
Riana memasuki ruang perawatan Niko bersama Steve namun Steve terlihat ketakutan sembunyi di belakang Riana.Niko terus menatapnya hingga membuat nyali Steve menciut.Senyum Niko merekah begitu Steve mendekat namun Steve masih saja sembunyi di belakang Riana.
"Steve, sini Nak." Niko melambaikan tangannya agar Steve mendekat ditambah senyumnya membuat Steve perlahan keluar dari persembunyiannya.
Saat itu air mata Niko menitik menatap malaikat kecil di depannya.
"Om nangis lagi, apa Om macih cakit?" Steve menatap Niko dengan tatapan perhatiannya.
"Steve panggil Daddy!"Riana memegang dagu Steve lalu menatapnya penuh.
"Daddy Sev cuma Daddy Liko!" protes Steve.
Niko hanya menatap keduanya tanpa merespon pembicaraan ibu dan anak itu.
Steve kemudian fokus sofa yang berada di ruangan itu dan langsung berlari.Steve antusias melompat-lompat di sofa itu membuat Riana dan Steve tersenyum senang.
"Apa kau masih tidak yakin Steve putra kandunganmu, apa kau masih berfikir Steve anak orang lain?" Riana menatap Niko, ia ingin Steve mendapat pengakuan darinya.
"Aku tidak ingin kau berbuat apa-apa, aku hanya ingin Steve tahu Daddy kandungnya bagiku itu sudah cukup," timpal Riana.
"Aku tidak pantas mendapat gelar itu karena aku sudah banyak membuatmu terluka.Meski aku terlambat aku ingin meminta maaf." Niko sampai menitikkan Nair matanya dengan permohonan maafnya.
"Aku sudah memaafkanmu Niko, aku juga akan membantu perusahaanmu bangkit," ucap Riana.
Niko tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya namun ia juga menyadari tidak pantas untuk mendapat semua bantuan Riana. "Kau masih saja membantuku padahal aku sudah menghancurkan hidupmu.Kau seharusnya membiarkan aku mati ditangan kakakmu karena aku pantas mendapatkannya."
"Kau tetaplah Daddy Steve aku tidak boleh egois dan aku melakukannya agar Steve bangga memiliki Daddy sepertimu."
Lagi-lagi Niko dibuat tak bisa berkata-kata lagi semua karena kebaikan hati Riana memberinya kesempatan untuk berubah menjadi pria yang lebih baik.
Niko yang terlewat senang meraih telapak tangan Riana menariknya menuju bibirnya namun dengan cepat Riana menariknya membuat Niko terlihat kecewa.
***
Beberapa hari kemudian keadaan Niko jauh lebih baik.Dokter pun sudah memperbolehkan pulang.Hubungan Niko dan Steve menjadi akrab karena Steve selalu berkunjung ke rumah sakit membuatnya sedikit demi sedikit menerima Niko sebagai seorang sahabat.
Niko yang telah bersiap untuk pulang dikejutkan dengan kedatangan Riana juga Steve.
"Hai Om ganteng," sapa Steve setelah masuk kedalam ruangan Niko.Steve memanggil Niko dengan sebutan om ganteng karena Niko juga memanggilnya si tampan.
"Hai juga tampan," balas Niko.
"Duduklah di kursi roda." Riana sengaja membawa kursi roda itu untuk membantu Niko menuju mobil.
"Aku akan mengantarmu pulang!" tegas Riana.Sebelumnya Riana sudah membayar semua biaya perawatan Niko selama 10 hari.
"Aku bisa pulang sendiri!" tolak Niko.
"Om akan ke lumah Sev," sahut Steve.
Seketika membuat Riana dan Niko terbelalak bagaimana tidak Steve ingin Niko tinggal di rumahnya.
"Steve,apa maksudmu?" Riana membulatkan penglihatannya menatap Steve.
"Mommy, kasian om ganteng, kakinya cakit!" tegas Steve.
"Steve mau om ganteng tinggal di lumah kita!" timpalnya sedikit merajuk.
Tangan Steve bahkan tidak mau lepas dari pria itu.Saat itu Riana tidak bisa berpikir selain harus menghadapi kakaknya yang jelas tidak menyetujui Niko tinggal dirumahnya namun melihat kondisi Niko yang masih terlihat pucat juga kakinya yang masih belum bisa berjalan normal mengesampingkan semuanya keegoisannya.Mau tidak mau kakaknya harus menerima Niko dirumahnya karena Niko menjadi seperti itu karena ulah kakaknya yang keterlaluan.
Riana mengetuk pintu saat sudah berada di teras mansionnya.Niko dibuat takjub akan mansion Riana.Setahun terakhir Riana beserta keluarga pindah ke mansion itu.
"Non Riana, den Steve sudah pulang," sambut Art bernama Yanti.
Yanti segera membawa barang bawaan Riana menuju kamar tamu.Sebelumnya Riana sudah menelepon meminta yanti membersihkan kamar tamu.
"Aku akan mengantarmu beristirahat di kamarmu, Niko." Riana membantu Niko berjalan bersama Steve yang terus memegangi tangan Niko.
"Tunggu!" Suara lantang menghentikan ketiganya.
"Siapa yang mengizinkan pria brengsek ini tinggal disini?" Riko menatap tajam kearah Niko.
"Kak jaga bicaramu, kau tidak lihat Steve berada disini!"
"Untuk apa, biar Steve tahu sebenarnya siapa pria ini!" tegas Riko.
"Cukup Kak!" sentak Riana .
Riana kembali melanjutkan langkahnya karena tidak ingin keributan itu terjadi di depan Steve.