Perfect Life

Perfect Life
Bab 33. Jalan-Jalan Bersama



Dua malam pengantin baru itu habiskan tanpa melakukan malam pertama.Meski bagi Riana bukan malam pertama namun bagi Erick adalah malam pertama.


Erick adalah pria yang benar-benar mencintai wanitanya itu hingga tidak akan memaksakan kehendaknya, Ia akan menunggu sampai Riana menyerahkan sendiri tubuhnya.


Erick membuka matanya menatap wanita yang sangat dicintainya itu, sejak lama Ia memimpikan hal semacam ini dan akhirnya setelah sekian lama akhirnya dapat bersama tanpa batasan.


Erick mengusap halus wajah istrinya lalu mendaratkan kecupannya di kening Riana.Riana yang merasakan kecupan hangat itu terbangun dengan mata perlahan terbuka hingga sosok tampan itu berada di depannya.


Keduanya tersenyum penuh kebahagiaan dengan perasaan masing-masing.


"Aku membangunkan mu?" Erick kembali mengusap wajah cantik khas bangun tidur itu penuh kasih sayang.Hari ini hari Minggu membuatnya sedikit bersantai.


Erick selalu meluapi-nya dengan cinta dan kasih sayang membuatnya begitu bahagia namun disisi lain Ia menyimpan sesuatu yang akan menghancurkan kebahagiaan itu.


"Erick," lirih Riana menatap nanar pria itu.


"Em."


Pria itu kembali tersenyum membuat lidahnya kelu untuk mengatakan semuanya."Bagaimana aku menyampaikan hal ini, aku tidak mampu Erick," gumam Riana.


.


.


Keluarga itu sarapan bersama namun suasana ruang makan itu nampak hening.Kemesraan yang ditampilkan Kakak juga Kakak iparnya itu tidak nampak.Mungkin kah buntut dari perang dunia kemarin malam?


"Sayang, A ...." Riana menyuapi suaminya itu, ia sengaja membuat suasana panas dengan aksinya.Bukannya berhasil kedua orang yang duduk tepat di depannya itu malah semakin bertambah kesal.Kedua manusia yang biasanya sama-sama bersikap dewasa itu terlihat kekanak-kanakan dengan sikap egois masing-masing.


Riko bangkit dari duduknya namun pria itu melengos begitu saja meninggalkan meja makan.


"Sayang teruskan makannya." Erick bangkit dari duduknya, menyusul Riko yang menuju taman belakang.


Sepeninggalan Riko juga Erick, Melati masih duduk bersama Riana di ruang makan .


"Ada apa Mbak, sepertinya kalian sedang tidak baik-baik saja," selidik Riana.


"Kakakmu itu main rahasia-rahasia an sekarang," ungkap Melati.


Riana bangkit mengelus punggung Kakak iparnya itu. "Mungkin Kakak butuh waktu untuk menceritakan semua pada Mbak Mel." Riana melangkahkan kakinya meninggalkan Melati menuju ke ruang bermain Juna, Nayya dan Steve seperti biasa mereka dibelikan mainan oleh Dani.


"Kalian ini selalu menghabiskan uang Uncle Dani," celetuk Riana mengacak kasar rambut Steve juga Juna yang begitu bahagia dengan mainan barunya.


Sementara di taman belakang kedua pria itu nampak asyik memberi makan ikan-ikan yang berenang kesana kemari dengan Riang.


"Kak, sebenernya apa yang ingin Kakak katakan tadi malam, aku merasa Mbak Melati marah karena hal itu?" selidik Erick.Ia tidak ingin masalah ini berlarut-larut hingga harus membahas secepatnya.


"Aku ingin kalian pindah ke rumah baru kalian, karena tidak mungkin dua kepala tinggal dalam satu atap," jelas Riko.


Erick pun berpikiran sama, Ia ingin mengutarakan hal itu pada Riana namun Ia belum sempat.


"Kakak sebenarnya senang kita tinggal bersama namun tidak ada salahnya kita menghindari konflik kedepannya tapi rencanaku ini pasti ditentang istriku," jelas Riko.


"Kita akan menunggu waktu yang tepat Kak namun berusahalah mengalah, aku tidak ingin masalah ini mempengaruhi hubungan kalian karena kalian adalah panutanku dan Riana dalam berumah tangga."


"Kau tenang saja, istriku itu tidak akan marah lama-lama setelah ini kami akan baik-baik saja." Riko menepuk bahu Erick.Bangkit dari duduknya masuk ke dalam mansion itu.


Mansion itu nampak sepi hanya beberapa art yang sibuk membersihkan rumah.


"Dimana, istriku?" tanya Riko pada seorang pelayan.


"Nyonya muda ke kamar Nyonya besar, Tuan."


Cup


Kecupannya mendarat di kening Melati sekilas membuat Nani menatap jengah akan aksi putranya itu.


"Apa yang kau lakukan?" Melati menepuk bahu suaminya dengan wajah menahan malu.


Cup


Kembali Ia mengecup pipinya sekilas.


"Kau ini, lakukan semua itu setelah selesai menyuapi Mommy," celetuk Nani dengan senyum geli menatap putranya itu.


"Mommy." Melati memerah mendengar celetukan Nani yang menurutnya sangat menggelikan juga memalukan.Bagaimana tidak, suaminya itu lancang menciumnya di depan Mommy-nya yang masih makan.


Akhirnya Nani menyelesaikan sarapannya membuat Riko langsung mengangkat tubuh istrinya ke bahunya


"Turunkan aku!"Melati meronta dari bahu kekar suaminya namun aksinya itu sia-sia.Sementara Nani hanya menggeleng dengan aksi arogan putranya itu yang mengingatkannya pada almarhum suaminya.


***


Riana dan Erick tampak bersiap-siap ingin pergi.Seharian dirumah membuat mereka suntuk hingga memutuskan untuk jalan-jalan.Tentu saja bukan jalan-jalan romantis karena ketiga bocil di keluarganya merengek meminta ikut membuat Melati dan Riko akhirnya turut serta.


"Mommy, aku mau mainan," rengek ketiganya menarik tangan Melati bersamaan.Tentu saja mereka pintar karena Melati sudah pasti menolak permintaan ketiganya.


"Juna, Nayya, Steve!" bentak Riko membuat ketiganya menunduk kesal namun tidak berani berbuat apa-apa.


"Dengarin, Daddy ya."


Mereka kembali melanjutkan langkahnya.Riana dan Erick tertahan di belakang karena dihadang beberapa penggemar Riana yang meminta foto dan tanda tangan.Pasangan pengantin baru itu pun berhasil membuat baper para penggemar Riana karena pasangan cantik dan tampan itu begitu serasi membuat semua orang berdecak iri termasuk seorang wanita yang tengah duduk di sebuah restoran menatap keduanya dengan tatapan sinis.


Langkah mereka memasuki sebuah toko baju anak-anak.Baju ketiga buah hati mereka sudah kekecilan membuat Melati ingin membelikan baju baru.Saat melewati baju bayi-bayi Riko menahan tangan Melati.


"Sayang, kau lihat ini lucu sekali.Apa kau tidak ingin membelinya?" Riko tersenyum menyeringai dengan tawarannya.


"Untuk apa, anakmu sudah besar!" tegas Melati menahan amarahnya dengan sikap konyol suaminya.


"Apa kau tidak berniat menambah-"


"Tidak!" potong Melati tegas.


"Riana yang seharusnya membeli ini, iya kan adik ipar." Melati menatap Riana yang baru saja mendekat ke arahnya.


Deg


Jantung Riana berdegup kencang dengan ucapan Kakak iparnya."Apa Mbak Mel tahu, aku hamil?" gumamnya.Menelan salivanya dengan susah payah.


"Kau kenapa sayang, tegang sekali." Erick yang menyadari perubahan sikap Riana merasa aneh.


"A- aku ba- baik-baik saja kok." Riana berucap terbata-bata membuat Riko dan Melati menatap aneh ke arahnya.


"Kau gugup sekali Riana, apa Erick belum melakukannya?" ucapan terakhir dibisikkan Melati ke telinga Riana.


"Mbak bisa saja," balas Riana dengan sikap jengah.


"Jadi beli ini nggak?" pekik Riko mengambil satu baju dan memperlihatkannya pada ketiga orang itu.


"Nggak!" Melati dan Riana berucap bersamaan dengan raut wajah kesal sementara Erick menahan tawa dengan aksi konyol ketiganya.