Papa, I Need A Mama

Papa, I Need A Mama
Episode 49



Bisma, menggendong tubuh sang istri ala bridal style. Pria itu, kembali ke lantai atas, dimana tempatnya bekerja. Dilihatnya, masih ada Karina yang sedang duduk santai di sofa panjang. Dia, melewati wanita itu, sedangkan Karina yang melihat itu dia kecewa ternyata Bisma malah membawa Jihan kembali.


" Bisma kok kamu bawa dia lagi ? "


Tidak ingin menanggapi ucapan Karina, Bisma segera memasuki tempat istirahat dirinya dan Jihan. Dia, mengunci pintu kamar tersebut.


" Bisma, kok dikunci sih. Jelaskan padaku, siapa yang kamu pilih? "


Sedangkan Bisma, di dalam sana, sedang melucuti pakaiannya, dan juga Jihan.


" Mas, apa yang kamu lakukan? Kamu gila ya ? "


" Diam, ikuti apa perintahku. Kau istriku, jadi wajib mendengarkan aku ! "


" Mas, aku sedang hamil. Jangan seperti ini hiks ! "


" Sayang, menurutlah. Kita usir wanita itu dengan caraku, sebentar lagi Yoga akan kemari jadi biar dia yang mengurusnya. "


Jihan, menatap wajah sang suami, dia kesal mengapa bisa Bisma tidak menghiburnya yang sedang kesal. Justru, dia membuatnya semakin marah.


" Aku akan berfantasi saja, dan kau lakukan seperti kemarin oke ! "


Karina, menguping, pembicaraan Jihan dan Bisma. Sayangnya tidak bisa ia dengarkan dengan jelas, entah mengapa suara pembicaraan keduanya tidak bisa ia dengarkan lagi. Yang ada suara-suara kenikmatan, dua insan yang sedang bercinta.


" Apa yang mereka lakukan? Bukankah kamar itu kosong? Tidak bisa, Bisma harusnya memilihku bukan dia ! "


Tok...Tok...Tok...


" Bisma, buka pintunya. Apa yang kau lakukan? "


" Heh, ja*a*g apa yang sedang kau lakukan? Pergilah dari sini ! "


" Tidak akan , Kau minggir! "


Karina membuka pintu kamar tersebut, dia tidak ingin mempedulikan Yoga yang sedang berbicara dengannya. Dilihatnya, Bisma dan Jihan sudah tidak berpakaian. Dan, posisi mereka benar-benar tidak ingin dilihatnya. Sungguh, ini membuatnya terluka.


" Bisma Kamu ! "


Bisma refleks menyelimuti tubuhnya dan juga Jihan, yang berada dibawahnya.


" Yoga bawa wanita itu keluar! "


" Baik Pak Bisma! "


Jihan yang malu, akhirnya memeluk tubuh sang suami. Dia, takut aset berharganya dilihat oleh pria lain. Setelah, kedua orang itu pergi, Bisma melepaskan pelukannya.


" Aku malu hikkss! "


Lagi dan lagi, Jihan menangis tanpa sebab. Membuat Bisma kembali memeluk tubuh polosnya.


" Sayang, Yoga tidak melihat asetmu kok. Lagian, kita pake selimut loh ! "


" Tapi, mereka melihat kita sedang tidak memakai sehelai benangpun. Aku malu Hwaaa ! "


" Sssst, jangan menangis lagi, Maaf Mas terpaksa harus begini. Supaya Karina tidak berharap banyak padaku lagi ! "


Jihan, memeluk tubuh sang suami. Sembari menangis di dada bidang suaminya tersebut.


" Aku, benar-benar tidak ingin kamu sentuh, tapi kamu melakukannya. Aku benci kamu Mas ! "


Bisma, tetap memeluk tubuh sang istri, walaupun Jihan memukuli dada bidangnya, dan, menendangnya. Dia, tetap sabar, dan, tidak melawannya, karena, memang ini semua salahnya. Yang tidak bisa menahan syahwat nya, ketika Karina menggodanya.


" AKU BENCI KAMU, MAS ! "


Jihan, berteriak histeris, Bisma tetap diam.


" Lampiaskan semua kekesalan kamu. Aku, tidak akan melawan, aku mengakuinya, aku salah ! "


" Istirahatlah sayang, maafkan Mas. Kamu jadi seperti ini karena ku ! "


Jihan, menghubungi bawahannya, dia minta untuk membelikan makan siang untuk dirinya, dan, sang istri. Saat ini, masih pukul 11.30 dan sebentar lagi waktunya shalat dzuhur. Dia, menutup pintu ruang istirahat itu, setelahnya dia membuka laptopnya, dan, mengerjakan pekerjaannya kembali.


Suara ketukan pintu terdengar di telinganya, Yoga memberi dia salam. Kemudian, Bisma mempersilakan orang yang berada di balik pintu untuk masuk dalam ruangan.


" Assalamualaikum Pak , ini saya bawakan makanannya ! "


" Wa'alaikumusallam, terimakasih ya Yoga ! "


" Iya sama-sama, Pak Bisma! "


" Kamu ambil satu gih ! "


" Iya Pak, terimakasih! "


Yoga, tersenyum, kemudian memberikan salam padanya.


" Sama-sama! " jawab Bisma sembari tersenyum manis.


Yoga, berpamitan ,dan, dia segera pergi dari ruangan kerja Sang Atasan.


Jihan, terbangun dari tidurnya saat mendengar Adzan Dzuhur berkumandang. Wanita itu, terheran saat melihat dirinya sudah menggunakan pakaian yang lengkap. Dia, mengerutkan keningnya, tetapi kemudian dia tahu, jika ini pasti perbuatan suaminya.


" Eh, sayang kamu sudah bangun ? "


Jihan, hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia, masih belum mau, menjawab apapun pertanyaan Bisma . Sedangkan, suaminya tersebut, hanya bisa menghela napasnya, dia sadar jika istrinya, masih belum bisa memaafkan dirinya. Bisma, menghampiri Jihan, dia duduk di samping ranjang, dan mengusap lembut puncak kepala sang istri.


" Shalat dzuhur dulu yuk! " ajak Bisma.


Jihan, hanya mengangguk untuk menjawab sang suami.


" Baiklah, wudhu dulu gih. Mas tunggu kamu, kita berjamaah. Mas, udah bisa jadi imam kamu sekarang! "


Jihan, menatap wajah suaminya, dengan tatapan penuh tanya . Dia, ingin menanyakan pada Bisma, apakah dia sudah hafal bacaan shalat, atau belum . Tapi, sungguh gengsi menyelimuti dirinya, dan, dia tidak ingin bicara panjang lebar dengan sang suami. Dia, segera bangkit, dan, pergi meninggalkan Bisma, untuk berwudhu. Sementara itu, Bisma menatap nanar punggung sang istri.


Di kamar mandi, Jihan bersuci, dia memang tidak melakukan hubungan intim, akan tetapi Bisma menyemprotkan cairan cintanya pada tubuhnya, dia kesal diperlakukan layaknya wanita murahan barusan. Makanya, dia mengumpati Bisma, tetapi jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia tidak ingin bercerai dari suaminya. Walaupun, Bisma sudah membantunya mengelap tubuh. Tetapi, rasa jijik itu ,masih belum bisa hilang darinya.


" Sepertinya sudah bersih, aku minta tolong Mas Bisma saja lah untuk mengambil pakaianku. Karena, pakaian ini tidak bisa aku pakai lagi, ah tidak aku ambil sendiri saja, dekat ini ! "


Jihan, melilitkan handuk pada tubuhnya, dia kemudian dia keluar dari kamar mandi. Bisma, yang sedang menunggunya begitu terkejut saat melihat sang istri begitu seksi dihadapan dirinya.


" K...kamu ngapain? " tanya Bisma.


" Apanya yang ngapain, aku mau ambil pakaian. Tubuhku lengket karena ulahmu Mas. Dasar, lelaki menyebalkan! "


Setelah mengeluarkan kata-kata pedasnya, Jihan kembali ke kamar mandi dan berganti pakaian. Dia, kembali dengan memakai dress panjang dan menghamparkan sajadahnya, di tempat biasanya dia shalat.


" Wudhulah, aku menunggumu Mas ! "


" Baik, akhirnya kamu mau berbicara padaku lagi Sayang. Aku, senang sekali! "


" Sudahlah sana, kalau tidak aku shalat sendirian aja. Daripada lama, menunggumu! "


" Eh jangan, kita berjamaah, ini perdana aku jadi imam kamu! "


Bisma, segera bangkit, dan mengambil air wudhu di balkon kantor ini. Beberapa saat kemudian, dia kembali ke dalam.


" Mas sudah siap, ayo kita shalat! "


Jihan mengangguk sebagai jawaban, sedangkan Bisma merasa sedikit kecewa. Respon istrinya tersebut, masih saja dingin padanya. Tapi, dia tahan, dan, segera menunaikan kewajibannya sebagai seorang imam.


Bersambung...