
Jihan sudah sampai di kediaman kedua orang tua angkatnya. Dari Jakarta ke Kecamatan Sukasari, Sumedang Jawa Barat, memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Jadi, dia sampai pukul 14.30 disini.
" Ema, bagaimana sudah baikan ? "
" Alhamdulillah, geulis (cantik) Ema sudah baikan ! "
" Jihan tuh khawatir terjadi sesuatu pada Ema. Sehingga, memutuskan untuk berhenti bekerja. Dan, mau jualan aja disini, supaya Ema, sama Bapak ada yang jagain! "
" Hatur nuhun nya geulis ( Terimakasih ya cantik) Walaupun kamu bukan anak kandung Ema. Tapi, kamu begitu menyayangi Ema. Seperti orang tuamu sendiri! "
" Teu kenging nyarios kitu atuh, Ema ( Jangan katakan itu, Ema) . Sebagai balas budi, aku selama 26 tahun sudah dirawat oleh Ema, dengan tulus. Sudah sepantasnya seperti itu ! "
" Ema, tidak pernah meminta balasan darimu, Ema, ikhlas merawatmu Nak ! "
Jihan, mengangguk sebagai jawaban.
" Terimakasih, Ema Jihan tidak tahu bagaimana jika Ema tidak menolong Jihan saat itu ! "
" Tidak apa-apa, yang sudah biarlah berlalu. Ema, dan, Abah selalu berdoa agar kamu bisa menemukan orang tua kandung mu, sayang. "
" Mana mungkin ? "
" Kemungkinan itu ada Nak . Sekarang adalah waktunya untuk Ema mengatakan yang sejujurnya ! "
Saat itu, di radio tetangga Ema sempat mendengar jika ada orang kaya yang sedang mencari anaknya yang hilang. Bahkan, ciri-cirinya anak tersebut pun sama dengan Jihan. Tetapi, saat penyiar radio akan memberitahu nama orang tua bayi, dan alamat tempat tinggal mereka. Hujan yang sangat lebat, disertai petir, turun melanda Kecamatan Sukasari. Jadi, tidak jelas siapa nama dari orang kaya tersebut. Tidak lama, tetangga mematikan saluran radionya, karena takut terkena sambaran petir. Pasalnya, hanya dia seorang yang memiliki radio, dan, televisi saat itu.
" Oh begitu, tidak apa-apa Ema. Kalau memang saya berjodoh dengan kedua orang tua saya . Pasti bertemu lagi kok, jika memang tidak dipertemukan, ya tidak apa-apa! "
" Kamu baik sekali Nak ! "
" Masyaallah, tidak kok. Ema lebih baik dari saya ! "
Bisma, mendapatkan kabar dari Aqila. Jika Jihan, pergi ke Sumedang dan tidak akan kembali lagi ke Jakarta. Bukannya apa-apa, putrinya itu terus menangis sedari sepulang sekolah, hingga malam hari seperti ini. Mengapa Aqila bisa tahu, tentunya diberitahu oleh Alif. Sepulang sekolah, Aqila dijemput oleh Pamannya, alias kakak dari almarhumah istrinya, Jasmine Berlian.
Putrinya tersebut, tidak mau makan malam sama sekali. Sehingga, kedua orang tuanya menghubungi, agar segera pulang ke rumah. Setelah tahu, jika Aqila terus merengek meminta ingin bertemu dengan Mama nya, akhirnya Bisma membujuknya. Agar mau makan malam bersama, dan, berhasil.
" Tapi, kamu makan dulu ya. Kalau liburan sudah tiba, kamu akan pergi ke Sumedang bersama Papa. Kita, akan menemuinya! "
" Papa serius kan? Awas kalau bohong, nanti Aqila akan marah besar ! "
" Baiklah, satu Minggu lagi kamu pembagian raport kan. Dan, setelah itu liburan. Jadi, sabar ya sayang! "
" Iya Papa, Aqila sabar Kok ! "
" Yuk makan dulu, sayang ! "
" Sebentar, Aqila mau menghubungi Kakak cantik dulu. Aqila, akan memarahinya! "
Tuuut.....
" Assalamualaikum Aqila, ada apa ya ? "
" Kakak cantik Jahat , mengapa tidak mau menikah dengan Papa. Padahal, Aqila sudah sangat sangat mengharapkan kehadiran Kakak di rumah ini, menjadi Mamanya Aqila Hwaaaaaa! "
" Bukannya begitu, Kakak kan, bukan calon istri Papa kamu. Mana bisa Kakak menjadi Mamanya kamu ! "
Aqila, dengan segera mematikan ponselnya. Anak itu, memiliki temperamen yang buruk, sama seperti Bisma, ayahnya .
" Putri Papa, kok seperti itu? Sayang, tidak sopan, mematikan ponselnya begitu saja. Kamu akan membuat Kakak cantik kecewa loh ! "
" Pokoknya, aku mau kita pergi ke Sumedang. Menyusul Kakak cantik, kalau Papa bohong. Aqila, akan katakan pada semua orang. Kalau, Papa adalah CEO dari B.A Garmen Indonesia. Dan, salah satu investor dari dramanya Tante Menor. Berjudul, Bukan Cinta Yang Salah, Tapi Waktu "
" Iya sayang, Papa akan menemani kamu ke Sumedang. Dan, mengosongkan jadwal Papa ketika kamu libur ! "
Putri kecilnya itu, kini menggenggam tangannya erat. Dan, malam ini keluarga Abimanyu makan malam bersama, dengan khidmat.
Sementara itu, di salah satu kamar hotel, Downtown Los Angeles Proper. Karina, sedang duduk sembari menunggu sang produser dramanya yang sedang mandi. Pria paruh baya itu, keluar dari kamar mandi, dengan memakai bathrobe berwarna putih. Sama seperti yang dikenakannya, dia menghampirinya. Karina, menyeringai melihat pria itu menghampirinya.
" Hai sayang, sudah lama menunggu kah ? "
Karina tersenyum, dia mengalungkan lengannya pada leher pria paruh baya tersebut. Dia berbisik manja, dan, membuat produser drama itu tersenyum menanggapinya.
" Kau bisa saja, kalau begitu. Tidak perlu basa basi lagi. Mari kita lakukan sekarang, puaskan aku. Dan, aku akan memberikan kamu bonus ! "
" Baiklah sayangku ! "
Karina, memejamkan matanya, dia mulai menempelkan bibirnya. Begitu pula pria itu, keduanya saling membalas sentuhan bibir satu sama lainnya. Karina, mendorong tubuh pria itu ke ranjang, dan, memulai aksinya.
...----------------...
Bisma, berkali-kali menghubungi kekasihnya. tidak pernah ada jawaban dari sang kekasih. Justru, ponselnya dinonaktifkan. Padahal, sebagai calon suami, Bisma khawatir dengan keadaan calon istrinya yang sedang bekerja di negara yang mendapatkan julukan The Golden State, California .
Seharusnya, Karina memberitahunya, sekedar basa-basi seperti " Hallo sayang, aku sudah sampai di California, atau hai sayang aku sudah sampai " Tapi, ternyata hasilnya nihil. Hanya dirinya saja yang sangat mengkhawatirkan keadaannya. Sedangkan, Karina, tidak pernah mempedulikan perasaannya.
" Karina, sebenarnya aku ini apa untukmu? " gumamnya lirih.
Bisma, segera masuk kamarnya, dan, menutup pintu balkonnya. Dia, segera pergi ke ranjangnya, dan, mulai memejamkan matanya.
" Masih ada 6 hari lagi, sebelum pergi ke rumah kakak cantik! ".
Ketiga orang dewasa tersebut, hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah laku Aqila.
" Habiskan makanan kamu segera. Papa, akan mengantarkan kamu ke sekolah ! "
" Baik Papa, aku akan semangat sekolah demi kakak cantik. Semangat! "
" Anakmu ini, sungguh ajaib tingkahnya. Bisa saja dia menirukan atlit badminton, yang sedang selebrasi kemenangan! "
" Entahlah, aku pun bingung. Dia, bisa secerdas itu ! "
" Papa, ayo cepetan makannya. Jangan sampai, aku terlambat! "
" Iya sayang! "
" Disaat aku sedang sedih, karena tidak ada kabar dari Karina. Aqila, selalu bisa menjadi obat pelipur lara ! " batin Bisma.
" Bisma ! "
Panggilan, dari ibunya tersebut kemudian menyadarkan Bisma kembali. Pria itu, mencoba tersenyum manis.
" Em, I...Iya Ma, Kenapa ? "
" Kamu jadi kan, menikah dengan gadis itu. Kalau kamu ke Sumedang, Mama dan Papa ikut ! "
" Ma, kalau kalian ikut, bukankah itu seperti pernikahan sesungguhnya? "
" Ya memang, entah mengapa feeling Mama buruk mengenai Karina. Sepertinya, dia sedang menyembunyikan sesuatu dari kita ! "
" Benar kata Mamamu Bisma, dia begitu misterius ! "
" Ah, mungkin, itu perasaan Papa, dan Mama saja. Tapi, bisa aku pikirkan dulu, jika kalian ingin ikut! "
Bersambung...