
" Kamu sudah pulang Charlie ? "
" Assalamualaikum Kak, Alhamdulillah aku bisa pulang ke Indonesia tercinta ini ! "
Bisma, terlihat begitu bahagia, saat mendengar perkataan sang adik. Waktu berlalu begitu cepat, 6 tahun sudah adiknya ini menempuh pendidikan di Turki, Istanbul University. Charlie, begitu tampan hampir sama dengan Bisma, perawakannya pun sama. Membuat Bisma takjub menatap adik kandungnya tersebut.
" Kau benar-benar berbeda , sekarang kau sangat tinggi dan tampan. Sungguh, Kakak kalah denganmu Char! "
Charlie, mengangguk.
" Alhamdulillah, terimakasih atas pujiannya Kak. Kau juga tampan, dan, berkarisma. Tapi, sayangnya kau terlalu mencintai Kak Karina ! "
" Memang salah ya, jika aku menjadi bucinnya ? "
" Ya kak, kau sudah salah ! "
" Apa salahnya? "
" Salahnya bukan terlalu mencintainya sih, lebih ke perbuatan kalian ! "
" Apa itu? "
" Kau dan dia, sudah melakukan hubungan intim sebelum menikah. Itu Kak yang salah, tolong berpikir jernih. Kau memiliki anak, sudah sepatutnya memberikan contoh yang baik untuk Aqila. Jangan sampai, kau menjadi contoh yang buruk baginya ! "
Bisma, memalingkan wajahnya.
" Aku lelah, ingin segera beristirahat. Selamat malam, Charlie! "
Bisma, mengakhiri pembicaraan mereka. Dia beralasan untuk beristirahat. Padahal, dia tidak suka diceramahi oleh sang adik .
" Apa aku terlalu blak-blakan ya ? Tapi, jika aku diam saja , saat melihat Kakak kandungku sendiri berzina. Aku, juga akan berdosa ! " batin Charlie.
...----------------...
Karina, baru saja selesai mandi dan berbaring di ranjang hotel tersebut. Tidak lama setelahnya, seorang pria paruh baya, tidur di sampingnya. Sembari, menenggelamkan wajahnya, di dalam ceruk leher sang wanita .
" Kamu tidak lupa meminum pil kontrasepsi kan ? "
" Don't worry dear. I've taken the contraceptive pill. Bahkan, sebelum kamu mengajakku melakukan hubungan intim! "
" Sebenarnya, aku ingin kau mengandung anakku. Kita, selamanya bersama, melakukannya tidak sembunyi-sembunyi seperti ini ! "
Suara pria itu terdengar parau, dia benar-benar mencintai Karina, layaknya lelaki normal. Wajar saja, sudah lama sekali dirinya tidak pernah melakukan hubungan intim. Karena, istrinya sudah tiada karena penyakit yang dideritanya.
Ketika bertemu dengan Karina, dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Karina, benar-benar mengingatkan dia akan sosok sang istri, saat dirinya masih muda. Sehingga, dia berusaha mendekati wanita itu, dan, berhasil. Karina, bahkan mau menjadi simpanannya, dan, selingkuh dari Bisma yang tampan, dan, gagah tersebut.
" Tidak bisa, aku calon istri dari Bisma. Jika menikah denganmu, aku pasti jadi yang kedua ! "
" Aku ingin kita selalu seperti ini, walaupun kau dengannya menikah! "
" Tentu saja, aku sangat mencintaimu! "
" Jujur saja, aku hanya menyukai dia di ranjang saja. Karena stamina Bisma tidak sekuat pria paruh baya di sampingku ini, entahlah yang penting aku bisa mereguk kenikmatan dengannya, yang tidak aku rasakan saat bersama Bisma ! " batin Karina.
" Aku ingin menjadi teman hidup, bukan hanya teman ranjang Karina. Aku harap, seterusnya kita bisa bersama seperti ini! " batin Robert.
...----------------...
Pagi ini, seperti biasanya Bisma dan Juga Aqila. Berangkat bekerja, dan, juga Sekolah.
" Pa, kenapa waktu itu lama sekali ya? Aku pengen ketemu Kakak cantik! "
Bisma, melirik putrinya yang sedang bertanya padanya.
" Sayang, sabar ya. Kita, akan segera menemuinya ! "
" Iya, tapi lama sekali ya. Padahal, Aqila sangat merindukan Kak Jihan. Papa tahu tidak mengapa Aqila sangat menyukai Kakak Jihan ? "
Sembari fokus pada jalanan, Bisma sesekali melirik putrinya.
" Karena, Kakak cantik itu baik sekali. Pertama kali bertemu, di restoran Om Alif alias Om Ganteng. Dia menghampiri Aqila, yang sedang di kelilingi oleh orang banyak. Kakak cantik, mengaku akan melaporkan orang-orang yang merekam Aqila, ke polisi. Dia juga, bilang ke mereka, kalau dia adalah Ibu Aqila. Awalnya Aqila kesal, seenaknya saja kakak itu mengakui Aqila anaknya. Tapi, setelah orang-orang pergi. Dia masih memeluk tubuh Aqila, dia bertanya sama Aqila apakah aku baik-baik saja, dan, setelah Aqila menjawab dia merasa lega. Tidak hanya itu, Kakak cantik juga membantu Aqila mandi. Dia, begitu lembut memperlakukan aku, layaknya putri kandungnya sendiri!"
" Mendengar cerita Aqila, aku jadi penasaran. Apakah gadis itu selembut seperti yang Aqila katakan ?" batin Bisma.
" Ya sudah, sabar ya. Nanti, kita akan menyusul Kakak cantik ke Sumedang! "
" Yey, Papa memang yang terbaik! "
Bisma, tersenyum menanggapi ucapan putrinya. Dia bahagia, jika melihat Aqila bahagia.
...****************...
Jihan, menatap lurus ke depan dia menerawang jauh. Entah mengapa, rasanya dia merindukan Ibu dari mantan bos-nya, Alif Hendrawan.
" Mengapa aku tiba-tiba merindukan Ibu Maesaroh? Padahal, hanya bertemu 2 kali. Tetapi, mengapa rasanya aku tidak bisa melupakannya, seperti ada yang mengganjal! " batin Jihan.
" Geulis, Hayuk kita berangkat ke kebun Abah. Nanti, keburu siang ini ! "
" Baik Ema, Hayuk atuh ! "
Mereka, saat ini berjalan menuju ke kebun milik Abah dan Ema. Jihan menyapa beberapa temannya, kebanyakan dari mereka sudah memiliki suami, dan, anak. Hanya Jihan, dan beberapa temannya yang bekerja di Ibukota atau kota saja, yang belum menikah. Selebihnya, sudah berumah tangga semua.
Namun, hal itu tidak membuat Jihan menyerah.Tuhan tahu yang terbaik untuk kita. Jadi, sebisa mungkin berpikir positif. Jangan sampai, mengotori hati dengan rasa iri, dan, benci. Melihat kebahagiaan orang, toh Allah Ta'ala, sudah memberikan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi, tidak perlu repot-repot memikirkan masalah orang.
" Eh Bule, mau kemana ? "
Panggilan Jihan bule, karena rambutnya kemerah-merahan.
" Ah Yuni, ini loh mau ke kebunnya Abah ! "
" Eh, kamu teh sudah nikah belum sih ? "
Senyuman Jihan, perlahan memudar saat teman sekolahnya menanyakan tentang keadaannya.
" Ah itu, doain aja ya. Semoga segera mendapatkan jodoh ya ! "
" Aduh maaf-maaf, aku enggak tahu ! "
" Iya, enggak apa-apa kok. Yun, udah dulu ya, aku mau nyusul Ema, udah jauh tuh ! "
" Iya, silakan. Aku juga mau nganter Ibuku ke pasar! "
" Oke, hati-hati ya ! "
" Terimakasih, Jihan ! "
" Sama-sama! "
Jihan, kemudian segera menyusul ibu angkatnya. Yang berjalan begitu cepat, maklum Ema-nya itu, memang suka jalan kaki. Jadi, di usianya yang tidak muda lagi berjalan begitu cepat.
" Aku tuh aneh sama orang-orang ya. Padahal, sering buka sosial media, berteman denganku. Tetapi, masih saja bertanya, kapan nikah ? Astaghfirullah, jangan mengotori hati. Ingat Jihan, jangan membenci Yuni. Dia tidak salah kok, kamunya yang terbawa suasana! " batin Jihan.
Jihan memanggil Ema-nya, dengan lantang, supaya Ema-nya itu mau menunggunya.
" Ya Allah, Ema kira kamu teh dibelakangnya Ema. Ternyata, meuni jauh pisan euy( jauh sekali ih ) ! "
" Ema, terlalu cepat jalannya, Jihan ketinggalan. Da kumaha, Jihan mah lelet mapahna ih ( Ya gimana, Jihan tuh jalannya lelet ih) ! "
" Ya udah, enggak apa-apa. Sekarang kita jalan lagi, Hayuk ! "
Karena, takut tertinggal lagi. Murniati, menggenggam erat tangan putri angkatnya tersebut. Dan, mereka bergandengan tangan, ke kebunnya Abah.
Bersambung...