Perfect Life

Perfect Life
Bab 32. Malam Kedua Yang Gagal



Erick dan Riana menuruni tangga menuju ruang makan.Pasangan itu terlihat bahagia membuat Melati yang mengawasi mereka dari ruang keluarga tersenyum senang.


Ehem


Lagi-lagi prianya itu jealous dengan sikapnya.Entah mengapa prianya itu tidak senang saat dirinya tersenyum menatap pria lain meski itu adik iparnya sendiri.


"Ayo kita makan!" Melati menarik tangan suaminya yang fokus menatap layar gawai-nya sementara Riana dan Erick sudah berada di ruang makan.


Keluarga itu sudah berkumpul di ruang makan namun Nani tidak terlihat.


"Dimana Mommy?" Riana menatap kursi yang masih kosong, tempat dimana Nani biasa duduk.


"Kau lupa, Mommy tidak enak badan," sahut Riko.


"Oh my God, kenapa aku melupakannya." Sejak mengetahui dirinya positif hamil, Riana sibuk memikirkan nasibnya hingga melupakan keadaan Mommy-nya.


Saat itu Riana hendak bangkit namun ditahan Erick."Makan dulu, setelah itu temui Mommy!"


"Betul Riana makan dulu, apa kau sudah lebih baik sekarang?" tambah Melati.


"Seperti Mbak lihat, saat ini aku sangat baik."


Suasana ruang makan itu tampak hening hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu namun keheningan itu nampak sangat aneh hingga dipertanyakan Riana.


"Dimana Steve, Juna, Nayya?" Menatap Melati.


"Seperti biasa malam Minggu, Dani dan Mawar membawa mereka jalan-jalan ke Mall."


Kedua adik Melati memang tidak pernah absen membawa ketiganya jalan-jalan saat malam minggu tiba.Suasana rumah yang biasanya cukup ramai dengan riuh ketiga malaikat kecil itu nampak begitu sepi.


"Tadi pagi, Kakak ingin mengatakan apa?"


Melati yang tidak mengerti arah pembicaraan Riana melirik sekilas suaminya yang tepat berada di sampingnya.


"Apa maksudmu?" Riko balik bertanya saat itu mengedipkan matanya beberapa kali membuat Riana dan Erick mengerti.


Melati yang menyadari hal itu sedikit kesal karena ada sesuatu yang mungkin sedang disembunyikan suaminya.Siasana sedikit mencekam karena Nyonya rumah itu terlihat menyeramkan seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


"Aku sudah selesai, Kak." Riana bergegas pergi dengan menarik tangan Erick, Ia tidak ingin kena imbas dari sikap kakaknya.


Erick dan Riana yang sengaja sembunyi akhirnya keluar setelah melihat Kakak juga iparnya itu masuk kamar mereka.


"Siap-siap tutup telinga, sepertinya akan ada perang dunia ketiga."


Riana menarik tangan Erick melewati kamar Kakaknya menuju kamar Mommy-nya yang berada di paling ujung , tentu saja ruang ternyaman karena tidak akan terdengar perang dunia ketiga itu dari sana.


Tok ....


Tok ....


Riana mengetuk pintu dan langsung masuk ke kamar Nani.Senyum Nani langsung menyambut pasangan pengantin baru itu."Kalian, kenapa malah kesini?"


"Mommy." Riana langsung memeluk Nani dengan erat. "Maafkan anakmu yang durhaka ini Mommy karena baru melihat Mommy." Riana mengurai pelukannya.


"Mommy baik-baik saja, setelah istirahat Mommy akan segera pulih.Kalian istirahatlah, kalian kan seharian kerja." Nani menatap Riana beralih ke Erick yang nampak terlihat lelah.Ya karena Riana tidak ke kantor membuatnya sedikit sibuk karena mengerjakan pekerjaan seharusnya menjadi pekerjaan keduanya menjadi pekerjaannya seorang diri.


"Sudah sana!" perintah Nani.


Riana langsung mengangguk perkataan Mommy nya itu.Keduanya melangkah pergi menuju kamar mereka.


Namun wajah Erick yang tadinya lemas tidak bergairah menjadi begitu bersemangat saat sudah berada di kamar.Erick langsung mengangkat tubuh Riana ke bahu kekarnya.


"Erick, turunkan aku!" pekik Riana.


Erick pun menurunkan tubuh Riana tepat di atas ranjang dengan posisi tubuhnya mengungkung tubuh Riana.Pria itu langsung ******* bibir Riana penuh nafsu membuat Riana tidak bisa menolak.Keduanya menikmati kecupan hangat penuh candu itu.


"Kau menyukainya?" ucap Erick saat sudah melepas pagutannya


Riana mengangguk membuat Erick kembali ******* bibir Riana namun kali ini Ia memainkan lidahnya yang juga dibalas Riana.Disaat keintiman itu semakin dalam, tiba-tiba Riana mendorong tubuh Erick hingga pagutan keduanya lepas.


Saat itu Riana terlihat bingung seperti menyadari sesuatu. "Maafkan aku Erick."Riana menunduk dengan sikap ketidakmampuannya.


Erick yang menyadari hal itu hanya tersenyum, Ia tidak ingin memaksakan kehendaknya tanpa persetujuan wanitanya.Riana mungkin mengalami trauma di masa lalunya hingga membutuhkan waktu untuk bisa menerimanya secara utuh.Ia tidak ingin memaksa kehendaknya karena sama saja menyakiti raga orang yang begitu dicintainya itu.


"Tidak apa-apa Sayang, aku mengerti." Erick membaringkan tubuhnya disebelah wanitanya, memeluk tubuh wanitanya dengan penuh kasih sayang.Walaupun sesuatu dibawah sana menuntut lebih, Ia berusaha meredamnya karena Ia akan menunggu sampai saat wanitanya siap.


"Maafkan aku Erick, aku seharusnya mengatakan semuanya sebelum kau menyesali semuanya," gumam Riana menatap wajah prianya yang terus tersenyum menatapnya.