Papa, I Need A Mama

Papa, I Need A Mama
Episode 9



Hendrawan, terheran mengapa ada seorang gadis yang duduk di gerbang rumahnya. Ini, masih sangat pagi, dia bertanya-tanya mungkinkah itu adalah pegawai di rumahnya? Atau, lainnya. Dengan segera, dia menghubungi Alif, dengan menggunakan telepon rumah.


" Iya Pa, kenapa ? "


" Nak, Papa dari atas sini melihat, ada seorang gadis memakai blazer warna merah,dia di depan gerbang rumah kita. Dia, duduk, sembari memeluk tubuhnya. Pak Karim, belum bertugas! "


" Oh iya Pa, itu Jihan atau Jamia . Tapi, mengapa dia begitu pagi datang kemari! "


" Ya Tuhan, dia anakku. Papa ingin melihatnya, mari kita temui dia bersama ! "


" Ayo ! "


Keduanya, menaiki lift, dan, turun ke bawah. Segera setelahnya, Alif, dan, Hendrawan menuju gerbang rumah, dan, membukakan gerbang tersebut.


" Assalamualaikum, Jihan mengapa kamu datang begitu pagi ? "


" Wa'alaikumusallam, iya Kak Alif. Em, nanti saya bicarakan tentang ini setelah kita berada di kantor! "


" Oh, baiklah. Eh iya Ji, ini Papa saya, Hendrawan Samiaji ! "


Jihan, menundukkan kepalanya.


" Hallo, saya Jihan ! "


Hendrawan, menatap nanar wajah putrinya. Sementara itu, Jihan menatapnya heran.


" Pak, anda tidak apa-apa kan ? "


Pria paruh baya itu, menggeleng sebagai jawaban.


" Papa tidak apa-apa Ji, kamu masuk dulu kita bicarakan di ruang kerjaku sebelum berangkat ke kantor ! "


" Baik Kak ! "


Hendrawan, terus memperhatikan putrinya dari kejauhan. Rasanya, ingin sekali dia memeluk tubuh putrinya. Tetapi, gadis itu pasti akan merasa risih. Karena, saat ini, dia masih belum bisa mengungkapkan faktanya.


" Nak, kamu baik-baik saja Papa sudah bahagia. Maafkanlah Papa, yang belum bisa mengenalkan kamu ke publik! " batin Hendrawan.


...----------------...


" Senangnya hatiku, aku sebentar lagi punya Mama. Nananananananana ! "


Aqila, pagi ini bersenandung kecil, dia akan memiliki ibu sambung. Jihan, akan menikah dengan Bisma Papanya, tetapi pria itu datang dengan wajah kusutnya.


" Papa, kok sendirian sih ? Mamanya Aqila mana ? "


Bisma, menghampiri putrinya, dia mensejajarkan tubuhnya, dan, meminta maaf padanya.


" Jadi, Kakak cantik tidak mau menikah dengan Papa ? "


" Maafkanlah Papa sayang, kenyataannya begitu! "


Sebenarnya, bukan itu kenyataannya. Bisma, kesal, dan, kecewa pada kekasihnya. Karina, dia tidak pernah mau mengunggah kebersamaan mereka di sosial media. Alasannya, karena dia, takut penggemarnya akan berkurang. Bisma tidak ingin dikenal sebagai pria kaya raya, karena takut akan banyak wanita yang modus padanya, dan, juga putrinya Aqila. Selama ini, dia menggunakan nama samaran yaitu Brian Abimanyu. Dan, dia juga tidak pernah sekalipun mau ada orang yang mewawancarainya, di tempat terbuka. Atau meminta fotonya karena, alasan privasi.


Aqila mendongak menatap wajah sang Ayah, ternyata wajah Bisma begitu sedih. Dan, Aqila, tidak tega melihatnya. Dia, mengelus wajah Papa nya, yang tampan itu, kemudian memeluk tubuhnya. Berusaha, menenangkan Bisma.


" Sepertinya, Aqila tahu, mungkin Papa terlalu terburu-buru. Begini Pa, kalau mengejar seorang wanita itu, harus bersikap baik. Papa kan, sudah menampar pipi kakak cantik, itukan perbuatan buruk. Bagaimana bisa kakak cantik mau sama Papa? "


Bisma merasa tersindir, saat putri tercintanya memberinya sebuah nasihat.


" Papa, sudah minta maaf belum sama kakak cantik ? "


Bisma menggeleng,


" Aduh, Papa kok bodoh sih ! "


" Ya ampun Nak, kamu kok berbicara seperti itu? Tidak baik sayang ! "


Dewi, nenek Aqila, yang baru datang menasihati putri Bisma tersebut.


" Iya Nenek, habisnya Papa masih belum minta maaf sama kakak cantik. Bagaimana bisa kakak cantik mau sama Papa, kalau minta maaf saja belum? "


" Betul apa yang dikatakan anakmu Bisma. Seharusnya, kamu meminta maaf pada gadis itu ! "


" Baiklah, nanti aku akan meminta maaf padanya! "


" Baguslah kalau begitu! "


" Papa, Nenek, Aqila mau les Bahasa Inggris dulu ya. Itu, Ibu Gladys sudah datang! "


Aqila, menyalami kedua orang tua tersebut, dia menghampiri guru privat nya, dan mengajaknya ke lantai atas.


" Memangnya, kau serius ingin menjadikan dia istri Nak ? "


" Hanya satu tahun, karena, aku akan menikah dengan Karina Ma ! "


" Oh, jadi kau ingin membuat sebuah perjanjian? "


" Benar Ma, aku akan memberikan apapun yang dia mau. Asalkan, dia mau menjadi Istriku! "


" Ya terserah jika itu sudah menjadi keinginan kamu ! "


" Terimakasih Ma, sudah mau mendukungku ! "


" Iya, sama-sama! "


Bisma, berpamitan pada Ibunya, dia akan pergi bekerja di kantor. Sembari, mencari tahu tentang Jihan .


...----------------...


" Kak Alif, saya mau mengundurkan diri! "


" Hah? Kenapa? "


" Abah, dan, Ema saya di kampung sudah sangat tua. Tidak ada yang menjaga keduanya. Kakak-kakak saya, sudah berumah tangga. Mereka, hanya bisa mengirimkan uang saja. Tanpa bisa, merawat keduanya! "


" Lalu, kamu akan menjaga keduanya begitu? "


Jihan, mengangguk sebagai jawaban.


" Maafkanlah saya, Kak ! "


Sebenarnya, bukan tanpa alasan Jihan mengundurkan diri. Karena, semalam setelah pulang dari apartemen Bisma. Dia, mendengarkan sebuah, percakapan tentang dirinya, dari seseorang di luar kamarnya. Itu, adalah orang suruhan Alif, yang sudah lama membuntutinya. Jihan, yang salah paham, dan, tidak tahu faktanya, mulai membenci Alif . Ditambah lagi, semalam dia, menerima panggilan masuk dari keluarganya. Kakaknya, Widya, memintanya untuk merawat kedua orang tuanya. Widya sendiri, tidak bisa merawat keduanya. Karena, suaminya melarang. Padahal, itu adalah orang tua kandungnya sendiri.


Sembari menangis, Widya meminta maaf padanya. Dia juga, bercerita jika Jihan tidak boleh salah dalam memilih suami. Dia, menyesal sudah memilih Suaminya saat ini. Sang suami, pemahaman agamanya kurang, hanya memberikan dia nafkah saja, tidak pernah mau shalat berjamaah, bahkan mengurus anak-anak pun tidak mau.Dan, yang lebih parahnya lagi, pria itu tidak mengizinkan dirinya pergi berkunjung ke rumah orang tuanya. Sungguh ironis memang, tetapi nasi sudah menjadi bubur . Sekarang, Widya hanya bisa pasrah, dan, menuruti perintah dari suaminya.


" Em, Baiklah. Tetapi, jika terjadi sesuatu padamu. Kamu beritahu Kakak, dan, jika kamu kekurangan uang. Kamu minta saja pada Kakak! "


" Tidak terimakasih, oh iya Kak, jangan pernah mengikuti saya lagi. Kemarin malam, itu orang suruhan Kakak kan? Saya bukan penjahat, jadi tolong jangan seperti ini. Bukankah, anda juga sudah memiliki tunangan? Sebaiknya, anda tidak perlu lagi menguntit saya. Kalau begitu, saya pamit Assalamualaikum! "


" W... Wa'alaikumusallam ! " jawab Alif lirih.


Alif, menatap nanar punggung adik kandungnya. Dia, merasa menyesal, masih belum bisa mengungkapkan fakta tentang Jihan. Dia, jatuh terduduk di lantai kantornya tersebut. Ternyata, hari ini adalah makan siangnya yang terakhir bersama sang adik. Dia, bingung harus bagaimana.


" Aku harus menghubungi Papa, dan, Mama. Memberitahu ini pada mereka ! "


" Tidak Pak Bisma, tidak Pak Alif. Semua orang kaya sama saja. Aku benci orang kaya, maunya menang sendiri. Tidak ingin mengerti perasaan orang lain. Apalagi, manusia yang tidak setara dengan mereka seperti aku ini . Astaghfirullah, hampir saja aku emosi tadi ! "batin Jihan.


Bersambung...