Papa, I Need A Mama

Papa, I Need A Mama
Episode 19



Bisma, tidur satu ranjang bersama Jihan. Akan tetapi, tidak saling bersentuhan. Keduanya, begitu jaga jarak. Jihan, memunggungi pria itu, sedangkan Bisma memandangi punggung sang istri.


" Kalau minta jatah boleh enggak sih ?" batin Bisma.


Jika ada Karina, dia melakukannya hampir setiap malam. Itupun Karina yang memancingnya. Sedangkan, saat ini adalah keinginannya sendiri. Tetapi, Bisma tidak ingin membuat hubungan ini semakin rumit, Bisma memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.


" Pak Bisma, mau kemana ? "


Bisma menoleh,


" Mau mandi Ji! "


" Hah ? Enggak salahkah? Di luar lagi hujan lho, masa mau mandi sih. Nanti kalau Bapak sakit gimana ? "


" Kamu khawatir ya ? "


" Iya, bagaimanapun anda suami saya. Kalau anda sakit, yang cari nafkah siapa ? "


" Kamu itu polos apa gimana sih ? Harusnya ngerti, aku kenapa mau mandi malam-malam! " batin Bisma.


" Saya mandi dulu, pusing saya dengerin ocehan kamu ! "


" Ya sudah, saya tidur duluan ya! "


Bisma, mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, dia segera pergi, ke kamar mandi. Menyalakan keran air, dan, mengguyur seluruh tubuhnya dengan Shower Head. Dia, mandi mengenakan air dingin, supaya gairahnya turun. Di tengah guyuran air, dia memaki dirinya sendiri, bagaimana bisa dia begitu bergairah saat menatap istrinya, yang hanya mengenakan kemeja kebesaran saat akan tidur. Padahal, bersama Karina yang seksi saja dia tidak pernah seperti ini.


" Aku kenapa seperti ini, tidak bisa. Aku harus menjaga Jihan agar dia tetap suci. Jika dia sudah bercerai dariku, maka dia akan bisa bersama pria lain. Tidak boleh aku egois , sudah sepatutnya aku menahan syahwat ku ! " batin Bisma.


Jihan, dia baru saja terbangun dari tidurnya, entah mengapa dia pun tidak tahu. Perasaannya tidak tenang, saat Bisma tidak ada di ranjangnya. Itu, berarti sudah satu jam Bisma berada di kamar mandi, membuat Jihan keheranan.


" Pak Bisma kok, lama banget. Padahal, aku sudah tidur satu jam lalu. Aku harus melihatnya, takutnya dia kenapa-napa lagi ! " batin Jihan.


Jihan, berlari menuju kamar mandi. Dia, mengetuk pintu kamar mandi tersebut, memanggil Bisma. Akan tetapi, bukan jawaban yang dia dapat. Melainkan, suara-suara aneh, yang keluar dari mulut suaminya.


" Pak Bisma, Anda kenapa ? Buka pintunya! "


Dia, mencoba mengetuk pintu kamar mandi itu, saat dia mendorong pintu tersebut, ternyata tidak dikunci sama sekali. Dilihatnya, Bisma sedang berada di ujung bath up, tanpa sehelai benang ditubuhnya. Dia sedang berimajinasi, membayangkan sang istri bersamanya.


Jihan, menutup mulutnya, dia menangis menatap sang suami yang sedang membayangkannya. Sampai pada akhirnya, Bisma membuka matanya, dan, melihat wajah sang istri.


" J...Jihan? Kamu terbangun? Sebaiknya, kamu keluar dari sini ! "


Jihan, menggeleng.


" Bapak dari tadi sedang membayangkan saya kan ? "


" Apa? K...kamu tahu ?"


" Maafkanlah saya Pak, tapi anda seperti ini karena saya. Tolong, maafkan saya ! "


Bisma memakai handuk untuk menutupi, bagian terpenting tubuh nya. Dia, mengusir sang istri, menyuruhnya agar keluar dari kamar mandi ini.


" Saya tidak mau keluar, saya berdosa karena sudah membuat suami saya seperti ini ! "


Jihan, terus menangis melihat Bisma seperti ini. Dia, merasa bersalah atas kejadian ini, suaminya sedang membayangkan tubuhnya. Dan, terlihat jelas Bisma nampak begitu kesakitan. Dia, menghampiri Bisma, dan mengusap lembut wajah tampan, nan berewok suaminya. Dia memeluk tubuh sang suami, dan, mengecup bibirnya.


" K...kamu ? "


" Setelah menikah, saya belajar banyak dari internet. Saya tidak ingin menjadi istri durhaka, jadi Bapak tidak usah berimajinasi lagi !"


Ya, selama dua Minggu ini, Jihan belajar banyak dari internet. Dia, tahu apa yang suaminya inginkan, bahkan cara berci*man pun dia tahu dari drama Asia yang ditontonnya. Entah mengapa, Bisma terharu dia pun mengangguk sebagai jawaban. Dan, mulai memberikan sentuhan pembuka untuk istrinya.


" Pak, kalau saya agak kaku, maaf ya. Saya, belum pernah bersentuhan dengan pria ! "


" Jangan khawatir, aku akan melakukannya dengan lembut! "


...----------------...


" Tidurlah, kamu pasti capek ! "


" Bapak mah aneh, ya lah orang saya di bolak-balik kayak gitu. Tiga jam loh, gimana enggak capek coba ? "


Jihan, menatap kesal suaminya, tetapi Bisma justru tertawa lepas. Menurutnya, Jihan sangat lucu.


" Iya maaf, tidur yuk. Besok, kita akan antar Aqila ke sekolah. Terus, besok kita pindah ke Mansion kita bertiga. Kalau disini terus, takutnya kamu enggak nyaman. Karena, banyak orang kan ? "


Jihan, mengangguk sebagai jawaban.


" Iya, saya nurut aja deh ! "


" Bagus, sekarang ayo kita tidur. Dan, terimakasih sudah mau melayaniku! "


Bisma, membawa tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Sedangkan, Jihan dia tidak membalasnya, dia lelah dan tertidur pulas dalam pelukan pria itu.


" Terimakasih Jihan, aku tidak tahu kedepannya akan seperti apa. Yang jelas, untuk saat ini, aku akan melindungi kamu. Dan, menyayangimu, karena kamu masih istriku ! " batin Bisma.


Pria tampan itu, mengecup puncak kepala sang istri. Dia, sangat bahagia Jihan mau memberikan dirinya sendiri tanpa harus diminta olehnya.


...----------------...


Jihan, membangunkan sang suami. Yang saat ini masih tertidur pulas, padahal adzan subuh sudah berkumandang.


" Pak Bisma, bangun ih. Udah subuh tahu, shalat dulu yuk ! "


" Baiklah, aku shalatnya nanti. Kamu, duluan aja enggak apa-apa! "


" Kok gitu sih? Selama menikah sama Bapak, saya belum pernah loh di imami sama Bapak ! "


" Jihan, ayolah aku lelah ingin tidur. Kamu duluan aja ! "


" Cih, suami macam apa anda ini. Tidak mau jadi imam dalam shalat, padahal pahalanya gede loh Pak ! "


" Saya tahu, tapi kamu duluan aja. Enggak usah ajak-ajak saya ! "


Jihan dengan wajah kesalnya, memukul dada sang suami yang tidak mengenakkan pakaian itu. Ya, suaminya kemarin tidur hanya mengenakan boxer saja.


" Ya sudah, terserah. Tapi, kemarin itu yang pertama dan terakhir untuk saya melayani anda! "


Saat Jihan hendak terbangun, Bisma menariknya sehingga kini Jihan berada di atasnya. Pria itu, memeluk tubuh sang istri dengan erat dia berbisik padanya. Sehingga, membuat Jihan terkejut.


" J...jadi, bapak tidak bisa shalat ataupun berwudhu? "


Bisma, mengangguk dia malu menatap wajah sang istri.


" Ya udah, nanti saya ajarin caranya berwudhu sama shalat. Mendingan, sekarang Bapak bangun, terus shalat subuh di masjid. Kan, deket tuh dari sini cuma jalan kaki aja nyampe. Pokoknya, tidak peduli bapak akan menceraikan saya nantinya, tapi untuk saat ini selama bapak menjadi suami saya. Bapak harus mau shalat. Kalau tidak, pernikahan ini tidak akan berkah Pak ! "


" Baiklah, aku akan pergi ke masjid. Tolong siapkan, sarung dan peci aku Ji. Aku mandi dulu sebentar, masih adzan ini belum komat kok ! "


" Iya, aku akan siapkan. Pak Bisma mandi dulu gih ! "


Bisma mengangguk,


" Oh iya, Jangan panggil Bapak lagi . Mulai sekarang, kamu panggil aku Mas Bisma, bisa kan ? "


" Em, itu, Baiklah. M...Mas Bisma ! "


" Kenapa rasanya aku bahagia, saat menggodanya . Jihan Jihan, kamu memang berbeda dari wanita lainnya! " batin Bisma.


Bersambung...