Papa, I Need A Mama

Papa, I Need A Mama
Episode 55



" Sayang, bagaimana keadaan kamu sekarang? "


" Alhamdulillah, aku agak baikan Ma. Mas Bisma menjagaku dengan baik! " Jihan, mengulas senyumnya.


" Suamimu itu, memang sangat baik. Dulu juga saat bersama Jasmine! "


" Ma, tolong jangan katakan itu lagi. Jangan membahas tentang Jasmine, dia sudah menjadi masa laluku ! "


Maesaroh menoleh, dan, mengangguk dia paham dengan apa yang menantunya katakan. Bisma, benar-benar mencintai Jihan, putrinya.


" Baiklah Nak Bisma, terimakasih ya sudah mau menjaga Jihan !"


Bisma , tersenyum sembari menganggukan kepalanya.


" Tentu saja, dia kan istriku Ma. Aku, sebagai seorang suami, wajib menjaga, dan, melindungi istriku! "


Maesaroh tersenyum, dia merasa mempunyai menantu baik seperti Bisma, adalah suatu kebanggaan, dalam dirinya. Baik itu Jasmine, maupun Jihan, keduanya sangat berharga bagi seorang Bisma Abimanyu. Membuat, Maesaroh sebagai seorang ibu, dia bahagia.


" Terimakasih sudah menyayangi Jihan . Mama, sangat bahagia, memiliki menantu seperti kamu Nak ! "


" Sama-sama Ma, tapi jujur antara Jasmine dan Jihan. Bisma, lebih menyayangi Jihan ! "


Mendengar perkataan sang suami, Jihan tersipu malu. Pipinya, sudah seperti udang rebus saat ini.


" Kamu, tidak bohong kan Nak Bisma ? "


" Tidak Ma, aku jujur kok. Rasanya, sulit diartikan, yang jelas aku tidak ingin kehilangan Jihan ! "


" Masyaallah, terimakasih Nak . Mama berdoa, agar kalian berdua selalu kompak, dan, bahagia bersama Aqila! "


" Aamiin! "


" Awas saja, jika kamu menyakiti hati putriku. Kamu, tidak akan bisa bertemu dengannya lagi! "


" Ya Allah, tidak Ma. Bisma, tidak akan pernah membuat Jihan bersedih. Aku berjanji, mengenai hal itu ! "


" Baiklah, Mama pegang janjimu Nak. Ah iya, Mama ada urusan penting, kapan-kapan kita bahas tentang pernikahan kalian ! "


" Baik Ma, terimakasih banyak! "


Maesaroh mengangguk, dia memeluk tubuh putrinya Jihan, dan mencium pipi kanan dan kirinya. Dia, kemudian menangkupkan kedua tangannya di dada pada Bisma sang menantu. Kemudian, segera pergi meninggalkan meninggalkan kedua insan tersebut.


" Mama sudah pergi, saatnya aku menjagamu sayang! "


Jihan, mengulum bibirnya, dia menggeser tubuhnya, dan, Bisma masuk ke dalam selimut bersamanya.


" Mas, aku kangen Aqila! "


" Sabar ya sayang, kalau kamu sembuh kamu pasti bisa bermain lagi dengannya! "


Jihan, menyenderkan kepalanya pada bahu sang suami.


" Iya, aku akan bersabar dengan hal itu. Sepertinya, pernikahan kita pun memang harus diundur dulu ya Mas. Lihat, seluruh tubuhku penuh luka ! "


Bisma, menatap nanar wajah sang istri.


" Maaf, kalau saja ..."


" Sudahlah, maafin Jihan yang sudah membuat Mas Bisma kerepotan! "


" Siapa yang bilang seperti itu? Aku tidak pernah merasa direpotkan! "


" Mas memang yang terbaik! "


Jihan, memeluk tubuh sang suami dengan sangat hati-hati. Karena, tubuhnya, masih belum pulih.


Di sisi lain, Aqila sangat merindukan ibu kandungnya. Dia, meminta supir untuk mengantarnya, ke pemakaman umum. Dan, Pak Juki dengan senang hati mengantarkannya. Aqila, meletakkan bunga melati, favorit ibunya yang dia tahu dari Ayahnya.


" Mama, jangan marah ya. Aqila, sayang banget sama Mama, tapi, Aqila juga sangat menyayangi Mama Jihan. Bahkan, melebihi rasa sayang Aqila ke Mama. Mama Jihan, sudah menggantikan posisi Mama di hatiku. Mama, jangan marah ya. Pak Juki, tolong bantu Aqila, doain Mama ! "


Juki, duduk di samping Aqila yang sedang berjongkok di makam ibunya. Kemudian, dia membaca doa untuk Almarhumah ibu Aqila tersebut.


" Terimakasih Pak Juki! " ujar Aqila dengan tulus.


" Sama-sama Nona Muda! "


Aqila, memandangi batu nisan sang Ibu. Dia, mengusapnya perlahan.


" Mama, Aqila pulang dulu ya. Mama, yang tenang ya disana, Aqila sayang Mama! "


Aqila, melihat sekilas, dari batu nisan tersebut. Ibunya tersenyum, sembari melambaikan tangannya. Tanpa sadar, Aqila pun membalas lambaian tangannya. Dan, Pak Juki yang melihat itu seketika, merinding.


" Aduh, merinding aku ! " batin Pak Juki.


" Nona ayo, nanti keburu dzuhur! "


Aqila, mengangguk.


" Ayo, Pak Juki! "


Keduanya berjalan beriringan, Pak Juki menggandeng tangan majikan kecilnya tersebut.


...----------------...


" Kamu menyuruh Mami untuk membunuh Keluarga Abimanyu? Sudah gila kali ya, Nak secinta apapun Mami padamu. Melakukan hal keji seperti itu, Mami tidak sanggup, Itu perbuatan tercela, Tolong mengertilah sayang! "


Karina, mendengus kesal, dadanya kembang kempis.


" Kau sudah menelantarkan aku dulu, sekarang saatnya kau menjadi seorang ibu yang baik, untukku ! "


" Astaghfirullah, Karina Mami mohon, kamu jaga sikap . Bertaubatlah Nak, meskipun Mami belum siap memakai jilbab tetapi, Mami tidak pernah ingin berbuat jahat seperti itu. Kamu tahu, Tuhan akan murka Nak, taubatlah selagi kita masih diberikan kesempatan olehNya ! "


" Jangan menceramahi aku, kalau mau ceramah sana di masjid. Jika tidak ingin membantuku, enyahlah. Aku benci Mami ! "


Angelina, tampak begitu terkejut dengan pernyataan buah hatinya tersebut. Dalam hatinya, dia berdoa semoga Tuhan mengampuni semua kesalahan yang telah diperbuatnya. Hingga, dirinya harus melahirkan anak seperti Karina. Dia, memegangi gagang telepon yang menyambungkan obrolan dengan Karina di balik, dinding kaca sana. Waktu menjenguk pun, kini sudah habis. Polwan masuk ke ruangan tersebut, dan, memintanya untuk menyudahi obrolannya bersama putri kandungnya tersebut.


Dia menatap Karina, dan menyampaikan pesan terakhir sebelum pergi. " Nak, Taubatlah. Semoga, dengan kamu bertaubat, Tuhan akan mengirimkan pria terbaik untukmu, sebagai pengganti Bisma. Assalamualaikum! "


Karina, menatap nanar punggung sang ibu, yang saat ini pergi meninggalkan dirinya. Begitupun dengan dia, polwan yang menjaga, menggiringnya kembali ke dalam sel tahanan.


" Haruskah aku bertaubat, aku rasa Tuhan saja tidak adil padaku. Mengapa aku harus menyembah Nya ? " batin Karina. ( Mari kita beristighfar untuknya) .


" Silakan masuk ! "


" Tidak usah mendorongku, aku juga manusia bukan hewan . Tolong ya, Bu polwan yang terhormat! "


" Benar kata Ibumu, sebaiknya kamu bertaubat. Jangan terus-terusan, menyimpan dendam dalam kalbumu. Tuhan pasti tahu yang terbaik untuk kamu, Nona Karina. Baiklah saya permisi! "


" Sok bijak, menyebalkan. Ada apa sih dengan manusia hari ini. Seolah-olah mereka itu sudah bersih saja dari dosa, sok menasihati aku. Padahal, mereka sendiri ahli maksiat, sama saja sepertiku! "


Sebuah bisikan, dalam kalbu Karina membuat wanita itu ketakutan.


" Allah Ta'ala, maha penerima taubat. Sebanyak apapun dosamu, maka Allah Ta'ala akan mengampuni.


أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ"


" Apa itu berisik, jangan mendekat. Pergi kau, pergi jangan kemari . Hwaaaaaa ! "


Karina, berteriak histeris, dia benar-benar ketakutan setengah mati. Banyak sekali, bisikan bisikan dalam hatinya. Dia, menutupi telinga nya, supaya bisikan tersebut segera berlalu. Akan tetapi, semakin dia mencoba untuk menghilangkan suara-suara tersebut, semakin nyaring bunyinya. Membuatnya, jatuh terduduk di lantai sel tahanan tersebut. Dia, memeluk tubuhnya erat, menangis di kesendiriannya. Dia, memanggil orang-orang tetapi, tiada orang yang datang menghampirinya.


" Pergi, kumohon pergi Hiks . Apa yang kalian lakukan, sudah membuatku tidak nyaman ! "


" Nak bertaubatlah ! "


Perkataan sang ibu, terngiang-ngiang dalam pikirannya. Karina, menangis sembari memeluk tubuhnya.


" Aku harus bagaimana? " batinnya.


Bersambung...