Papa, I Need A Mama

Papa, I Need A Mama
Episode 13



Begitu sampai kantor, Bisma, menghubungi bawahannya. Dia, mencari informasi tentang Jihan. Padahal, sudah satu Minggu dia memerintahkan bawahannya itu, tetapi masih belum juga ada pemberitahuan.


" Halo, Lukman, bagaimana sudah ada informasi tentang gadis yang bernama Jihan Vania ? "


" Oh itu maafkan saya Pak. Saya baru, mendapatkan informasi tentangnya. Jadi, Nona Jihan tinggal di kecamatan Sukasari Sumedang Jawa Barat! "


" Desa Apa ? "


" Di kecamatan nya Pak, RT 5 RW 3 No 10 ! "


" Baik, terimakasih Man ! "


" Sama-sama Pak Bisma! "


Bisma, tersenyum manis, dia berhasil mendapatkan informasi tentang Jihan. Menunggu, hari dimana dia akan pergi ke tempat tinggal mantan pegawainya di Pabrik.


" Karena kau sudah membuat anakku bersedih, aku tidak akan melepaskan kamu Jihan !" batin Bisma.


Siang berganti malam, malam berganti pagi, hari berganti hari, sudah Aqila rasakan, sesak dan galaunya tanpa Kakak cantiknya, Jihan. Tidak terasa, Aqila hari ini sudah pembagian raport, dia mendapatkan nilai bagus di semester pertama ini, berkat usahanya setiap malam belajar. Besok Pagi, rencananya, Bisma akan mengantarkannya ke Sumedang Jawa Barat. Dimana, Jihan,dan kedua orang tuanya tinggal.


" Papa, Aqila dapat nilai bagus ! "


" Syukurlah, Papa ikut senang sayang. Besok, pagi-pagi sekali kita harus segera pergi ke rumah Kakak cantik ! "


" Yey, terimakasih Papa ! "


Bisma, berjongkok menyamakan posisinya dengan putrinya tersebut.


" Iya, sama-sama putriku yang cantik ! "


Keesokan Harinya...


" Papa cepat, kita segera berangkat! "


" Iya Nak, sabar ya ! "


" Tuan Muda, anda yakin berangkat sendiri? "


Bisma, mengangguk sebagai jawaban.


" Pak Juki jangan khawatir, aku bisa sendiri! "


" Baik Tuan Muda, semoga selamat sampai tujuan ya ! "


" Aamiin, Ya sudah saya berangkat dulu. Sampai jumpa lagi Pak ! "


" Iya Tuan Muda! "


" BISMA... Tunggu sebentar! "


" Ya ampun Ma, kenapa lagi sih ? "


" Ini cincin kawin kalian, Mama sudah siapkan ! "


" Baik, terimakasih Ma. Kita berangkat dulu ya, Assalamualaikum ! "


" Wa'alaikumusallam ! "


Tadinya, Mama Bisma ingin ikut, tetapi ada arisan keluarga yang tidak bisa ditunda. Jadi, hanya Bisma, Aqila, dan, Abimanyu saja yang berangkat.


Seorang pria tampan, sedang melaksanakan ibadah sunahnya. Shalat Dhuha, dimana shalat itu boleh dikerjakan 2 Jam setelah shalat subuh. Dia adalah, Charlie Abimanyu. Saat ini, dia sedang membaca Al-Qur'an Surah Al-Waqiah ayat terakhir atau 96 :


فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ ﴿ ٩٦﴾


fasabbih biismi rabbika al'azhiimi


[56:96] Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.


" Masyaallah, sungguh tiada bacaan yang lebih indah dibandingkan dengan membaca Al-Qur'an. Firman-nya sungguh indah, dan, luar biasa. Benar apa yang dikatakan Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu. Beliau berkata jika, Firman Allah adalah obat bagi hati ! " batin Charlie.


Sembari memeluk Al-Qur'an, dia tersenyum dan memohon, agar diteguhkan imannya oleh Allah Ta'ala.


Kedatangan Bisma, begitu mendadak bagi Jihan, dia, sungguh tidak diberitahu oleh siapapun termasuk Aqila. Hingga, Abah, dan Ema menatapnya meminta penjelasan.


" Geulis, kok kamu tidak memberitahu Abah dan Ema. Kalau pacar kamu, datang ke sini ? "


Jihan, memutar bola matanya. Sungguh, diapun tidak mengetahui hal ini. Aqila, dengan santainya memanggilnya Mama membuat suasana menjadi semakin mencekam baginya.


" Jadi, selama Lima tahun di Jakarta kamu teh punya anak sama dia ? "


Ema ( Ibu ) Jihan menunjuk Bisma .


" Astaghfirullah, Jihan masih perawan Ema. Mana ada Jihan punya anak sebesar ini! "


" Bisma, kamu jelaskan kesalahpahaman ini. Kasian Nona Jihan, dasar anak kurang ajar! "


Bisma, yang sedari tadi diam saja, akhirnya dia bersuara.


" Pak, Bu. Saya seorang duda beranak satu. Saya, mengenal Jihan baru-baru ini. Akan tetapi, saya serius ingin menjadikan dia sebagai istri saya. Karena, putri saya ini sangat menyukai Jihan ! "


Deg...


" Pak Bisma, anda sungguh keterlaluan. Sampai membawa Papa anda segala lagi, haruskah anda berbohong seperti ini? " batin Jihan.


" Iya, Ibu, Bapak. Izinkanlah saya, untuk melamar putri anda untuk dijadikan menantu saya ! "


" Kalau saya mah, bagaimana Jihan saja Pak. Karena, yang akan menjalani kehidupan rumah tangga itu Jihan, bukan saya ! " jawab Abah.


" Saya setuju dengan suami saya Pak ! "


" Bagaimana dengan kamu Jihan ? "


Jihan, menggigit bibir bawahnya, sebelum dia menjawab. Terdengar keributan di luar sana, sehingga membuat Aqila ketakutan setengah mati, dan, memeluk ayahnya.


" Papa Aqila takut ! "


" Ada apa itu ? "


...----------------...


" Istri kurang ajar, berani-beraninya selingkuh dariku ! "


" Kamu yang enggak benar jadi suami. 2 Tahun aku berumah tangga denganmu. Kamu tidak pernah mau mengajakku jalan-jalan, justru kamu dengan wanita lain berdua begitu bahagia. Apa karena, aku belum bisa memiliki anak denganmu? Kamu tahu yang mandul itu kamu, bukan aku. Lihat, aku hamil setelah melakukan hubungan intim dengannya. Dasar lelaki Bajing*n! "


Pria yang notabenenya, suami wanita tersebut kemudian menampar pipi sang istri. Keributan keduanya, disaksikan oleh para warga.


" Astaghfirullah, Tidak menyangka kamu seperti ini Widya. Seharusnya, jika lelaki selingkuh jangan kamu balas. Abah, dan, Ema kamu pasti kecewa ! " ujar salah seorang warga.


" Ya Allah, Widya Astaghfirullah'aladzim ! "


Widya, yang menjadi gunjingan warga, dia hanya bisa tersenyum miring. Dia, tidak peduli sama sekali dengan apa yang orang katakan. Karena, mereka tidak tahu kebenarannya.


" Saya melakukannya, juga karena sudah resmi bercerai dari pria ini. Dia berselingkuh, dan saya mengajukan permohonan cerai. Dia menandatangani surat itu. Tetapi, satu bulan setelah bercerai, dia kembali pada saya karena, uangnya habis di ambil pelakor itu. Bagaimana, apakah saya ini wanita kurang ajar? "


" Astaghfirullah, jadi begitu . Heh dasar pria Brengs*k , kamu pergi dari sini. Atau kamu akan kami hajar ! "


" Ada apa ini ? Widya? Teguh kalian sedang apa di sini ? Masuklah ke dalam. Ibu-ibu, bapak-bapak, maafkanlah anak-anak kami. Dan, kalian berdua mari kita bicarakan ini di dalam ! "


Kedua orang itu, akhirnya masuk ke dalam rumah Murniati, dan, Rahmat.


" Jelaskan pada kami, ada apa dengan kalian ! "


" Dia berselingkuh dari saya Abah, Ema. Aku kurang apa, sama dia. Akhirnya aku balas selingkuh, dan barusan terpaksa berbohong pada warga. Jika, aku sudah bercerai darinya, padahal kami belum bercerai! "


" Maksudnya apa? Abah tidak mengerti. "


" Widya, hamil anak Pak Bagjo. Seorang duda, yang sudah lama bercerai dari istrinya. Dia, berusia sama dengan Abah. Tapi, dia kaya raya aku bisa hidup tanpa suamiku yang tidak pernah memberikan nafkah lahir maupun batin padaku ! "


Abah, memegangi dadanya. Penyakit jantungnya kumat, membuat dia hampir terjengkang ke belakang. Kalau saja, Bisma tidak mencegahnya.


" As... astaghfirullah'aladzim ! "


Abah jatuh pingsan, Jihan, dan, Ema menangis histeris karenanya. Sedangkan, Aqila yang ketakutan dia memeluk kakeknya.


" ABAH, jangan tinggalkan aku ! "


Bisma, yang berada di samping Jihan berbisik padanya.


" Jangan berbicara sembarangan, tenangkan dirimu Jihan ! "


Jihan mengangguk patuh, dia terus menangis karena takut terjadi sesuatu pada Abahnya. Sedangkan, Widya hanya bisa menangis melihat kedua orang tuanya. Dia sungguh tidak berani, berkata apapun lagi saat Ibu nya, memarahinya. Sedangkan Teguh, dia meminta Jihan untuk minggir, agar dia bisa membantu Bisma.


" Kita ke rumah sakit sekarang! "


" Baik, saya bantu anda Tuan! "


" Iya, bantu aku bawa Abah ke mobilku ! "


Ema, menampar pipi Widya, sedangkan wanita itu bergeming.


" Widya, anak kurang ajar. Ini semua karena kamu, ABAH hikkss ! "


Bersambung...