
Selama kurang lebih 18 jam perjalanan, akhirnya Bisma, dan, sang istri sampai juga di Amerika Serikat. Di bandara internasional ini, sudah ada pesuruh Mr. Edward Chen, klien bisnisnya.
" Selamat Siang Mr. Bisma, senang bertemu denganmu. Saya, Louise Alexander ! "
" Selamat Siang Louise! "
" Mari saya bantu bawakan barang bawaan anda ! "
" Baik terimakasih! "
" Ya , sama-sama. Ah itu, siapa Mr. Bisma? "
" Ah, dia istri saya! "
"Ah benarkah? Jadi, beliau adalah ibu dari Nona Aqila ya ? "
Bisma menggeleng,
" Tidak, dia adalah ibu sambungnya. Tapi, Putriku sangat menyayangi dia, begitu pula denganku ! "
" Aih, Tuan Bisma romantis sekali! "
Jihan, tersipu malu, dibuatnya, mendengar perkataan sang suami, membuat perasaannya membaik. Karena, dia sangat mencintai Bisma, dari lubuk hatinya yang paling dalam dia tidak ingin bercerai dari suaminya. Karinalah, yang harus pergi dari kehidupan Bisma, karena pria itu sudah menjadi suaminya.
" Bolehkah aku egois ? " batin Jihan.
" Sayang, kok melamun sih. Ayo cepat, kita susul Louise! "
" Iya Mas, maaf ya ! "
" Tidak apa-apa, ayo sekarang kita jalan ! "
Jihan,mengangguk sebagai jawaban, dan, keduanya berjalan menuju mobil jemputan.
...----------------...
Perjamuan makan malam, Bisma, dan, Jihan akan diadakan di The Plaza Hotel, Amerika Serikat. Saat ini, sepasang suami istri, tengah memilih pakaian untuk di pakai di acara tersebut. Bisma, membelikan dress yang sedikit terbuka untuk sang istri. Jihan, terlihat tidak menyukainya, wanita itu tidak ingin tubuhnya dilihat banyak orang nantinya .
" Mas Bisma, nanti malam seriusan aku pake baju ini ? "
" Iya sayang !"
" Mas gimana sih, aku istrinya Mas loh. Yang, ada nanti aku malah jadi sorotan pria lain. ! "
" Tidak apa-apa, sesekali saja sayang. Karina juga sering loh, pake dress seperti ini. Nantinya, kamu akan terbiasa kok ! "
Jihan, menatap Bisma penuh rasa kecewa. Sepertinya, semua yang dikatakan oleh pria dihadapannya ini, hanyalah sebuah kebohongan.
" Jawaban itu, bukanlah yang aku inginkan Mas. Sepertinya, pulang dari sini, aku benar-benar harus pergi darimu. Masalah ganti rugi, aku rasa Mama dan Papa tidak masalah, jika harus membayar denda sebesar 5 milyar. " batin Jihan.
" Oke, tapi ada syalnya tidak ? Kalau ada kan, bisa nutupin bagian punggung aku yang terbuka ini ! "
" Oh, ada kok, Ini sayang! "
Jihan tersenyum paksa, dia kemudian menerima syal yang diberikan oleh Bisma.
" Terimakasih Mas ! "
Bisma, mengangguk.
" Oke ! "
" Tolong ya Nona, besok perjamuannya. Dan, kami akan ke sini, sekitar pukul 16.30 ! "
" Baik, Tuan. Terimakasih, sudah memilih kami ! "
" Iya, sama-sama ! "
Sepasang suami istri itu, kini berjalan bergandengan tangan. Walaupun, dalam hati sang istri tengah kecewa, karena, suaminya itu, masih saja membandingkan dia, dan, tunangannya yang seksi itu. Padahal, dia dan, si tunangan sangat jauh berbeda. Dimana, Jihan, lebih suka pakaian yang sopan, sedangkan, Karina, lebih menyukai pakaian yang seksi, yang membuat kaum pria tergoda.
" Sayang, kenapa dari tadi kamu diam saja ? "
Jihan, menoleh menatap wajah sang suami, Bisma spontan menghentikan langkahnya.
" Mas, bisakah kamu memilih antara aku, dan, Mbak Karina? Pilihlah salah satu dari kami ? "
" Apa Maksudnya? "
" Kamar kita sudah dekat, kita bicarakan di kamar saja ! "
Bisma, mengangguk sebagai jawaban. Jihan, berjalan mendahului suaminya, sedangkan Bisma, menjadi heran dengan tingkah laku sang istri, yang tiba-tiba seperti itu. Dimana, dia melihat guratan kekecewaan pada wajah cantik istrinya tersebut.
" Aku, kunci pintunya supaya kita bisa berbicara dengan tenang. Apa yang ingin kamu katakan sayang? "
Jihan, menoleh ke arah suaminya yang, kini sedang berjalan, menghampiri dirinya. Duduklah Bisma, disampingnya, kemudian pria itu mengusap lembut pipi sang istri.
" Aku, ingin menjadi istri sahmu, aku tidak ingin posisi ini. Mas, aku tahu aku salah sudah jatuh cinta padamu. Tolong, jawablah pertanyaanku, siapakah yang akan kau pilih Aku atau Mbak Karina? Aku, hanya ingin memastikan kebenarannya. Siapakah wanita yang kau cintai, istri siri-mu ini, ataukah, tunanganmu? "
Bibir Bisma ,seolah kaku, dia gelagapan., dia tidak bisa menjawab pertanyaan sang istri. Sehingga, membuat Jihan, berdiri, sembari mengusap air matanya yang, saat ini keluar tanpa kompromi. Rasa sesak di dada membuat Jihan, memukuli dadanya yang sangat sakit itu. Melihat, perbuatan sang istri, Bisma mencegah Jihan, menahan lengan sang istri, agar tidak memukuli dadanya lagi.
" Berhenti melakukan hal ini, kau akan kesakitan Jihan ! "
" Aku, memang sudah sakit. Aku terlalu sombong, karena, dulu aku selalu mengira, tidak akan pernah jatuh cinta padamu. Tapi, kini, aku mencintaimu dengan tulus Mas, aku bahkan tidak pernah terpaksa jika kau meminta hakmu padaku. Aku, melayani kamu penuh cinta, aku suka padamu. Aku, juga sangat menyayangi Aqila, dia sudah seperti anakku sendiri. Sikapmu yang lembut ini, membuatku merasa nyaman bersamamu. Makanya, aku tidak mau munafik, berharap jika aku bukan sekedar istri siri-mu, tapi aku ingin menjadi istrimu yang sah, secara hukum. Tapi, sepertinya itu tidak bisa, cintamu padanya begitu besar. Mana mungkin, kau mengenalku, baru dua bulan ini. Maaf, aku terlalu bermimpi menjadi pendampingmu. Aku terkena hukuman, dimana saat aku keluar dari perusahaanmu, aku telah mengejek calon istrimu itu. Hah, Maaf sekali lagi aku minta maaf ! "
Setelah mengungkapkan segala keluh kesahnya, Jihan membalikan tubuhnya. Dia, bergegas pergi ke tempat tidur, dan, membaringkan tubuhnya. Sedangkan, Bisma dia tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya. Bingung, itulah yang ada dipikirannya. Dia sangat mencintai Karina, sedangkan dia juga menyayangi Jihan. Rasanya, dia ingin keduanya . Tapi, Jihan berbeda, wanita itu ingin dirinya menjadi satu-satunya, bukan sekedar istri siri saja. Dia, ingin menjadi istri sahnya, karena , wanita muda itu mencintainya.
" Mas Bisma, setelah ini mari kita tidak bertemu satu sama lain ! " batin Jihan.
" Jihan, bisakah kamu tidak bersikap seperti ini? Jangan kau memberikan aku pilihan seperti itu, aku tak bisa memilih! "
Tubuh Jihan bergetar, dan, Bisma bisa melihatnya. Niat hati, membawa Jihan untuk berbulan madu, tapi malah seperti ini.
" Jihan, aku ..."
Dering suara ponsel milik Bisma, berbunyi, sialnya lagi itu adalah panggilan masuk dari sang kekasih. Yang, saat ini, memicu terjadinya pertengkaran antara Jihan , dan, juga dirinya .
" Sayang, ini panggilan masuk dari Karina . Aku ..."
" Angkatlah, dia lebih penting bagimu. Sudahlah, aku lelah,ingin beristirahat! "
Jihan, menarik selimutnya, dia mencoba untuk memejamkan matanya. Sedangkan, Bisma, masih dalam diamnya, tidak menerima panggilan masuk dari sang kekasih hati. Dia, hanya diam, memandangi punggung sang istri, yang membelakangi dirinya. Tidak lama kemudian, Karina menghubunginya kembali, dan, terpaksa Bisma mengangkatnya.
" Ya Allah, inikah rasanya jatuh cinta? Mengapa begitu sakit? Orang bilang jatuh cinta itu hal yang menyenangkan, nyatanya tidak . Aku, justru tersiksa oleh perasaan ini! " batin Jihan.
Butiran-butiran bening air matanya, jatuh membasahi pipinya. Lagi dan lagi, dia menangis karena, suaminya.
Bersambung...