Perfect Life

Perfect Life
Bab 30. Malam pertama Yang Gagal



Setelah acara pesta pernikahan selesai, seluruh anggota keluarga Wijaya kembali ke mansion tak terkecuali pasangan pengantin baru itu lebih memilih pulang daripada menginap di hotel.


Keduanya memasuki kamar pengantin.Saat semua orang pergi ke acara tadi, Melati menyewa jasa dekorasi untuk menghias kamar.


Riana begitu takjub dengan kamarnya yang berubah menjadi indah dengan hiasan bunga-bunga segar yang tertata di setiap sudut juga lilin-lilin yang menambah kesan suasana makin romantis.Belum lagi menikmati keindahan itu lebih lama tubuhnya sudah di bopong Erick menuju ranjang.


"Erick lepaskan!" pekiknya dengan nada tertahan.


"Aku sudah mengatakannya kan tadi, aku tidak akan melepaskanmu!"


"Kau!" Riana mendelik namun tidak dengan bibirnya yang begitu menikmati saat Erick ********** penuh nafsu.


Brakkkk


Suara pintu yang di dorong dengan kuat dari luar membuat keduanya langsung melepas satu sama lain.


"Mommy, Aunty," pekik Steve dan Juna bersamaan.Keduanya berlari masuk.


Ulah keduanya yang melompat-lompat di ranjang membuat Erick geleng-geleng kepala sementara Riana tidak bisa berbuat apa-apa.


"Seharusnya tadi aku memikirkan hal ini dan memilih tidur di hotel," gerutu Erick berbisik di telinga Riana.Bagaimana tidak saat Ia sudah mulai on, nyamuk-nyamuk menganggu itu datang.


Cukup lama mereka di kamar itu membuat Riana yang sudah kelelahan pun tidur sementara Erick pasti terjaga dengan aksi kedua bocil yang berbaring ditengah-tengahnya dan Riana.


"Kalian tidak akan tidur?" Erick melirik jam ditangannya menunjukkan pukul dua belas lebih.Saat acara tadi siang karena saking senangnya mereka berlari-larian hingga sepanjang acara mereka tertidur membuat keduanya tetap terjaga.


Tok ...


Tok ....


Pintu diketuk dari luar membuat Erick bangkit dari ranjang untuk membuka pintu.Terkihat Riko dan Melati berdiri di depannya.


"Benar Juna dan Steve disini?" tanya Melati.Ia sebenarnya tidak ingin mengetuk kamar pengantin itu namun karena saat mengecek keberadaan Juna dan Steve Melati terkejut karena keduanya tidak berada di ranjangnya.


Melati pun masuk setelah Erick membuka pintu kamarnya lebih lebar.


"Maaf Erick, tuyul itu pasti sudah menganggu acara malammu kau bisa meneruskan setelah aku bawa mereka," ucap Riko merasa tidak enak.


"Sev sama Juna mau dicini Mom," pekik keduanya bersamaan membuat fokus Riko dan Erick berpindah.


"Juna, Steve!" Riko mendelik ke arah keduanya membuat keduanya langsung bangkit dan menurut.Melati menuntun keduanya keluar sementara Riko sudah melangkah lebih dulu.


"Seharusnya kalian lakukan itu sejak tadi," gumam Erick.Menatap keempatnya pergi lalu menutup dan mengunci kamarnya.


Direbahkannya tubuhnya yang lelah di samping Riana, tatapannya menatap Riana yang tertidur pulas.Ia mengusap wajah Riana lalu mengecupnya. "Selamat malam, istriku," lirihnya.


Erick sengaja tidak membangunkannya karena tidurnya begitu lelap apalagi tadi ia sempat di bius yang otomatis membuat tubuhnya sedikit lemas.Saat bertanya pada Gian siapa yang melakukannya, pria itu menjawab semua sudah diurus Tuan Riko.Namun Erick tidak bisa diam begitu saja Ia harus mencari tahu siapa yang melakukannya karena tidak mungkin Niko karena Pria itu di dalam penjara.


Di tempat lain.Riko dan Melati kembali ke kamarnya setelah menidurkan Steve dan Juna.Keduanya kini berbaring di atas ranjang.


"Sebenarnya pa yang terjadi tadi Mas, siapa yang pelaku yang ingin merusak acara pernikahan Riana?" Melati bertanya antusias.


"Kau tahu sebenarnya orang tua Erick tidak menyetujui pernikahan mereka," jelas Riko.


Tentu saja Melati tahu kerena tidak ada tani dari pihak Erick orang tua atau saudara.


"Lalu apa hubungannya?"


"Mereka memiliki calon lain tapi Erick tetap bersikukuh untuk menikahi Riana walaupun tanpa persetujuan mereka, yang melakukan penculikan tadi adalah wanita pilihan orang tua Erick.Dia memerintahkan orang untuk menggagalkan acara tadi tapi mereka lupa sedang berhadapan dengan siapa."


Setelah menjelaskan panjang lebar pria itu kembali membanggakan diri sendiri.


"Kau terbaik." Melati mencium pipi Riko membuat pria itu langsung mencengkeram tubuh Melati.


"Kau tidak akan aku lepaskan malam ini!"


Malam yang seharusnya dimiliki Erick dan Riana justru berpindah ke kamar Riko dan Melati.


Riana membuka matanya saat alarm di ponselnya terus menderu.Ia segera mematikan ponselnya karena tidak ingin suaminya terganggu.


Ditatapnya wajah tampan yang kini bisa ditatapnya setiap bangun tidur.Tidak akan lagi kerinduan yang tertahan karena kini setiap hari akan bersama.


Riana segera berpura-pura tidur saat Erick terlihat menggeliat.


Cup


Kecupan hangat mendarat di kening Riana.


"Kau akan terus pura-pura tidur, istriku?"


Riana tersenyum karena usahanya gagal.Erick yang memanggilnya dengan sebutan istriku di pagi itu mengawali harinya yang manis.Untuk pertama kalinya panggilan itu terlontar dari mulut Erick yang kini sah menjadi suaminya.


"Apa kita mandi bersama?" tawar Erick sesaat sebelum Riana masuk kamar mandi.


"Nggak, aku malu." Riana segera masuk sebelum Erick melakukan sesuatu yang akan membuatnya tidak berani menatap pria itu.


.


.


Setelah keduanya rapi dengan baju kerja masing-masing.Riana dan Erick bergandengan tangan menuruni tangga.


Ehem


Seseorang berdeham membuat fokus keduanya berpindah.


"Selamat pagi Ka- Kak Riko," sapa Erick sedikit terbata-bata karena ia belum terbiasa memanggil mantan atasannya itu dengan sebutan Kakak.


"Mommy, Aunty." Keduanya menepis tangan Erick yang saat itu menggandeng tangan Riana.


"Mau kemana?" Riana yang tangannya sudah digenggam oleh Steve dan Juna menatap keduanya bergantian.


"Main sama kita." Keduanya menarik tangan Riana menuju ruang bermain diikuti kedua pengasuhnya.


"Kau harus lebih bersabar Erick, kau belum sepenuhnya menguasai Riana kalau belum menguasai kedua tuyul itu," celoteh Riko.


Mendengar itu Melati langsung menatap tajam suaminya karena lagi-lagi keduanya dikatain tuyul.


Tentu saja aksi keduanya membuat Erick dan Nayya terkekeh.


"Nay, ayo ikut Om." Erick menggandeng tangan Nayya yang berpakaian lengkap dengan seragam sekolahnya.Melati dan Riko mengekor di belakangnya.


Keempatnya sudah berada di meja masing-masing namun Nani tak terlihat.


"Dimana Mommy, Bik?" tanya Riko


"Nyonya besar-"


"Mommy tidak enak badan Mas, aku sudah menghubungi Dokter tadi mungkin sebentar lagi tiba," potong Melati.


Bik Minah memberikan nampan yang berisi bubur untuk Nani.


"Kalian makanlah, aku akan ke kamar Mommy.Nayya, setelah serapan cepat pergi sekolah."


Sepeninggalan Melati Riana bergabung di meja makan. "Dimana Mbak Mel?" menatap Riko.


"Ke kamar Mommy, Mommy tidak enak badan," jelas Riko.


Saat itu Riana hendak bangkit dari duduknya.


"Tunggu!"


"Ada apa, Kak?" Riana menatap wajah kakaknya yang terlihat begitu serius.