
Erick merasakan sesuatu yang hangat dan lembab menyentuh inti tubuhnya.Saat itu Ia sudah tertidur dengan mata sulit terbuka namun Ia berusaha karena lama kelamaan Ia merasakan kenikmatan disana.
Erick melenguh dengan sentakan dari Agnes yang semakin lama semakin cepat membuatnya tak bisa menolak perlakuan menyenangkan dari Agnes. Agnes begitu lihai membuatnya sesaat terbang ke nirwana dengan kenikmatan duniawi.
Erick yang tadinya hanya menerima kini berganti peran Ia yang mengendalikan permainan panas itu.
"Kau ternyata cukup lihai, Erick," bisik Agnes di telinga Erick. Tangannya mencengkram tubuh Erick membuat Erick semakin panas mempercepat permainannya membuat sesuatu meledak di bawah sana.
Tubuh Erick tumbang setelah permainan panas itu berakhir sementara Agnes tersenyum senang memeluk tubuh Erick. Ia benar-benar bahagia hidupnya kini sempurna menjadi seorang istri.
***
Erick terbangun saat alarm di ponselnya terus berdering. Ia hendak bangun namun tubuhnya di tahan tangan Agnes yang melingkar di perutnya. Perlahan Erick menyingkirkan tubuh Agnes dengan hati-hati agar wanita itu tidak terbangun.
Erick segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu Ia bergegas pergi namun baru beberapa langkah terhenti Agnes yang sudah terbangun memanggilnya.
"Erick, kau mau kemana?"
"Mau pulang." Erick menjawab tanpa menatap Agnes. Ia kembali melangkah mengabaikan Agnes yang terus saja memanggilnya.
Erick yang sudah berada di mobilnya sesaat terdiam sambil memijat pelipisnya. Ia benar-benar pusing dengan kehidupannya saat ini. Punya dua istri bukan hal yang menyenangkan bagi Erick terlebih Ia sangat mencintai Riana. Pernikahannya dengan Agnes adalah hal yang menyakitkan bagi Riana tapi Erick tidak bisa berbuat apa-apa karena Agnes terlanjur mengandung benihnya.
Erick yang selalu berpikir jenius dengan semua masalah- masalah perusahaan ternyata kikuk dengan urusan rumah tangga. Ia terjebak dengan semua kebodohan yang dibuatnya sendiri.
Sesampainya dirumah Erick langsung naik ke kamarnya di lantai empat. Riana tampak cuek dengan kedatangannya. Di detik berikutnya Riana menenteng tasnya hendak pergi.
"Aku baru pulang kau sudah mau pergi," keluh Erick.
Seketika Riana menghentikan langkahnya.
"Apalagi yang kau mau, kau baru pulang dari istri keduamu kan, bukannya kau sudah dilayani dengan baik disana," ketus Riana. Ia melanjutkan langkahnya tidak menghiraukan Erick yang terlihat kesal dengan ucapannya.
Riana masih begitu sakit walau sebenarnya ialah yang menyuruh Erick bermalam di rumah Agnes. Sebagai wanita Riana tidak ingin egois apalagi keadaan Agnes yang tengah hamil muda.
Namun wanita tetaplah wanita yang tidak ingin cintanya dibagi dengan wanita lain termasuk Riana. Batinnya sakit dengan semua masalah yang menimpa rumah tangganya namun Riana harus tetap tegar demi bayi dalam kandungannya juga Steve.
"Kau mau pergi kerja, Nak?" Novi menghentikan Riana yang ingin masuk ke kamar Steve.
"Iya Bu."
"Suamimu sudah pulang?" tanya Novi.
"Sudah Bu."
Pembicaraan keduanya di dengar Erick yang saat itu keluar kamar dengan pintu yang sudah terbuka sejengkal hingga pembicaraan itu jelas terdengar olehnya.
"Ibu memang tidak salah tapi Erick dia salah karena menanam benihnya di rahim Agnes," gumam Riana dalam hati.
Ia masuk ke kamar Steve yang tengah berganti pakaian setelah mandi.
"Steve Mommy kerja dulu, kau baik-baik dengan nenek sama Mbak Mira ya," Riana mengusap kepala Steve kemudian mencium pipi gembul Steve. Erick terlihat ikut masuk ke kamar itu.
"Daddy." Steve berhambur memeluk Erick. Semalaman Daddy nya tidak pulang membuat Steve merindukan Daddy sambungnya itu.
"Daddy Elik cemalem tidul dimana?" tanya Steve dengan bicara khas cadelnya saat sudah naik ke dada Erick.
"Daddy kerja sayang."
"Daddy balu pulang cekalang mau pegi lagi?"
"Steve suka ice cream kan jadi Daddy harus cari uang yang banyak kan?" Erick menurunkan tubuh Steve karena saat itu Riana melangkah keluar.
"Steve sama Mbak Mira, Dady pergi dulu." Erick mengacak kasar rambut Steve sekilas lalu melangkah pergi menyusul Riana.
Keduanya memasuki lift bersama. Tidak ada pembicaraan antar keduanya.
Ting
Lift terbuka. Keduanya melangkah keluar dari rumah itu menuju mobil. Saat menyadari Riana masuk ke mobilnya Erick bergegas masuk ke mobil Riana.
"Kau bisa pakai mobilmu sendiri, kan!" ketus Riana.
"Riana, aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini, aku sungguh mencintaimu." Erick berucap penuh permohonan.
"Aku sudah berpikir semalaman Erick, aku membebaskan mu bersama Agnes karena Ia yang mengandung anakmu bukan aku jadi tidak ada alasan bagiku untuk menahanmu."
Deg
Ucapan yang tidak pernah ingin Erick dengan ternyata keluar dari mulut Riana.
"Aku tidak mau, sampai mati aku akan tetap bersamamu apapun yang terjadi!" tegas Erick kukuh dengan ucapannya.
Riana menghela nafas panjang dengan ucapan Erick. Pria itu masih saja tidak sadar telah melukainya secara lahir dan batin.
Karena tidak ingin terlambat Riana melajukan mobilnya membelah jalanan padat pagi itu menuju kantornya.