
Sepulang dari kantor Erick bergegas pulang namun langkahnya berhenti saat ponselnya di sakunya bergetar.Nama Agnes tertera di ponselnya.erick langsung menolak panggilan itu.Berulang kali Agnes terus menghubunginya membuat Erick tidak tahan lalu menjawab telepon itu.
"Ada apa lagi kau menghubungiku!" bentak Erick menjawab teleponnya.
Saat itu terdengar tangisan dari teleponnya membuat Erick berpikir apa yang tengah terjadi pada Agnes.
"Kau kenapa, bicaralah yang benar!"~Erick.
"Erick aku hamil."~Agnes.
"Apa?kau bercanda!"~Erick.
"Kau cepat kemari jika tida aku yang akan ke rumahmu!"~Agnes.
Tut ... tut.Telepon terputus.
Erick masih tertegun dengan penuturan Agnes.
"Bagaimana mungkin Agnes hamil?" gumam Erick.
Erick melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.Dua puluh menit Erick tiba di apartemen Agnes.Wanita itu langsung menyambut Erick dengan pelukan namun langsung ditepis Erick.
"Au, sakit." Agnes meraba perutnya saat Erick mendorongnya dengan kasar.
Melihat Agnes yang kesakitan Ia langsung mendekat. "Mana yang sakit?" cemas Erick.
Agnes pun tersenyum dengan sikap Erick yang langsung berubah saat Ia menggunakan kehamilannya untuk menjerat Erick.Agnes menarik tangan Erick membawanya menuju perutnya.
"Benihmu telah tumbuh di rahimku." Agnes berucap dengan senyum bahagianya.
"Bagaimana mungkin?" Erick menarik tangannya dari perut Agnes.Ia masih belum percaya ONS nya dengan Agnes membuahkan hasil.
Pria itu duduk di sofa, kakinya terasa lemas dengan kabar mengejutkan ini.
"Mulai sekarang kau harus berbuat adil, aku juga istrimu.Kau juga harus memberitahu Riana tentang pernikahan kita."
"Secepatnya kita harus menikah secara resmi, aku tidak ingin orang-orang mengira aku hamil diluar nikah," imbuh Agnes.
Agnes menatap lekat wajah Erick.Jari jemarinya bergerak menyusuri tubuh pria itu.
"Kau istirahatlah, aku harus pergi." Erick bangkit melangkah pergi sementara Agnes terlihat mengepal dengan penolakan Erick.
.
.
Malam hari Erick duduk termenung di ranjangnya membuat Riana yang mengamatinya merasa aneh.
"Ada apa sayang?" Mengusap tengkuk Erick dengan lembut.
Erick merasa bersalah selama ini menyembunyikan pernikahannya dengan Agnes,lalu Agnes hamil akibat ulahnya.Erick tidak ingin jika Riana mendengar kabar itu dari orang lain hingga Ia berpikir untuk menyampaikan kabar itu.
"Ada apa, ayo ceritakan," desak Riana.Ia tahu betul dari sorot mata prianya itu menyimpan sesuatu.
"Maafkan aku Riana." Erick bangkit berdiri menghadap jendela kamarnya.
"Untuk apa?" Riana mengikuti Erick, membalikkan tubuh prianya agar bisa saling menatap.
Erick menghela nafas berusaha mengumpulkan kekuatannya untuk menyampaikan kabar ini.
Riana pun menggenggam tangan Erick dengan wajah mengangguk meyakinkan prianya untuk mengatakan kerisauannya.
Erick langsung sujud di kaki Riana.
"Aku dan Agnes .... Kami sudah menikah," jelas Erick tanpa basa-basi.
"Menikah, apa maksudmu?" Riana menarik tubuh prianya bangkit.
"Saat ayah sekarat, Ia memintaku menikahi Agnes.Aku .... Aku tidak bisa menolak permintaan Ayah," ungkap Erick.
Riana terbelalak dengan kabar yang baru saja di dengarnya.Rasanya seperti mimpi.Mana mungkin seorang Erick yang begitu mencintainya malah mendua di belakangnya.
"Apa aku sedang bermimpi Erick, cepat bangunkan aku!" Riana mengundang tubuh Erick dengan kuat.
Erick menahan wajah Riana."Kau tidak bermimpi sayang, aku memang tidak pantas menjadi suamimu." Air mata Erick menitik dengan kebenaran yang baru saja disampaikannya sementara Riana masih termangu tidak percaya.