Papa, I Need A Mama

Papa, I Need A Mama
Episode 53



Bisma, mengompres wajah sang istri,yang lebam akibat dari perbuatan Karina. Dia, menangis tiada henti melihat sang istri, terbaring lemah di ranjang pasien. Perut Jihan juga terluka, karena di tendang oleh Karina. Tetapi, untungnya kandungan Jihan kuat, dan, dia tidak mengalami keguguran sama sekali. Antara bersyukur, dan, sedih semuanya melebur menjadi satu.


" Ya Allah, sembuhkanlah istriku, aku tidak ingin melihatnya seperti ini! " batin Bisma.


Tangan Jihan, perlahan sedikit bergerak membuat Bisma yang sedang menggenggam erat tangannya, terkejut. Dia, segera memanggil dokter agar, dokter tersebut datang ke ruangan Jihan.


" Bagaimana Dok? "


" Alhamdulillah, ada perkembangan yang bagus. Mungkin sebentar lagi, Bu Jihan, akan segera pulih! "


" Aamiin, terimakasih banyak Dok ! "


" Sama-sama, saya harap Bapak jangan pernah meninggalkan Bu Jihan ya. Karena, saya lihat reaksi beliau saat bersama anda begitu berbeda! "


" Aamiin, Masyaallah ! "


" Baik Pak Bisma, saya memeriksa keadaan pasien lainnya ya ! "


" Sekali lagi, terimakasih banyak ya ! "


" Baik, sama-sama. Sudah menjadi tugas saya kok, jangan khawatir! "


Setelah itu Dokter, Winda segera pergi meninggalkan Bisma, dan, Jihan. Bisma, kembali ke samping ranjang, dan, duduk di kursi jaga. Dia, mengecupi punggung tangan sang istri.


" Sayang, tolong sadarlah, aku mencintaimu sungguh. Saat ini, aku sedang tidak berbohong, aku benar-benar mencintai kamu. Aku, tidak sanggup jika harus melihatmu seperti ini. Maaf sayang, aku terlambat menolongmu hiks ! "


Air matanya mengalir membasahi pipinya, Bisma, tidak bisa menahan kesedihannya. Sungguh, dia tak sanggup jikalau harus melihat istrinya terbaring lemah di ranjang pasien ini. Padahal, sang istri masuk rumah sakit, baru beberapa jam yang lalu. Dan, dirawat sekitar 1 jam . Tapi, Bisma begitu lemah melihat kondisi sang istri, wajahnya yang cantik, kini dipenuhi oleh luka bekas tamparan keras kuku Karina. Tangannya pun, banyak sekali luka, hingga perut Jihan pun, ada noda kebiruan bekas tendangan wanita iblis itu.


" Aku salah sayang, aku minta maaf. Tolong, kamu segera sadar, bukankah kita akan segera menikah? "


Bisma, kembali menangis. Istrinya ini masih belum pulih, dia sungguh tidak ingin melihat Jihan menderita seperti ini. Dia, berdoa semoga Jihan segera pulih, dia sudah membereskan tentang Karina. Tadi siang, saat Jihan diantar ke rumah sakit, ditemani oleh Aqila, dan, Ibunya. Dia, dan, Papanya pergi untuk menemui Angelina, guna mengembalikan cincin pertunangan dirinya dan Karina.


Di luar dugaan, Angelina, justru menerima kenyataan pahit ini. Dia, meminta maaf padanya, dan, juga sang ayah. Karena, tidak mengurus Karina dengan baik. Dan, kini dia memasrahkan Karina, pada pihak berwajib. Dan, usut punya usut Karina, menjadi seseorang yang gila **** karena, dia memakai jimat dalam tubuhnya. Sehingga, dia yang seorang wanita bisa melayani hasrat pria sebanyak yang pria itu mau. Maka dari itu, Angelina memanggil seorang ustadz untuk mendoakan anaknya. Jadi, siang tadi Bisma tidak bisa menemani Jihan, karena mengantar Angelina, dan ustadz untuk mendoakan Karina, di dalam sel.


" Sayang, kamu tahu tidak. Jika, bukan karena ilmu pelet Karina, mungkin aku tidak akan bersamanya. Aku, yang kurang iman ini, bisa dengan mudahnya terkena sihirnya. Tapi, semenjak ada kamu, aku merasakan cinta yang benar-benar cinta. Bahkan, aku selalu menginginkan kamu, berbeda sekali ketika bersama Karina. Aku, tidak pernah merasa seperti itu. Pun, denganmu aku merasa hidupku tentram, apalagi saat belajar shalat dan mengaji. Rasanya, tidak bisa aku jelaskan. Sayang, kamu harus tahu, diam-diam aku belajar mengaji, dan, membaca doa pada Charlie. Aku, yang cerdas ini, bisa belajar dengan cepat, dan, hanya dalam tempo 1 Minggu aku bisa menguasai pelajaran yang Charlie ajarkan ! "


" Narsis! "


Bisma, menatap wajah sang istri. Ternyata, Jihan sudah sadar, dia menatap wajahnya sembari mengeluarkan senyumannya.


" K...kamu sudah sadar sayang ? "


Jihan, tersenyum manis, dan, Bisma memeluk tubuh nya dengan spontan.


" Awhh, M...Mas sakit! "


" Astaghfirullah, Maaf sayang, mas tidak sengaja!"


Bisma, segera melepaskan pelukannya, dia meminta maaf kepada sang istri. Karena, sudah terlanjur memeluk tubuhnya.


" J... Jihanlah yang meminta maaf pada Mas . Karena, sudah merepotkan Mas ! "


Bisma, menggeleng. Dia, kemudian duduk kembali di kursi jaga.


" Mas, yang minta maaf. Karena, Mas telat menolongmu ! "


." Tidak apa-apa, Aqila banyak membantuku kok. Dia, memukuli Mbak Karina, dengan tangan mungilnya itu. Aku, terharu karena Aqila begitu menyayangi aku, padahal, aku hanya ibu sambungnya! "


" Ah iya deh, aku memang seperti ini. Karena, aku juga tidak pernah merasakan apa itu rasanya dicintai ! "


" Sekarang, kamu tahu kan rasanya dicintai? "


" Rasanya, manis, asam dan asin. Campur aduk, kadang menyakitkan, kadang membahagiakan, kadang juga membingungkan! "


" Ya itulah Cinta, tapi insyaallah kedepannya aku tidak akan pernah menyakiti kamu, dengan menduakan cintamu. Aku, akan menjadikan kamu yang ke-tiga, dan, yang terakhir untukku! "


" Pertama ada Mamaku, ke-dua Aqila, dan, ke-tiga kamu sayang! "


" Hampir saja aku putus asa, ternyata ini. Terimakasih ya Mas ! "


Bisma, mengangguk, sembari tersenyum manis.


" Sama-sama sayang ! "


" Mas, semoga kita menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita nantinya. Jangan, sampai mereka kurang kasih sayang dari kita kedua orang tuanya! "


Bisma, mengangguk.


" Tentu sayang, kita akan menjadi ayah dan ibu yang baik untuk anak-anak kita! "


" Aamiin Ya Robbal'alamiin, Mas mau pipis tapi sakit enggak bisa gerak ! "


" Ya sudah Mas gendong ya. Nanti, Mas bantuin bersihin kamu ! "


" Baik Mas, terimakasih sebelumnya! "


" Iya, sama-sama! ".


Bisma, menggendong sang istri ala bridal style. Dia, meletakkan tubuh sang istri, pada Kloset duduk. Dan, membantu menurunkan celana sang istri. Kemudian, dia menyenderkan tubuhnya pada dinding kamar mandi tersebut.


" Ya Allah, terimakasih. Istriku sudah sembuh ! " batin Bisma.


" Mas, aku sudah selesai ! "


" Baik sayang, tunggu sebentar ya ! "


Bisma, dengan telaten mengurus sang istri, mulai dari membasuh organ intim Jihan, untuk membersihkan hadas kecil, dia juga memakaikan kembali ****** ***** istrinya. Lalu, dia menggendong tubuh Jihan, dan membawanya ke ranjang pasien, dibaringkannya tubuh wanita yang sedang mengandung anaknya tersebut, dan, dia menyelimuti tubuhnya kembali.


" Sudah selesai, sebentar lagi shalat ashar. Kamu, bisa wudhu enggak, kalau enggak enggak usah shalat aja . Kan dosanya ditanggung Mas ! "


" Apaan, enggak seperti itu konsepnya. Kayak dosa tuh ringan banget, padahal menakutkan loh Mas. Memang dosanya istri ditanggung suami, tapi enggak gitu juga. Masa iya, Mas mau tanggung dosa aku yang banyak ini. Gini Mas, sholat itu wajib, makanya mau sakit ataupun sibuk, ya shalat harus dilaksanakan. Karena, hukumnya wajib. Nah, kalau lagi sakit kayak aku begini, aku wajib tayamum. Jadi, enggak pake air,tapi, pake debu. Coba deh, belajar lagi sama Charlie, supaya Mas lebih paham . Kali, aku yang jelasin, agak belepotan! "


" Iya sudah, jangan dipikirkan. Mas akan berusaha menjadi imam yang baik untuk kamu, dan, anak-anak kita. Mas, akan bekerja lebih keras lagi, belajar tentang agama pada Charlie! "


" Aduh, suaminya aku ganteng banget sih! "


Dipuji demikian, Bisma menjadi gemas dengan sang istri. Dia, mendaratkan ciuman singkat di kening Jihan.


" Itu, hadiah dari aku. Karena, kamu sudah berhasil membuat aku tersipu! "


Jihan, menatap wajah sang suami, dia tersenyum manis, bahagia rasanya memiliki suami seperti Bisma. Begitupun dengan Bisma, dia tersenyum bahagia melihat sang istri bahagia. Mereka, hanya saling pandang, karena tubuh Jihan , masih sakit diakibatkan luka yang dideritanya.


Bersambung...