
Karina, menatap wajah pria paruh baya yang masih tampan tersebut. Dia, memeluknya erat, menciumi wajah sang pria. Bermaksud untuk membangunkan pria tersebut, dan, tanpa merasa risih, Robert tersenyum manis, saat melihat pujaannya. Keduanya masih belum memakai pakaian, akibat pertempuran yang dilakukan keduanya pagi tadi.
" Honey, bangun dong. Sudah siang loh, mau tidur terus apa ? Kita bersiap-siap untuk pergi ke mall kan. Bukankah kau sudah berjanji, akan membelikan perhiasan untukku! "
Pria itu, memeluk tubuh sang wanita yang masih di atas tubuhnya.
" Tunggu sebentar, aku masih mengantuk. Kau tahu, aku sudah tua, jadi energiku sudah tidak sekuat dulu lagi ! "
" Iya tidak apa-apa honey. Walaupun begitu, kamu membuatku ketagihan melakukannya bersamamu. Bahkan kau lebih hebat daripada Bisma. Tunanganku itu harus dipancing terlebih dahulu, dan, dia paling banyak hanya dua ronde saja. Padahal, kalian berbeda jauh ! "
" Omonganmu Karina, aku jadi menginginkanmu lagi ! "
" Honey, ayolah jangan bercanda. Bukankah kita sering melakukannya, bahkan 4 kali kau menggempurku ! "
" Jujur, hanya denganmu saja aku seperti ini ! "
" Iya aku tahu, ayo segera turun dan mandi ! "
" Baiklah, let's go darling ! "
Keduanya turun dari ranjang. Robert, menggendong Karina apa bridal style. Dalam keadaan seperti itu, keduanya saling memagut bibir satu sama lainnya.
" Entah mengapa, aku merasa sangat bahagia bersamanya, tapi aku juga masih sangat mencintai Bisma. Bahkan, rasanya, aku ingin keduanya saja, jika saja aku tidak meminum pil kontrasepsi. Mungkin, aku sudah hamil, anak dari pria ini. Tuhan, aku harus bagaimana? " batin Karina.
" Aku mencintaimu Karina, aku ingin kau hamil anakku. Mungkin ini jahat, tapi aku akan melakukannya, karena kamu hanyalah untukku! " batin Robert.
...----------------...
Charlie, menunggu gadis berjilbab coklat senada dengan dress-nya. Keduanya kini bertemu lagi, akan tetapi bukan tidak disengaja, melainkan janjian.
" Hana, bisakah aku datang menemui kedua orang tua kamu besok ? "
" Hah? Besok, apa aku tidak salah dengar? "
Charlie, menggeleng sebagai jawaban.
" Tidak, kamu tahu kan kalau berduaan seperti ini akan ada yang ketiga? "
Hana, mengangguk.
" Nah, maka dari itu kita tidak boleh terlalu sering berduaan seperti ini. Kalaupun kita berduaan, setelah menikah mungkin lebih menyenangkan. Aku lelaki normal Hana, makanya aku tidak ingin menghancurkan kamu ! "
" Baiklah Kak Charlie, kamu boleh kok datang ke rumah orang tuaku. "
" Benarkah? "
Charlie, sumringah dia membungkuk tanda terima kasih kepada wanita cantik sudah membuat dirinya jatuh cinta.
" Baiklah, nanti malam. Aku, akan mengatakannya pada kedua orang tuaku ! "
" Baiklah Kak Charlie, semoga Allah Ta'ala mudahkan! "
" Aamiin! "
Keduanya, saling pandang dan tersenyum manis. Mereka berdua, masih dalam mode jaga jarak. Charlie berada, 50 cm dar Hana, dan, Hana sendiri sama dia tidak ingin terlalu dekat dengan Charlie.
...----------------...
" Masyaallah, Mas Bisma rumahnya gede banget sih. Saya tidak mengerti, mengapa orang kaya seperti kalian sungguh boros ya, ini rumah seperti istana saja. Apa enggak mahal ya ? "
Bisma, terkekeh melihat tingkah laku istrinya tersebut. Dia, mengacak-acak rambut sang istri.
" Tidak usah dipikirkan, sebaiknya kita ke lantai atas supaya kamu beristirahat sejenak. Sebentar lagi shalat Dzuhur kan? Jadi, kita tiduran aja sebentar, kalau sudah adzan aku bangunin kamu Jihan ! "
" Hari ini aku masak ya Mas ? "
" Baiklah Mas, ya sudah nurut aja deh ! "
" Mari ! "
Bisma, menggandeng lengan sang istri, menuntunnya masuk ke dalam lift. Dia, menekan tombol angka 5 dimana, kamar ke-duanya berada. Begitu sampai, Bisma menunjukan kamar keduanya.
" Bagaimana, kamu suka tidak ? "
Jihan menatap takjub, kamar keduanya. Benar-benar mewah, dilengkapi dengan forniture mewah, juga lantai granit yang sangat cantik.
" Mas, enggak salah ini ? "
" Apanya yang enggak salah? Apa kamu mau bertanya ini untuk siapa begitu ? "
Jihan mengangguk,
" Ya Allah, Jihan. Ya rumah ini untuk kita bertiga. Buat siapa lagi? Kita di kamar ini, selain mewah, dilengkapi dengan rooftop juga. Aqila di lantai 4, dan, lantai 3 ada ruang kerja, tempat olahraga, di sana . Lantai Pertama seperti yang kamu lihat, ada dapur, kamar para maid, juga ruang tamu. Lantai Ke- 2, ada ruang keluarga, dan kamar tamu ! "
" Rooftop? Apa itu Mas ? "
" Ayo ikut aku ! "
Bisma, membimbing istrinya, dia menggeser pintu kaca tersebut, dan, segera keluar untuk mengajak Jihan duduk di teras. Rooftop ini terbilang cukup mewah dan lengkap.
" Wah, tidur siang di sini aja Mas . Enak deh kayaknya! "
" Ya sudah kalau kamu maunya begitu, ayo tidur di sana ! "
Bisma, dan, Jihan tidur saung bambu.
" Aduh, ini mah bisa tidur di mana aja ! "
"Iya dong, semuanya khusus untuk kamu istriku, Jihan Vania! "
" Cie Mas Duda bisa aja menggombal! "
" Iya, tiduran yuk istirahat dulu ! "
Jihan, mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, dia dan Bisma, tiduran di saung bambu tersebut.
" Jadi ingat kampung halaman saya Mas. Kalau ke sawah, terus berteduh di saung bambu. Cuma, ini kan lebih mewah, enggak kayak di kampung hehehe! "
" Iya, tidurlah Jihan. Nanti, setelah ini kita akan ke apartemen aku yang dulu kamu kabur itu ! "
Jihan tertawa, membuat Bisma tanpa sadar mengelus wajah sang istri.
" Eh Mas, jangan begini. Saya takut jatuh cinta pada anda! "
Bisma, segera menyingkirkan tangannya yang sudah menyentuh wajah sang istri. Dia, meminta maaf pada Jihan, karena sudah sembarangan menyentuh wajah wanita itu. Dikala, ke-duanya tidak sedang bercinta. Karena, dalam kontrak keduanya diperbolehkan menyentuh bagian tubuh satu sama lain, hanya jika keduanya sedang berhubungan intim saja. Selebihnya, tidak boleh, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Misalnya, jatuh cinta pada partner bisnis. Dan, Jihan tidak ingin itu terjadi. Karena, dia tidak ingin membuat hubungan mereka semakin sulit.
" Sudahlah, saya tahu anda tidak sengaja kan ? "
Jihan, tersenyum manis, hidung keduanya benar-benar dekat dan hampir menempel. Hembusan napas keduanya pun, terdengar nyaring di telinga masing-masing. Jihan, memalingkan wajahnya dari Bisma, lalu, dia membalikkan tubuhnya memunggungi suaminya.
" Aku tidak boleh jatuh cinta padanya, dia kekasih orang lain. Dan, mereka sudah bertunangan. Sadarlah Jihan, kamu tidak boleh menjadi orang ketiga antara Mas Bisma dan Karina ! " batin Jihan.
" Aku harus bagaimana? Secepat inikah aku jatuh cinta padanya, hanya karena semalam dia menyerahkan kesuciannya padaku . Aku menjadi semakin menginginkan dirinya. Jihan, kamu pake pelet enggak sih ? Kok aku bisa jatuh hati secepat ini padamu. Enggak-enggak, aku hanya mencintai Karina, bukan Jihan. Ayo Bisma, kau pasti bisa. Mungkin, itu hanya n*f*u sesaat , Jihan juga masih perawan, jadi sepertinya aku hanya menginginkan t*buhnya saja !" batin Bisma.
Keduanya, terlarut dalam pikiran masing-masing.
Bersambung...