
Seminggu setelah kejadian itu.Perusahaan Wijaya Grup semakin merangkak naik bahkan melebihi sebelumnya.Perusahaan dagang raksasa itu bahkan merambah dunia hiburan dengan rencana pembangunan beberapa taman bermain sekelas Disneyland di beberapa kota besar.Proyek yang ditangani Riana dan Erick adalah salah satu proyek itu.Taman bermain yang digadang-gadang terbesar se-Asia.
Riana terus saja merekahkan senyumnya seusai meninjau pembangunan proyeknya itu.Akhirnya mimpinya selama bertahun-tahun lalu akan segera terwujud.Mimpi yang dari awal terpatri dalam otaknya demi mempersembahkan untuk orang yang paling berharga dalam hidupnya, Steve.
Steve adalah segalanya bagi Riana karena Steve ia berubah menjadi pribadi yang lebih baik.Steve juga yang membuatnya menjadi wonder women hingga mampu berdiri di puncaknya sekarang.Entah apa yang terjadi pada hidupnya jika Steve tidak hadir dalam hidupnya.
Riana terus menatap foto Steve yang tersimpan di galery ponselnya.
"Kau merindukan Steve?" Erick yang mengamati Riana menyimpulkan hal itu.
"Aku sudah tidak sabar Erick, proyek kita selesai.Aku ingin mengajak Steve kesana sebagai pengunjung pertama karyaku," cerita Riana antusias.
"Kau tahu aku menjanjikan itu saat Steve masih sangat kecil dan akhirnya setelah sekian tahun janji itu akan segera terkabul.Putraku itu sudah sangat menderita dengan terlahir dari rahim wanita sepertiku." Riana menitikkan air mata mengingat masa lalu kelamnya.
Erick langsung mendekap tubuh kuat namun juga seketika menjadi lemah.
"Seharusnya dulu, aku menahanmu.Mungkin kesakitan itu tidak pernah terjadi." Sesal Erick.
Erick bahkan tidak berusaha menahan wanitanya itu dengan usaha kerasnya.Mungkin sejak dulu Ia dan Riana sudah bahagia.
"Jika itu kau lakukan, kau tidak akan melihatku seperti ini."
Perubahan besar pada diri Riana adalah masa lalu kelamnya yang membuatnya menjadi wanita tegar, kuat dan berani melawan siapapun demi membahagiakan buah hatinya Steve.
"Aku bangga padamu." Erick menatap lekat wajah Riana.
Ehem
Suara dehaman Putra, anak buahnya yang sudah lama bekerja dengannya membuatnya salah tingkah.Hampir saja pria itu melancarkan aksinya berciuman mesra dengan wanitanya namun ia tersadar saat Putra berdeham.
Riana hanya tersenyum dengan aksi konyol Erick yang tanpa filter padahal saat itu ad Putra yang sedang menyetir mobil itu
Riana menatap wajah pria yang kini juga banyak berubah.Pria pemalu dengan aura dinginnya itu berubah menjadi pria yang hangat hingga mampu meluluhkan hatinya yang membeku.Riana sempat menarik diri karena berpikir semua pria seperti Niko yang hanya ingin menikmati manis sesaat lalu dibuang saat sudah sepah.Pria itu membuktikan dengan selalu membantunya dan datang saat ia membutuhkannya.Ketulusan itu benar-benar didapat dari seorang Erick.
Mobil Erick berhenti di sebuah restoran mewah tempat dimana makan besar sebagai rasa syukur keluarga Wijaya di adakan.Riko membooking tempat itu khusus untuk acaranya malam ini.
Riko mengundang seluruh karyawan di kantornya serta kantor keduanya dibawah pimpinan Riana.
Para karyawan itu begitu dimanjakan dengan segala jenis makanan yang telah disediakan.Semua nampak bergembira dengan sikap royal atasannya itu.
Anggota keluarga Wijaya nampak berkumpul dengan melingkari meja makan berisi berbagai jenis hidangan.
Penampilan Juna juga Steve begitu memukau, keduanya terlihat tampan dengan setelan jas sementara Nayya nampak anggun dengan dress pink juga rambutnya yang dibentuk cepol dengan hiasan bunga besar semakin membuat penampilannya semakin manis.
"Uh, peluk Mommy, Aunty." Riana berjongkok menerima pelukan hangat ketiga malaikat kecil di keluarganya.
"Kalian tampan dan cantik," puji Riana.Menciumi satu persatu diantara mereka.
Ketiganya lalu kembali memeluk Riana membuat Erick semakin terpesona dengan kelembutan hati calon istrinya itu.
Semuanya kini sudah duduk di kursi masing-masing bersiap untuk menyantap hidangan di meja putar itu
"Nikmati acara makan ini Erick." Riko mempersilahkan Erick untuk mengambil makanan terlebih dahulu sebagai penghormatannya karena semua permasalahan di perusahaannya, Erick lah yang mengatasi.
"Aku mau," sergah Juna.
"Aku dulu." Steve tidak mau kalah.
"Nayya makan yang banyak, sayang." Riana menaruh lauk di piring Nayya.
"Terima kasih, Aunty." Nayya tersenyum manis menatap Riana yang tepat berada di sampingnya.
"Mbak, kau juga." Riana mengambil lauk untuk kakak iparnya juga.
"Terima kasih Riana." Melati tersenyum menatap Riana.
Malam itu benar-benar seluruh orang yang berada di tempat itu bahagia serta dimanjakan karena mereka semua kekenyangan dengan acara makan besar itu.
.
.
Setelah acara makan selesai keluarga itu tampak berbincang-bincang.
"Erick, aku ingin kalian berdua segera menikah." Riko berbicara santai namun penuh ketegasan.
"Benar Nak Erick, Riana sudah cukup menderita kini saatnya kau membahagiakan dia." Nani ikut menimpali ucapan Riko.
"Bagaimana kalau bulan depan?" cetus Nani.
Seketika Riana menahan malu karena terlihat Mommy Nya begitu terburu-buru.
"Mom, kami akan menentukan kapan pernikahan kami sendiri, iya kan Erick?" Riana menatap wajah Nani lalu beralih ke Erick.
"Aku menurut apa katamu, Riana."
"Kalian memang pasangan serasi, kau Erick suami idaman yang mendengar perkataan calon istri," sergah Melati.Menatap Erick penuh puja.Secara tidak langsung ucapan Melati membuat pria yang duduk disampingnya merasa tersindir.
Ehem
Riko berdeham
"Tentu saja seperti suamiku ini." Melati bergelayut di bahu Riko membuat pria yang cemberut itu berubah senang dengan pujian dari istrinya.
Erick dan Riana pun tampak menahan tawa dengan sikap CEO Wijaya Grup itu.
Setelah acara makan itu selesai Erick mengantar Riana pulang juga Steve yang tertidur di pangkuan pengasuhnya.
"Bagaimana, apa kau setuju kita menikah bulan depan?" Erick kembali mengingat tawaran mami Riana saat di restoran tadi.
"Kau ini bicara apa, kenapa harus terburu-buru.Kita ini menikahkan keluarga bukan hanya kita berdua.Aku juga belum bertemu orang tuamu, kan?" Wajah Riana sedikit memerah dengan tawaran Erick.Pria itu memang sudah tidak sabar memperistrinya.
"Aku sudah menunggumu bertahun-tahun, kau masih bilang aku terburu-buru." Erick menatap wajah Riana sekilas lalu kembali fokus ke jalanan.
"Betul Nyonya, tuan Muda pun sudah tidak sabar, katanya ingin segera punya papa baru." Pengasuh Steve pun ikut berbicara.
"Steve mengatakan itu?" Riana menoleh sekilas ke pengasuh Steve dengan alis berkerut.
Riana jelas belum mengatakan apapun pada Steve karena takut Steve tidak menerima Erick nantinya namun Steve malah mengatakan hal itu.
"Siapa yang memberi tahunya?" Riana sedikit berpikir lalu melirik Erick namun pria itu menggeleng.
"Kak Riko!" pekik Riana membuat pria yang baru saja memasuki mansion- nya itu terbatuk-batuk.