Papa, I Need A Mama

Papa, I Need A Mama
Episode 15



" Kenapa Bapak ke sini? Pergilah, saya ingin sendiri ! "


Bisma, tidak peduli dia mengunci pintu kamar Jihan. Lalu, menghampiri istrinya tersebut.


" Sudahlah Jihan, ikhlaskan kepergian Abah. Tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan seperti ini. Kasihan Abah, dia akan tersiksa jika kamu bersikap seperti ini ! "


" Sebaiknya, Bapak keluar dari kamar saya. Oh iya lupa, kita harus segera bercerai! "


Mendengar kata cerai, Bisma murka. Sungguh, perceraian adalah hal yang paling dia benci. Walaupun dia tidak mencintai Jihan, dia sungguh tidak ingin bercerai. Bisma, tidak tahu , yang jelas dia saat ini dia tidak ingin meninggalkan Jihan sendirian. Dia, duduk di samping Jihan, sementara itu Jihan justru membuang muka. Tetapi, Bisma dengan segala kekuatannya, dia memangku sang istri. Sehingga, saat ini keduanya saling berhadapan, Jihan menatap wajah sang suami tepat di hadapannya.


" Pak, turunkan saya ! "


" Tidak, sebelum kamu berhenti marah. Baru, aku akan menurunkan kamu ! "


" Tidak, mereka sudah keterlaluan. Bapak, justru membela mereka, anda waras? "


Bukannya marah, Bisma mengusap lembut wajah sang istri. Dia, tersenyum manis, membuat Jihan merasa heran dengannya.


" Kok senyum sih Pak ? Aneh "


" Terus, saya harus bagaimana? "


" Tidak tahu, anda maunya bagaimana. Sudahlah turunkan saya, kita tidak boleh seperti ini. Anda kan sudah punya Mbak Karina, jadi sebaiknya jangan membuat saya jatuh cinta pada anda . Karena, seumur hidup saya, belum pernah pacaran, apalagi di sentuh pria. Lepaskan saya Pak, kok jadi curhat ya! "


Pipi Jihan bersemu merah, membuat Bisma, kian menggodanya.


" Berarti, itu memang ciuman pertama kamu ya. Saat kita berada di dalam mobil, benarkan? "


Jihan, menundukkan kepalanya dia malu benar-benar tidak menyangka jika kejadian itu, masih diingat oleh Bisma. Padahal, sudah berlalu 2 Minggu. Seharusnya, pria seperti Bisma bisa melupakan kejadian tersebut. Karena, di sampingnya ada wanita cantik dan seksi menemaninya.


" Sini, menunduklah aku ingin melihat wajahmu, dari dekat! "


Jihan, menuruti keinginan suaminya.


" Lebih dekat lagi ! "


Kini, wajah mereka benar-benar dekat. Hidung keduanya hampir bertabrakan, Bisma tersenyum saat melihat wajah sang istri dari jarak dekat seperti ini.


" Pak, sebaiknya kita mandi . Habis dari pemakaman, pamali katanya ! "


" Oh ya ? "


Jihan, mengangguk.


" Ya udah, mandi bareng yuk! "


" Enggak ah, malu ! "


" Oke, tapi ciuman boleh ya ? "


" Pak, jangan mulai deh ! "


" Berarti, kamu durhaka nih sama suami ! "


Jihan, menatap wajah sang suami. Dia, mendekatkan wajahnya mengusap lembut pipi suaminya tersebut, kemudian menempelkan bibirnya pada pipi pria itu.


" Udah ya, sekarang lepaskan saya. Mau mandi nih Pak ! "


" Iya, udah silakan!"


Bisma, akhirnya melepaskan pelukannya pada sang istri. Sedangkan Jihan, segera mengambil pakaian ganti, dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia, tidak tahu jika suaminya sedang memperhatikannya.


" Gadis itu terlalu polos, aku kira dia sudah berpengalaman dalam hal seperti itu. Jaman sekarang, sudah langka gadis yang bisa menjaga dirinya sendiri. Aku beruntung, bisa menikah dengannya. Karina, maafkan aku, mungkin aku akan memutuskan hubungan ku denganmu. Karena, Jihan hanyalah anak angkat, dia tidak mempunyai siapa-siapa di sini. Entah kedua orang tua kandungnya masih hidup, atau sudah tiada. Aku tidak tahu ! " batin Bisma.


" Pak Bisma, saya sudah mandi. Bapak silakan mandi, oh iya bawa pakaian tidak? Baju anda hanya itu ya. Tunggu sebentar, saya punya baju cowok kok, mungkin pas sama Bapak. Soalnya, kegedean di saya ! "


Istrinya, keluar mengenakan pakaian muslim, mungkin masih dalam suasana duka. Jadi, gadis itu masih memakai pakaian tersebut. Bisma, yang awalnya biasa saja, mendadak meninggikan nada bicaranya, mendengar perkataan Jihan, mengenai pakaian pria.


" Baju siapa itu, masa iya wanita punya baju pria ? "


" Mandi dulu, nanti saya jelaskan. Oh iya, mau minum apa kopi atau teh hangat? "


" Aku lapar, Ji. Bisakah kamu buatkan aku nasi goreng? "


" Aduh, istri macam apa saya ini, bisa-bisanya membuat suaminya kelaparan. Iya, nanti saya buatkan, minumnya apa ? "


" Air putih saja cukup, tidak perlu repot-repot. Ya sudah, Mas mau mandi dulu ya ?"


Jihan keluar dari kamarnya, dia sudah disambut oleh ibu angkatnya .


" Geulis, ibu mau ngomong sama kamu ! "


" Iya Bu, bagaimana? "


" Kamu, dan Nak Bisma, sudah melakukan ijab qobul. Artinya, kalian sudah berjanji, untuk menjadi suami istri di mata Allah Ta'ala. Jadi, tolong kamu nurut apa yang suami kamu katakan. Selama, perintahnya bukanlah sesuatu yang buruk. Kamu, tidak perlu mengikuti perintahnya. Kamu paham, Geulis? "


" Iya Ema, Jihan Paham ! "


" Ya sudah, kamu mau ngapain Geulis ? "


" Mau bikin nasi goreng, Mas Bisma belum makan katanya. Ema, lapar tidak biar sekalian aku bikinin!"


" Oh iya, silakan. Tidak usah sayang, tadi kita di traktir sama Bapaknya Nak Bisma, jadi kita kenyang ! "


" Aku sama Mas Bisma enggak di beliin? "


" Kalian mah pengantin baru, jadi biar sendiri aja katanya.Tidak perlu, dibelikan ! "


" Jahatnya, ya sudah, Jihan mau masak nasi goreng buat Mas Bisma, takutnya dia kelaparan lagi ! "


" Iya sana ! "


Tidak lama setelah Jihan ke dapur, Bisma keluar dari kamar istrinya. Murniati, menariknya, membuat pria itu sedikit terkejut.


" Maaf Nak, ada sesuatu yang ingin Ema katakan padamu ! "


Bisma mengangguk,


" Baik, mari kita bicara Bu ! "


" Begini, Nak Bisma. Bisakah, kamu berjanji akan menyayangi Jihan sepenuhnya?"


Dahi Bisma, berkerut .


" Apa Bu, eammm, iya saya berjanji ! "


" Nak, ibu titip Jihan ya. Dia itu, gadis yang baik, tidak pernah neko-neko. Dia tidak pernah pacaran, yang dia pikirkan hanyalah bekerja dan terus bekerja untuk menghasilkan uang. Dan, membahagiakan kami, padahal kami adalah bukanlah orang tua kandungnya. Tapi, dia sangat menyayangi kami, selayaknya anak menyayangi kedua orang tuanya. Jadi, tolong Nak, jaga Jihan baik-baik. Jangan sampai, kamu menyakitinya ! "


" I... insyaallah Bu , saya tidak akan membuatnya menangis ! "


" Ya sudah, sekarang kamu temui dia . Sepertinya, istrimu sudah menyelesaikan kegiatan memasaknya! "


" Baik Bu, permisi ! "


Ema, mengangguk, sembari menyunggingkan senyumnya.


" Sudah selesai masaknya ? "


" Iya Mas, ini mau aku sajikan! "


" Iya, Ma boleh nyobain enggak? "


Bisma, semakin mendekatkan dirinya pada sang istri. Sedangkan, Jihan yang tidak terbiasa berdekatan dengan pria. Dia, segera menghidangkan nasi goreng buatannya,ke meja makan sederhana tersebut. Tentu saja, hal itu membuat Bisma sedikit kecewa. Tapi, memang istrinya ini polos, dan mungkin waktunya juga kurang tepat. Masih dalam suasana duka, jadi dia tidak boleh gegabah .


" Mas, ini di makan nasi gorengnya! "


" Iya, kamu makan juga ? "


" Iyalah, orang aku belum makan. Yang lain mah ditraktir Papanya Bapak, lah kita berdua enggak di itung. Kesel deh ! "


Bisma tersenyum, dan mengacak rambut istrinya.


" Pak Bisma, cuci tangan lagi gih. Anda kan, habis memegang rambut saya !"


" Iya, kamu makan dulu aja tidak usah nunggu aku ! "


" Enggak, saya kan istri Bapak. Kalau makan duluan, jatuhnya durhaka dong ! "


Entah mengapa, Bisma merasa senang mendengar celotehan mantan karyawan pabriknya, yang kini menjadi istrinya tersebut.


Bersambung...