
Sehari sudah Jihan pulang kampung, Alif dibuat kelimpungan. Sungguh, dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada adiknya. Akan tetapi, dia tidak bisa melakukan apapun. Jihan, memintanya untuk tidak mengikuti dia. Jadi, mau tidak mau Alif, harus menyerah.
" Ya Allah, semoga Jihan Baik-baik saja ! " batin Alif.
" Lif, kenapa Jihan tidak datang kemari? "
Mama Alif, Maesaroh tidak mengetahui jika Jihan pulang ke kampung halaman Ibu angkatnya. Jadi, dia tampak kebingungan mencari Jihan .
" Em, itu Ma. Adek, dia tidak akan pernah bisa datang kemari lagi. Dia, pulang ke kampung halaman Ibu angkatnya, di Sumedang Jawa Barat! "
" Apa ? Ya Allah Alif, kamu kenapa tidak memberitahu Mama. Sebenarnya, Mama ini siapanya kamu sih? Mengapa tega merahasiakan ini dari kami ! "
" Ma, Alif, em, Alif minta maaf. Tolong maafkan Alif, Ma ! "
Alif, bersujud di hadapan kaki ibunya. Dia mengakui kesalahannya, sungguh dia hanya tidak ingin membuat kondisi tubuh ibunya memburuk.
" Sudahlah, jangan seperti ini. Sebaiknya, kita segera temui mereka, katakan sejujurnya. Jika, Jihan adalah keluarga dari Hendrawan Samiaji ! "
" Sabar sedikit Ma, aku takut Jihan masih belum bisa menerima kenyataan ini ! "
" Hah, selalu saja seperti ini. Sudahlah, Mama lelah ingin segera beristirahat. Sebaiknya, kamu segera makan malam. Dan, setelahnya minta maid untuk membereskan semuanya ! "
Raut wajah ibunya terlihat begitu kecewa, dengan keputusan Alif.
" Maaf Ma, aku sungguh tidak tahu harus bagaimana? " batin Alif.
......................
Pagi ini, seperti biasanya Aqila, dan ketiga orang dewasa itu duduk bersama di meja makan bundar tersebut. Mereka, memakan makanannya dengan khidmat. Terkecuali, Aqila. Gadis kecil itu, menopang dagunya, dia bergumam sendiri. Sampai-sampai sebuah celetukan Aqila, membuat para orang dewasa tersebut hampir saja tersedak.
" Dua hari sudah, Mama Jihan pergi. Aqila sungguh tidak bisa seperti ini terus. Rindu itu berat, tidur saja tidak nyenyak, makan pun terasa tak enak ! "
Papa Bisma, Abimanyu terbatuk, dan segera meminum air putih yang sudah di sediakan. Begitupun, dengan Mama Dewi, sementara itu Bisma sendiri, dia,tersedak. Dan, harus dibantu oleh Papanya yang berada di sampingnya. Papa Abimanyu, menepuk-nepuk punggung sang putra. Setelah dirasa agak mendingan. Bisma, meminum air putih yang sudah disediakan.
" Aqila, dia bukan Mama kamu. Papa, dan, Kakak Jihan belum menikah! "
" Tapi, sebentar lagi kan menikah! "
" Iya sih, hanya saja. Untuk saat ini, jangan memanggilnya Mama. Lihat ini, Papa sampai tersedak karena celotehan kamu ! "
" Maafin Aqila ya Pa , tapi Papa harus berjanji. Akan menikahi Kakak cantik! "
" Iya , terserah kamu saja sayang ! "
...----------------...
" Alhamdulillah, nasi uduk kita laku Ema ! "
" Alhamdulillah ya geulis, ini semua berkat kamu ! "
" Jangan bicara seperti itu, ini semua karena ikhtiar kita Ema ! "
" Iya deh, Ema mah nurut aja. Daripada, debat kan! "
Keduanya, terkekeh, dan, saling berpelukan. Walaupun bukan ibu kandung, Murniati ,dan Rahmat. Sangat menyayangi Jihan, selayaknya putri kandung mereka, Widya. Semenjak putri satu-satunya itu menikah, Murniati dan Rahmat sangat kesepian. Apalagi, Jihan di Jakarta. Jadi, mereka hanya berdua saja.
" Terimakasih Nak, sudah mau menemani kami . Sungguh, ini adalah anugerah yang diberikan oleh Allah Ta'ala untuk Ema, dan, Abah ! "
" Abah dan Ema juga, anugerah terindah bagi Jihan . Ya sudah, kita rapikan dulu ya Ema ! "
" Iya Nak, nanti habis mandi, makan, dan shalat dhuha kita ke kebun ya. Bantuin Abah, dia sedang mencangkul, Ubi nanti untuk dibuat cemilan ! "
" Baik, Ayo Ema. Segera kita rapikan ! "
Keduanya, merapikan barang-barang yang barusan dipakai untuk jualan nasi uduk, di depan rumahnya.
...----------------...
Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Pagi ini, seorang pria, berjalan sembari mendorong kopernya, dia tersenyum manis. Wajahnya yang tampan, membuatnya menjadi pusat perhatian, tubuh tinggi tegap, sixpack, memakai kacamata hitam dengan kancing kemejanya yang terbuka beberapa biji.
Pria itu menarik napasnya, dan sesudahnya dia, mengembuskan napasnya keluar. Tersenyum senang, sudah sampai Indonesia tercinta. Benar-benar, tidak terasa waktu.
" Alhamdulillah, sudah sampai Indonesia. Negeri sendiri, lebih enak dibandingkan dengan negeri orang ! "
Pria itu, baru saja menyelesaikan pendidikan nya, dia sudah bergelar S2 Cum Laude bidang Islamic Studies. Bukan tanpa alasan dia melanjutkan pendidikan di Turki. Untuk memperdalam ilmu agamanya yang masih kurang. Semenjak, bersekolah di sana dia bisa belajar banyak hal tentang Islam.
Apalagi, dia bertekad ingin membuat kedua orang tuanya sadar. Jika Islam, tidak hanya sekedar shalat saja. Dia, juga bertekad ingin membantu kakaknya agar lepas dari zina. Dia tahu Kakaknya tersebut, selalu keluar masuk mansion calon Kakak iparnya, Karina. Charlie, tidak ingin Kakaknya itu terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan lebih dalam lagi.
...----------------...
" Nona Aqila, nanti siang Paman Nona akan menjemput Nona ! "
" Iya, Pak Juki. Terimakasih! "
" Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu ya Non. Soalnya, Bapak mau menjemput adiknya Tuan Muda. Uncle Charlie, dia sudah berada di Bandara saat ini ! "
" Oke, hati-hati ya Pak Juki! "
" Iya, terimakasih Non ! "
Pak Juki segera kembali menuju mobilnya, sedangkan Aqila berjalan bersama teman-teman sebayanya.
" Kata Bu Tina, kita sebentar lagi libur!"
" Iya, kamu mau liburan ke mana Chika ? "
" Aku mau liburan ke Bali, kalau kamu ke mana Aqila ? "
" Aku mau menemui Kakak cantik, di Sumedang sana ! "
" Oh begitu ya ! "
" Anak-anak, 5 menit lagi kita masuk ya ! "
...----------------...
" Abah, bagaimana capek ya dari tadi nyangkulnya ? "
" Tidak Geulis, Alhamdulillah Abah masih diberikan kesehatan! "
" Alhamdulillah, syukur deh. Abah, Jihan sama Ema udah buatin makanan sama minuman. Dimakan dulu, Abah ! "
" Iya Geulis, terimakasih! "
Abah, segera mencuci tangannya, di ember yang sudah berisi air. Setelah itu, dia menghampiri istri, dan, anak angkatnya.
" Duh, enak banget Masyaallah bakwan buatan Jihan ya ini ? "
Jihan, mengangguk.
" Syukurlah kalau Abah suka. Jihan seneng Abah suka makanan buatan Jihan ! "
" Duh iya ya Geulis, kamu tuh susah seharusnya menikah dan menjadi seorang Ibu. Semoga, segera mendapatkan jodoh ya Nak ! "
" Aamiin Ema, terimakasih! "
" Iya, semoga kamu tuh segera ya dapat jodoh. Tapi, jangan sampai seperti Kakak angkatmu Widya. Dia, salah pilih lelaki, menikah malah melupakan kedua orang tuanya. Sedih Abah mah, kalau liat Widya teh ! "
Jihan, mengusap punggung Abah nya, begitu juga dengan Murniati.
" Sudah Abah, jangan sedih lagi. Kita berdoa saja, semoga Widya teh bisa dibukakan pintu hatinya, oleh Allah Ta'ala! "
" Aamiin Ema, Hayuk lah makan lagi. Nanti takutnya keburu dzuhur. Kita, harus segera menyelesaikan pekerjaan ini ! "
" Iya Abah, tenang ada Jihan . Insyaallah kerjaannya cepat selesai! ".
Dan setelahnya, mereka saling bercanda, di gubuk bambu tersebut.
Bersambung...