Papa, I Need A Mama

Papa, I Need A Mama
Episode 18



Keluarga besar Alif, sedang makan malam, bersama dengan calon istri, dan, mertuanya. Hari ini, dia akan menentukan pilihan terbaik hari pernikahan. Keluarga Sania, mendesak agar Alif menikah secepat mungkin dengan anak mereka. Karena, takut terjadinya fitnah, sebab, keduanya sudah lama saling kenal. Juga, gadis itu sering keluar masuk kediaman keluarga Hendrawan.


" Jihan saja masih belum masuk ke dalam rumah ini. Lalu, haruskah aku begitu terburu-buru menikah dengan Sania? Lagipula, aku tidak mencintai dia sama sekali, ini terpaksa . Karena, Papa dan Mama berhutang pada om Dani " batin Alif.


" Tidak sabar, aku ingin segera menikah dengan Kak Alif. Aku sangat mencintai dia, terimakasih Ya Allah! " batin Sania.


" Om, Tante . Bisakah, pernikahan aku dan, Sania di undur beberapa bulan lagi ! "


Sofia, dan, Dani, berhenti sejenak.


" Bisa kamu beritahu alasannya, agar kami bisa memakluminya ! "


" Memangnya apa yang membuat kamu ingin mengulur waktu ? "


" Mas Dani, Mbak Sofia, tolong jangan marah. Alif, memang masih belum siap untuk menikah dengan Sania. Karena, adik kandungnya masih belum ketemu! "


" Kan bisa saja, setelah menikah Alif mencari adiknya. Lalu, memberitahu adiknya jika sudah bertemu. Kalau, dia sudah menikah dengan Sania. Kenapa harus repot ? "


Alif, menatap wajah calon mertuanya tersebut. Apakah sikap asli calon ayah mertuanya seperti ini? Kalau memang iya, sebaiknya dia membatalkan pernikahan mereka saja. Entah mengapa, perasaannya tidak enak. Dia, menaruh garpu dan pisau di atas piringnya. Sungguh, calon mertuanya ini membuatnya emosi. Tidak tahukah dia, jika dia ingin menikah tetapi harus dihadiri oleh adiknya.


" Cukup Om, bisakah anda diam ? Pa, Ma, beritahu mereka. Jangan seenaknya saja, bukankah kita sudah cukup membalas Budi pada keduanya? Apa maksudnya ini? "


" Nak, duduklah! "


Hendrawan berkata begitu lembut pada sang putra. Bukan apa-apa, Dani adalah seseorang yang pernah membantu dirinya saat kesulitan dulu.


" Tidak Pa, terimakasih. Sudah hilang selera makan ku karena meraka. Sebaiknya, kita batalkan saja pernikahan ini. Om Dani, saya tidak bisa menikah dengan putri anda. Jika ingin ayah saya membalas kebaikan anda, bukankah dengan merawat Jasmine saja sudah cukup Hah? Bahkan, kami menikahkan putri kalian dengan pria tampan dan kaya di negeri ini. Harta kami, bahkan lebih banyak daripada yang Om berikan pada kami. Dan, sekarang anda jatuh miskin karena berjudi anda pikir saya tidak tahu. Dan, anda, memaksa saya untuk menikah dengan putri anda. Apakah anda waras ?"


Cincin yang sudah terpasang selama dua setengah tahun ini, akhirnya dia lepaskan di depan calon istri, dan, mertuanya . Alif, sesungguhnya, tidak mencintai Sania. Gadis itu saja, yang kegenitan, datang dan pergi ke rumah keluarga Hendrawan hanya untuk bertemu dengannya. Sania menatap wajah Alif nanar, air matanya tiba-tiba saja terjatuh. Dadanya sesak, mengapa Alif seperti ini? Padahal, sebelumnya tidak pernah seperti ini. Alif, adalah tipe pria yang penurut.


" Lancang Kamu ! "


Pria paruh baya bernama Dani tersebut menggebrak meja makan. Sehingga, membuat Ibu Alif terkejut, dan, hampir saja terjatuh karena, saking kagetnya.


" Apa? memang benar kan ? "


" Sekarang juga, saya akan segera memberikan uang yang anda berikan pada Papa saya kembali. Dengan jumlah, 3 kali lipat, lebih banyak, satu apartemen mewah, sebuah mansion di kawasan Jakarta Pusat. Lalu, saya juga akan memberikan mobil, Lamborghini Aventador keluaran terbaru. Dan, Ibu Sofia saya juga akan memberikan sebuah butik untuk anda, karena anda desainer bukan? Saya rasa ini sudah, cukup ya, dan, kamu Nia, tolong jangan pernah datang kemari lagi. Penjaga... ! "


Alif berkata, penuh penekanan, dia kemudian memanggil penjaga dengan suara lantangnya. Usman, komandan pasukan penjaga di mansion ini. Datang, saat Alif memanggilnya, dia memberikan hormat dan bertanya pada Tuannya..


" Hadir Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu? "


" Tolong, kamu bawa beberapa bawahan kamu, satu laki-laki dan dua perempuan. Usir ketiga orang ini, dari rumah. Dan, mulai besok. Jangan pernah mengizinkan mereka masuk mengerti?


" Siap Tuan, Laksanakan! "


Usman, memberikan hormat, dan, Alif mengangguk sebagai jawaban.


" Ningsih! "


Ningsih, kepala pelayan di mansion ini datang menghampiri panggilan Tuannya.


" Bawa ibu istirahat. Dan kamu Usman, tolong bantu Papa ke dalam kamarnya, ikuti Ningsih ! "


" Baik Tuan! " jawab keduanya serempak.


Setelah memberi kode pada bawahannya untuk masuk, Usman segera mengantarkan ayah Alif, yang terlihat lemas. Karena, melihat putranya begitu marah disebabkan oleh emosi nya yang tidak terkontrol. Begitupula dengan Maesaroh, wanita itu sedari tadi memegangi dadanya, tertunduk lemas.


" Kalian bertiga,segera bawa mereka ke luar . Aku muak melihatnya! "


" Baik Tuan Muda! "


" Kakak, jangan seperti ini. Maafkanlah kedua orang tuaku ! "


Sania, bersujud di kaki Alif, tetapi pria itu berjongkok dan menghapus air matanya.


" Sudah, jangan menangis. Maafkanlah aku, tidak bisa menikah denganmu. Sungguh aku tidak mencintai kamu, aku harap kamu mendapatkan pria yang lebih baik daripada aku. Jubaedah, segera bawa dia keluar! "


" Siap Tuan Muda! "


" Alif, kau akan menyesal. Aku bersumpah kau akan melajang sampai tua! "


" Cukup Om Dani, simpan saja sumpah serapah mu itu. Erik, segera bawa dia pergi! "


Alif berdoa dalam hati, supaya Allah Ta'ala memberikan perlindungan padanya.


اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوْءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ


Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari susahnya bala (bencana), hinanya kesengsaraan, keburukan qadha' (takdir), dan kegembiraan para musuh." (HR Bukhari dan Muslim)


.


" Mas kok bisa sih kita seperti ini, aku tidak mau jatuh miskin lagi ! "


" Tante, anda tidak akan miskin. Aku sudah memberikan banyak modal untuk kalian, tinggal kalian kelola dengan baik. Kalian, pasti tidak akan kesusahan lagi ! "


" Terimakasih Nak Alif ! " ujar Sofia.


" Jangan berterimakasih padanya, dia tidak pantas. Dasar anak tidak tahu diri! "


" Papa cukup, aku malu ! "


Sania, benar-benar kecewa kepada ayahnya, dia juga salah terlalu berharap banyak pada Alif. Padahal, pria tampan brewok tersebut, tidak menyukainya sama sekali. Dia saja yang kegenitan, dan, terlalu percaya diri mendapatkan apa yang dia inginkan.


Kedua orang tuanya bercerita, tentang keluarga kaya raya yang tadinya hanya seorang bawahan ayahnya. Mereka pasti akan membantu ekonomi keluarganya, dan saat bertemu dengan Alif untuk pertama kalinya Sania jatuh hati. Dia terpesona, dan, akhirnya terobsesi dengan sang pria. Walaupun dia selalu ditolaknya, tetapi dia tidak pernah menyerah pada Alif. Justru, semakin menggila saat keluarganya diberikan fasilitas mewah oleh keluarga kaya raya ini. Apapun yang dia inginkan, bisa dibeli karena Alif memberinya black card alias, debit kredit tanpa batas.


" Berakhir, ini sudah berakhir. Cintaku padanya ternyata memang sia-sia! " batin Sania.


Bersambung