ruangan itu agar tidak melihat apa yang terjadi pada orang tuanya.
"Kau dari mana saja, Nak?" Riana mengusap lembut puncak kepala Steve.
"Aunty Angel beliin es clim cokat buat Sev, Mommy," jawab Steve antusias.pria kecilnya itu terlihat sangat senang membuat Riana lega.
Steve melihat sekeliling ruangan itu. "Dimana Daddy Niko, Mommy?"
Deg
Pertanyaan Steve membuat Riana merasa bersalah karena kedekatan Steve dengan Niko adalah kesalahannya.Kini ia harus beralasan tentang keberadaan pria itu hingga Steve tidak akan menanyakan tentangnya terus menerus.
"Daddy ada urusan pekerjaan, Steve apa kau mau pulang ke tempat Kak Nayya sama Kak Juna?" Riana sengaja mengalihkan fokusnya dari Niko agar tidak bertanya lebih jauh tentang pria itu.
"Mau Mommy, ayo." Steve menarik tangan Riana karena sudah tidak sabar.Saat itu Riana menatap Angela karena sebenarnya masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya namun Steve tidak akan berhenti sebelum mendapat keinginannya.
Angela mengerti memberi kode untuk menyuruh Riana pergi.Disaat yang sama Angela mendorong tubuh Erick untuk mengantarkan sahabatnya itu.
Erick pun segera berlari mengejar Riana dan Steve."Aku akan mengantarmu sekaligus aku ingin melamarmu."
Mendengar itu Riana langsung berhenti entah mengapa Erick begitu kekeh terus berbicara masalah keduanya, padahal saat itu Ia ingin masalah dengan keluarganya selesai bukan makin menambah masalah.
"Ayo Mommy." Steve menarik tangannya padahal saat itu ia ingin mengatakan sesuatu tapi jika ia masih bersama Steve tidak akan bisa ia berbicara panjang lebar.
Keduanya tampak terdiam saat di perjalanan hanya ocehan Steve yang terus bergema.Sesekali Riana menatap Erick di sampingnya.Akankah pria itu benar-benar ingin melamarnya?"
Steve segera berlari saat sudah berada di halaman rumahnya.
"Kak Nayya, kak Juna," pekik Steve berlari masuk ke dalam mansion.
"Tentu karena aku sudah tidak sabar bermalam panas denganmu, sudah cukup lama aku menunggu," bisik Erick.
Riana menjadi salah tingkah akan bisikan Erick, tiba-tiba bulu kuduknya merinding manja mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut seorang Erick.Pria dengan sifat dinginnya itu tiba-tiba berubah hangat saat bersamanya.
Keduanya memasuki mansion itu dengan langkah perlahan namun pasti.Saat ia memasuki ruang tamu rumahnya terlihat seluruh anggota keluarganya sudah berada di ruang tamu bercengkrama dengan Steve membuat suasana mansion yang begitu sepi sepeninggalnya kini berubah penuh keceriaan.Nayya dan Juna bahkan selalu menangis mencari keberadaan Steve namun kini mereka sudah berkumpul.
Melihat kedatangan Riana, Melati segera menyuruh pengasuh ketiganya membawa masuk ke dalam tempat bermain mereka.
Riana masuk perlahan lalu segera berlari memeluk maminya."Maafkan Riana karena sudah keluar dari mansion ini tanpa seijin Mommy bahkan tanpa sepengetahuan Mommy."
Nani yang sudah mengetahui permasalahan yang terjadi di rumahnya karena mengonfirmasi langsung pada putra sulungnya hanya mengelus punggung Riana yang berada di pelukannya.
"Jangan katakan apapun karena Mommy juga seorang Ibu yang pasti akan melakukan hal yang sama sepertimu." Nani mengurai pelukannya dan fokusnya tertuju pada Erick yang menatap penuh haru dengan momen anak dan ibu itu.
Perlahan Erick mendekat membuat jantung Riana berdetak kencang karena kalau benar ia ingin dilamar, apa mungkin Mommy Nya akan menyetujui?
"Ada yang ingin kau katakan, Erick?" Nani menatap Erick yang sudah duduk.Riko dan Melati juga antusias ingin mendengar apa yang ingin dikatakan pria itu.
Sudah sejak lama Nani mengenal Erick dan selama itu Nani mengetahui perasaan Erick terhadap putrinya karena sesuai cerita Riko, Erick lah yang selalu membantu dan menjaga Riana walaupun tanpa perintahnya itu menandakan betapa pria itu sangat menyayangi Riana.
"Maaf sebelumnya Nyonya besar dan Tuan Riko atas kelancangan saya." Pria itu menunduk. "Izinkan saya pria hina ini menjaga Riana sebagai seorang suami," jelas Erick.
Jantung Riana hampir meledak akan kata-kata azimat yang keluar dari mulut pria itu.
Seketika ucapan Erick membuat ketiganya Nani, Riko dan Melati tersenyum senang.Akhirnya selama bertahun-tahun menunggu pria itu menyadari ketidak mampuannya.Riana bahkan menolak puluhan pria yang datang hanya untuk kata itu keluar dari mulutnya.
"Angkat kepalamu Erick, kau harus tegas beringas jika ingin bersama seorang ratu bisnis kalau perlu kau harus jadi raja-nya!" pekik Riko.
Sontak ucapan Riko membuat Melati menahan senyum, disaat serius seperti ini suaminya masih bisa berkata konyol.
Erick pun menuruti perintah atasannya itu dengan mengangkat kepalanya hingga wajah tampannya terlihat sempurna.
"Bagaimana Riana, apa kau menerima lamaran Erick?" Nani menoleh ke arah Riana yang saat itu menatap Erick intens.
"Mm ...."
"Katakan sejujurnya yang kau inginkan Riana, kesempatan tidak datang 2 kali!"seru Riko.
"Aku ...."