Papa, I Need A Mama

Papa, I Need A Mama
Episode 27



Aqila, sedang mencari keberadaan Ibu sambungnya. Dia, menunggu Jihan, menjemputnya. Teman-temannya sudah pulang, tinggal dia seorang diri.


Tin...Tin...


Aqila menoleh ke arah sumber suara, mobil yang membunyikan klaksonnya ternyata, mobil ayahnya. Dilihatnya, Jihan berlari menghampirinya, begitu pula dengan Bisma .


" Sayang ! "


" Mama! "


Aqila, dan, Jihan berpelukan. Bisma, tersenyum manis melihat keduanya.


" Papanya enggak di sapa nih ? "


" Iya, Papa kamu tuh cemburu sayang ! "


" Papa, Assalamualaikum! "


Setelah, melepaskan genggaman tangan anaknya, Bisma menggendong putri kecilnya itu.


" Sayang, kamu mau tidak kalau setiap hari Minggu kita jalan bersama ? Maafkanlah Papa yang tidak pernah punya waktu bersamamu! "


" Sama Mama enggak ? "


" Tentu saja sayang, Mama pasti diajak kok ! "


" Yey, Mama setuju kan ? "


Jihan, menghampiri suami, dan, anak sambungnya tersebut. Dia, mencubit gemas pipi Aqila.


" Iya sayang, kamu tenang saja oke ? "


" Oke, Mama lupa ya? "


" Hem, Kenapa sayang? "


" Mama belum mencium pipiku ! "


" Oh iya, sorry darling! "


" It's oke Mama ! "


****Cup****... Cup...


" Papa juga mau dong Ma ! " kata Bisma manja.


" Dih, kekanakan! "


Walaupun begitu, Jihan menuruti keinginan suaminya tersebut. Dia, memejamkan matanya hendak mencium pipi sang suami, tapi bukan Bisma namanya, jika tidak jahil. Saat Jihan hendak mencium pipinya, Bisma meminta Aqila untuk menutup matanya. Setelahnya, Bisma justru mengecup bibir sang istri. Lalu, setelahnya dia mencium keningnya, membuat Jihan bergeming.


" Terimakasih sayang ! " bisik Bisma.


" Papa, Aqila udah boleh buka mata belum? "


" Boleh sayang, bukalah! "


" Kenapa sih harus tutup mata ? "


" Tidak apa-apa kok, ayo kita pulang. Sayang, sini diem aja dari tadi! "


" Apa yang dia bicarakan? Aku seperti ini ya karena ulahnya, ih dasar Mas brewok ini ngeselin banget ! " batin Jihan.


Jihan, menghampiri keduanya. Bisma menggenggam erat jari-jemari, tangan kanannya menggendong anaknya, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat tangan sang istri. Keduanya, begitu serasi, seperti keluarga kecil bahagia.


" Papa, Aqila mau dipangku Mama dong ! "


" Kamu sudah besar sayang, manja banget sih! "


" Mas, enggak apa-apa. Ayo sayang, duduk di depan sama Mama! "


Aqila, berpindah tempat dari bangku belakang menjadi di depan bersama Mama dan Papanya. Dia, memeluk erat kedua lengan Mamanya, dengan manja. Begitupula dengan Jihan, wanita itu mencium rambut putri kecil Bisma , menyesap aroma shampoo apel yang dipakai anak sambungnya tersebut.


" Wanginya anak Mama! "


" Iya dong, aku keramas pake shampoo yang Mama kasih. Makasih Mama ! "


Aqila, mencium pipi sang Ibu.


" Dih manja ! "


" Mas, ayolah Aqila sudah lama tidak merasakan kasih sayang seorang ibu. Tidak seharusnya kamu meledeknya, aku tidak keberatan kok. Aku sangat menyayangi dia, Aqila adalah anakku. Walaupun aku tidak melahirkannya, tetapi, tetap saja aku ibu sambungnya. ! "


" Iya sayang, maaf. Jangan marah lagi ! "


" Kalau Jihan marah, aku pasti tidak akan diberi jatah olehnya! " batin Bisma.


...----------------...


Aqila, tertidur pulas di pelukan Jihan. Bisma, segera memarkirkan mobilnya. Setelahnya, dia membuka pintu mobilnya, dan, membantu membuka pintu untuk sang istri.


" Biar Mas yang gendong Aqila, sayang ! "


Bisma, menggendong putri kecilnya, Jihan kembali ke mobil dan membawakan tas anak sambungnya tersebut.


" Baik Nyonya ! ".


" Terimakasih, oh iya kalau misalkan susah. Boleh berdua sama Pak Narto! ".


" Baik ! "


" Terimakasih ya, ini kuncinya! "


" Sama-sama Nyonya. Baik, saya akan segera melaksanakan tugas dari anda! "


" Santai saja! "


...----------------...


Setelah mengecek Aqila, Jihan ditarik oleh suaminya, masuk ke dalam lift.


" Mas, apa yang kau lakukan? "


" Sayang, Mas minta maaf ya. Tadi, Mas keterlaluan sama Aqila, Mas mohon kamu jangan mendiami Mas seperti ini! "


" Iya, Mas. Jihan, enggak marah kok! "


" Benarkah? "


Jihan, menarik dasi sang Suami. Dia, mengalungkan lengannya pada leher suaminya. Bisma, yang mendapatkan perlakuan seperti itu, merasa tergoda. Dia, menggendong istrinya, ala koala. Memagut bibir sang istri, Jihan tidak ingin kalah, dia membalasnya. Sampai suara lift berbunyi keduanya berhenti.


Namun, saat Jihan sudah keluar lift. Bisma menggendongnya lagi. Hingga, Jihan menjerit karena terkejut. Dia, membawa sang istri langsung ke kamar keduanya. Menutup, hingga mengunci pintunya, dia merebahkan tubuh Jihan di atas ranjang. Pria tampan itu, memagut bibir sang istri, Jihan membalasnya. Hati Bisma benar-benar bahagia, istrinya lupa untuk meminum pil kontrasepsi.


" Mumpung dia terhanyut, aku langsung saja setelah Jihan tidur. Aku, akan membuang pil l*k*n*t itu. Supaya, dia hamil anakku, Ya Allah semoga engkau meridhoi, aku ingin memiliki anak bersamanya. Jihan, maafkan Mas, mas akan tanggung jawab ! "


Bisma, dan juga Jihan. Baru selesai menjalankan kewajiban suami istri mereka. Jihan, mengobrak-abrik isi laci nakasnya. Dia, benar-benar ketakutan.


" Mas, Mas Bisma ! "


Bisma, baru saja masuk. Dan, langsung menghampiri istrinya.


" Iya sayang kenapa sih? Mas baru shalat Ashar tadi, maaf ya ! "


" Iya enggak apa-apa. Itu, pil kontrasepsiku, hilang enggak tahu kemana, bagaimana ini ? "


" Hah kok bisa sih? "


Bisma, berpura-pura panik.


" Jihan juga bingung, biasanya ada disini . Sekarang enggak ada, Ya Allah bagaimana ini ! "


" Ya sudah, nanti Mas belikan lagi . Sekarang, kamu shalat dulu gih, Mas tadi udah Sama Pak Narto berjamaah! "


" Iya deh ! "


Saat Jihan mengambil air wudhu, dan melaksanakan ibadah wajibnya. Bisma, turun ke bawah, dia memanggil Julia, kepala pelayan mansion ini.


" Iya Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu? "


" Tolong, campurkan ini pada minuman istriku. Malam ini, jangan ada yang menggangu aku. Oh iya, nanti Pak Juki akan menjemput Aqila, anakku akan menginap di rumah kedua orang tuaku. Tolong, perintahkan seseorang agar menyiapkan keperluan Aqila. Dan, tolong satu orang dari kalian ikut dengan Aqila ! "


" Baik Tuan Muda! "


Beberapa saat kemudian, Aqila berpamitan pada Bisma.


" Papa, Aqila ke rumah kakek dan nenek dulu ya. Semoga, setelah pulang dari sana Aqila dapat Adik ! "


" Iya, doakan ya sayang. Semoga, Papa dan Mama segera memberikan kamu Adik ! "


" Aamiin! "


" Kalau begitu Aqila pamit ya, Assalamualaikum Papa ! "


" Wa'alaikumusallam! "


" Semoga saja berhasil, kalau dilihat dari tanggal sih. Ini masa suburnya, Jihan .Ya Allah, ampunilah aku, jujur saja aku tidak ingin seperti ini. Tapi, Jihan, dia tidak mencintai aku. Maka dari itu, aku harus membuatnya hamil. Supaya, dia tidak bisa lepas dariku. Karena, tanpa sepengetahuan dia, aku sudah menghapus, dan, merobek surat perjanjian kontrak kami. Biarkanlah aku menjadi suami Jihan, untuk selamanya! " batin Bisma.


Ting


" Mas, kok Aqila enggak ada ya? Barusan Jihan ke kamarnya, dia tidak ada . Kemana dia ? "


" Oh, dia ingin bermain di rumah kakek dan neneknya. Dia, merindukan Papa dan Mama. Jadi, sekalian menginap di sana! "


" Oh begitu ! "


" Eh sayang, kita jalan-jalan sekitar taman yuk. Lihat pemandangan sore hari enak di rooftop ! "


" Wah, Jihan mau Mas ! "


" Kalau begitu, ayo ! "


Beruntungnya Bisma, Jihan lupa menanyakan tentang pil kontrasepsi. Dan, mungkin saja dia tidak akan menanyakan tentang pil kontrasepsi itu lagi.


Bersambung...