Perfect Life

Perfect Life
Bab 52. Berawal Dari Kesederhanaan



Sekitar pukul lima pagi Riana sudah bangun. Riana harus membiasakan hidup mandiri tanpa tangan pembantu karena kini semua harus Ia kerjakan sendiri dari masak, membersihkan rumah juga mencuci baju. Walaupun tidak pernah melakukan pekerjaan itu sebelumnya tapi Riana tahu cara melakukan pekerjaan itu.


Setelah berbelanja dari pasar Riana segera memasak bahan makan yang sudah dibelinya dari kangkung juga sayuran yang lainnya. Ia masukkan ke lemari pendingin. Jarak rumahnya dengan pasar cukup jauh sekitar lima kilo hingga Riana membeli lebih banyak bahan makanan untuk stok seminggu ke depan.


Setelah masakannya beres Riana segera mandi setelah mandi Ia segera membangunkan Steve. Rencananya hari ini Riana ingin memasukkan Steve ke sekolah TK. Musim liburan telah usai hingga Steve yang sudah berusia lima tahun harus segera di daftarkan ke sekolah TK.


"Steve cepat makan sarapanmu nanti keburu siang!"


Riana dan Steve kini sudah di ruang makan dengan piring berisi nasi di tangan Riana. Steve yang belum terbiasa makan sendiri harus disuapi.


Steve melahap makanan dari suapan Mommy nya.


Beh ... beh ... beh.


Steve melepeh makanannya yang baru saja masuk mulutnya.


"Steve, Kenapa dilepeh kan sayang makanannya!" Riana berucap dengan nada meninggi.


"Asin Mom." Steve segera meminum air tepat di depannya untuk menghasilkan rasa asin yang masih terasa di lidahnya.


Riana akhirnya mencoba masakannya dan benar saja sayur yang Ia masak sangat asin. Walaupun mengerti cara memasak namun Ia tidak pernah praktek secara langsung. Untung saja telor ceplok ya rasanya karena hanya menggunakan penyedap makanan.


"Sudah makan sama telor ceplok aja." Riana mengganti nasi Steve dengan yang baru dan hanya dengan lauk telor ceplok.


Setelah sarapan Riana mengantar Steve ke sekolahnya yang berjarak sekitar 200 meter dengan berjalan kaki.


Steve cukup mudah bergaul dengan teman sebayanya hinggap hari pertama sekolah Ia langsung akrab dengan beberapa temannya. Namun bukan Steve kalau tidak berulah Steve yang selalu di manja bahkan tidak memperbolehkan teman-temannya memakai mainan yang di pegangnya. Alhasil tangis keributan terjadi di sana. Beruntung guru Steve sangat sabar perlahan-lahan membujuk Steve dan akhirnya Steve mau berbagi dan bermain bersama teman-temannya.


Hari pertama Steve di sekolah telah usai Riana yang sengaja menunggu Steve di hari pertamanya sekolah cukup bahagia. Tidak terasa putra kecilnya itu sudah bersekolah padahal baru kemarin rasanya Ia melahirkan Steve namun kini Steve kecilnya sudah berstatus sebagai murid.


"Steve apa kamu senang di sekolah barumu?" tanya Riana saat sudah di rumah. Ia mengobrol santai sambil mengganti baju Steve.


"Steve nggak suka Mom, Steve pengen pulang ke rumah Daddy Riko Mom," rengek Steve. Sehari tidak bertemu Juna dan Nayya serta mainannya Steve merasa lesu.


"Maaf Mom, Steve ingin selalu bersama Mommy tapi Steve mau di rumah Daddy." Steve memeluk tubuh Riana sang duduk di tepi ranjang.


"Untuk sementara kita harus disini Steve. Suatu saat kita akan kembali tapi bukan sekarang jadi Steve harus menguatkan Mommy." Riana mengelus pucuk kepala Steve.


***


Hari demi hari berlalu membuat Steve dan Riana mulai terbiasa dengan hidup sederhana. Riana yang selalu mengantar dan menunggu Steve ditawari menjadi guru TK di sekolah itu karena guru TK yang lama pindah ke luar kota. Riana juga sangat mencintainya pekerjaan barunya walau di bayar kecil namun Riana sangat senang. Lagi-lagi bukan materi namun kebagian. Tingkah lucu dan polos anak-anak muridnya termasuk putranya sendiri berhasil membuat hari-hari Riana begitu ceria namun tak jarang juga di buat pusing.


Setelah sekolah usai Riana dan Steve seperti biasa jalan kaki menuju rumahnya walaupun di desa itu orang-orang menggunakan motor untuk alat transportasi namun Riana lebih memilih berjalan kaki jika dekat dan naik ojek ketika jaraknya lumayan jauh seperti saat ke pasar.


Saat terlihat mobil berwarna hitam terparkir di depan rumahnya, Steve berlari karena Ia tahu mobil itu mobil siapa. Senyum dari keluarga langsung menyambut Riana yang langsung berlari seperti Steve.Riana mencium tangan Nani lalu memeluknya dengan erat begitu juga dengan Melati. Pertemuan itu begitu hanyut dalam kerinduan beberapa minggu ini. Begitu halnya dengan Juna dan Nayya yang langsung ceria dengan pertemuan itu bahkan Nayya bolos sekolah demi mengunjungi sepupunya itu.


Riana segera mempersilahkan masuk setelah momen melepas rindu usai. Rumah yang cukup sederhana juga perabot yang seadanya termasuk Sifa yang sudah usang kini di duduki keluarganya.


Riko menatap sekeliling rumah itu.Sebebarnya Ia yang membeli rumah itu namun Ia tidak tahu rumah yang di belinya itu begitu sederhana. Riko menyuruh orang untuk membelinya. Jangankan rumah mewah di kampung itu rumah-rumah nampak sama sederhananya hingga mau dicari di manapun rumahnya seperti itu juga.


"Kakak tidak nyangka kau bisa tinggal di rumah seperti ini Riana," celoteh Riko.


"Hus ngomong apa sih Mas, harusnya sebagai Kakak bangga." Melati seperti bernostalgia berada di rumah Riana. Letaknya di desa juga rumah yang sederhana mengingatkan Melati dimana asal usulnya dulu. Hidupnya berubah ketika menikah dengan Riko yang merubah seluruhnya termasuk kedua adiknya yang kini juga sukses dengan pekerjaannya.


"Minum Mom, Mbak, Kak." Riana menyajikan teh juga keripik yang di buatnya sendiri dari belajar di tempat Mbak Reni tetangganya yang berjualan keripik. Sesekali Riana membantu juga sambil belajar dan hasilnya keripik pisang sudah tersaji di toples saat ini.


Nani yang terus memperhatikan wajah Riana tersenyum bahagia begitu juga Melati. Dua orang yg selalu peka dengan kebahagiaan juga kesedihan di wajah Riana.


"Ceritakan apa yang kamu lakukan disini, Mbak Mel lihat kau tampak bahagia." Melati menarik tangan Riana untuk duduk diantara Ia dan Nani.


"Riana mengajar di sekolah Steve, Mbak. Bertemu dengan anak-anak yang lucu dan polos membuat Riana selalu bahagia." Cerita Riana.


Nani dan Melati antusias mendengar sementara Riko terlihat keluar. Suara riuh diluar Steve, Nayya dan Juna begitu kencang membuat Riko keluar rumah daripada mendengar cerita Riana yang menurutnya sangat konyol.


Setelah bercerita panjang lebar Riana bergegas ke dapur untuk memasak, Melati pun ikut membantu sementara Nani memilih keluar melihat riuh anak-anak bermain engklek. Tidak hanya Steve Juna dan Nayya, anak-anak yang lain di kampung itu yang merupakan teman bermain Steve ikut bergabung.