
Rasanya seperti mimpi, aku memiliki keluarga kecil yang bahagia. Biasanya, aku tidak pernah peduli dengan Aqila, hanya sesekali saja. Selalu, lebih mengutamakan pekerjaan dibandingkan berkumpul dengan keluarga. Akan tetapi, semenjak adanya Jihan disampingku, aku merasa memiliki tanggungjawab yang tidak bisa ditunda lagi.
Saat, tangan ini menjabat tangan sang penghulu, aku sadar. Jika pada akhirnya, aku akan menjadi suami, dari seorang gadis yang ciuman pertamanya telah, aku ambil. Artinya, aku harus bertanggung jawab penuh, atasnya. Dan, semoga aku bisa memegang amanah itu, dan, harus bisa menjaganya.
Memang, ada Karina diantara kami. Karena, aku memutuskan untuk berpoligami, asalkan aku bisa adil maka aku sudah menjadi suami yang baik untuk keduanya. Akan tetapi, hingga saat ini, keinginan berpoligami, masih belum bisa aku utarakan pada Karina , ataupun istriku, Jihan. Aku ragu, untuk mengatakannya pada tunanganku. Karena, sikap Karina benar-benar, tempramental, itu yang membuat aku frustasi.
Nanti malam, rencananya, aku akan mengatakannya pada istriku. Saat, Aqila, sudah tidur pastinya. Aku percaya, jika Jihan akan menyetujuinya. Tapi, aku merasa heran dengan bawahan ku Yoga . Mengapa, dia tidak pernah mau melihat wajah tunanganku, Karina. Berbeda sekali, saat dia bertemu dengan Jihan. Dia, tersenyum begitu manis, dan, juga sangat mendukungku dengannya.
Bahkan, ada salah satu ayah dari pejabat perusahaan yang menatap sinis ke arah tunanganku. Aku yang melihatnya, pada akhirnya, aku memanggil dia untuk ke ruanganku sehari setelah Karina , datang berkunjung kemari. Kutanya beliau, ternyata Karina sangat mirip dengan mantan menantunya, hanya saja di bagian keningnya ada tahi lalat. Lalu, aku menasihatinya tidak baik membenci seseorang tanpa sebab. Karena, hal tersebut, hanya akan mengotori hati.Pandangan, Yoga, dan, pejabat perusahaan itu hampir mirip. Keduanya, terlihat begitu membenci Karina. Aku, seharusnya menyelidiki tentang ini. Aku, ingin tahu , apa yang sebenarnya terjadi.
" Mas, kok melamun sih? Dari tadi, Aqila minta gendong, diem aja sih ! "
Suara, wanita paling cantik, dan, seksi yang terdengar di telingaku, membuatku tersadar. Jika, aku, sudah lama sekali melamun. Aku, bergegas meminta maaf padanya, dan, juga anakku. Aku pun, tidak lupa untuk menggodanya. Ku puji dia, cantik, dan, seksi tanpa harus memakai pakaian yang terbuka . Dia, tersipu malu, saat aku menggodanya. Sungguh, sangat cantik, bahkan ku akui jika diantara Jihan dan Karina. Walaupun lebih cantik Karina, tetapi, dia tidak semanis Jihan. Dia, hanya cantik, tanpa ada imut, atau, seksi.
Namun, berbeda dengan Jihan, wajahnya seksi, meski tidak terlalu banyak polesan. Karena, Jihan hanya memakai krim BB, dan, lipstik saja. Jihan, merawat dirinya, hanya dengan sabun cuci muka, krim pagi,dan, malam, krim BB, serta sunscreen untuk melindungi kulitnya dari paparan sinar matahari. Tidak seperti Karina, semua make up dibelinya. Bahkan, tidak hanya make up, tas dari Cr*sti*n D*or juga dia beli. Menurutnya, wanita harus tampil cantik dan glamour.
Tidak hanya itu, Karina, suka sekali memesan dress di butik terkenal, seminggu sekali. Sehingga, banyak sekali tagihan yang masuk pada kartu black card ku. Memang, tidak masalah bagiku, karena, aku sudah memiliki perusahaan pakaian di seluruh Indonesia. Tapi, yang jadi masalah adalah bagaimana nantinya, dia memanage uang, saat kami menikah nanti. Jika, saja, dia sekarang saja, sudah begitu boros.
Namun, Jihan berbeda, dia lebih mementingkan kepentingan aku, Aqila, baru dirinya. Jihan, meminta aku memberinya ATM saja, dia tidak ingin kartu kredit. Berapapun saldo ATM nya, yang penting itu adalah nafkahnya perbulan. Aku mencoba, memberikan nafkah padanya satu bulan 100 juta. Tapi, dia hanya menggunakan beberapa juta saja. Itupun, dia membelikan boneka untuk Aqila, membelikan pakaian Koko untuk aku gunakan shalat. Lalu, dia belikan iqro untuk aku belajar mengaji. Karena, untuk urusan dapur, Julia yang mengurusnya.
Tidak terasa, sore ini kami habiskan waktu di taman. Mulai dari bermain bersama Aqila, main ayunan, meminum teh bersama dan lain sebagainya. Kini, Aqila sedang mandi bersama pengasuhnya, tentunya dengan air hangat. Dan, istriku pun saat ini sedang mandi di kamar mandi, sedangkan aku sendiri, merebahkan tubuhku, karena lelah.
Tiba-tiba saja, ada yang menaikan kakiku ke ranjang. Aku yang sedang memejamkan mataku, mencoba membuka mataku. Dan, ternyata Jihan, dia memijit kakiku. Sembari menatapku, dia tersenyum manis.
" Eh sayang, sudah mandikah ? "
" Sudah Mas, aku pijitin kamu ya. Kayaknya, kamu capek banget! "
" Iya nih sayang, Mas habis mandi langsung tiduran aja. Karena, hari ini begitu capek . Kerjaan Mas, banyak banget, sampai-sampai Mas minta Yoga bantuin Mas ! "
" Ya ampun, Yoga juga kasian ya. Mana dia, enggak punya istri lagi ! "
" Jihan, jangan main-main ih, aku cemburu! "
" Iya, maaf deh. Ya sudah sini, Jihan pijitin Mas, biar capeknya hilang ! "
" Sudah selesai, sekarang pundaknya Mas . Aku, mau pijitin ! "
" Terimakasih Sayang ! "
" Sama-sama, Mas ! "
Dia, beralih memijit punggungku, selain itu, dia benar-benar mengurus kami dengan baik, maksudnya aku dan Aqila. Dari mulai, mengajari aku dan Aqila mengaji, memijitku setiap sepulang bekerja, seperti saat ini, dan yang paling terpenting adalah dia sangat mencintai Aqila, layaknya seperti anaknya sendiri.
" Sudah sayang, makasih ya ! "
" Iya, sama-sama! "
Aku segera bangkit, lalu ku tarik pinggang ramping istriku, membawanya ke dalam pelukanku. Aku, kemudian, memangku tubuhnya. Kini, posisinya berada di atasku, sungguh pemandangan yang sangat indah. Menatap, wajahnya tiada bosan yang kurasa. Mungkin saja, karena aku mulai mencintainya. Dan, untuk saat ini, aku hanya ingin dan peduli padanya, bukan yang lain. Meskipun hati ini masih mencintai Karina, tapi separuhnya lagi, aku mencintai Jihan, istriku.
" Sayang, boleh minta kiss ! "
" Mas, merem dulu. Aku akan kiss, Mas ! "
" Baiklah! "
Aku, memejamkan mataku, napas Jihan terdengar menderu ditelingaku. Dia, kian mendekat ke arah wajahku. Aku, sepenuhnya terpejam, Jihan menempelkan bibirnya pada bibirku, dia **********, dan, akupun membalasnya. Kami kini ber*i*man secara intens, tidak ada nafsu hanya ciuman kasih sayang. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan dia, Jihan Vania, istriku dan calon ibu dari anak-anakku. Jika saja aku dibolehkan, aku ingin membuat anak 3 atau lima dengannya. Agar, rumah ini semakin ramai. Aku, Aqila, Jihan, dan anak-anakku yang lain, semoga saja, Aamiin.
" M...Mass, udah ih nanti keterusan loh ! "
Jihan, memukuli dada bidangku, aku tersenyum saat melihat wajahnya yang merah merona tersebut. Dan, aku mengakhiri ciu*an ku. Jihan, tersenyum padaku, dia menggelitik ku, hingga rasa geli kini menghampiri perutku. Dia, berlari dengan cepat, betapa jahilnya istriku ini. Tidak tahu apa suaminya jago lari ? .
" Ah Mas, turunin, ampun, aku enggak bakalan jahil lagi aduh geli Masssh ! "
Aku, menghentikan aksiku menggelitiknya, ku peluk tubuhnya. Dan, ku bawa dia duduk bersama sembari, menunggu waktu shalat Maghrib.
Bersambung...