One Night Surprise

One Night Surprise
EPISODE 92 - Hutang



"Akhhhhh bisa mati aku" ucap Brayen mengacak ngacak rambutnya.


Brayen mengirimkan beberapa pesan kepada Selin, namun tidak ada satu balasan pun. Brayen berusaha menelfon Selin, namun tidak juga di angkat. Ia langsung pergi ke kamar Frisil.


'Tok Tok Tok" suara ketukan dipintu kamar Frisil.


Ceklek


"Ada apa?" ucap Frisil.


"Selin ada bilang sesuatu ngga sama Lo?" ucap Brayen.


"Lo dari mana sih?" tanya Frisil dengan raut wajah sinisnya.


"Gue tadi main bentar sama temen, hp gue lowbet" ucap bohong Brayen, membuat Frisil langsung menatap lekat kedua mata kakaknya.


"Lo bohong, kali ini gue ngga akan bantu Lo" ucap Frisil menutup pintunya.


"Akhhh sial" batin Brayen.


"Mau kemana Boy?" ucap Ayah Alfa yang saat itu berada di dapur mengambil air minum.


"Ada sesuatu yang harus aku selesai kan yah, sebentar saja" ucap Brayen sopan, langsung pergi menuju mobilnya.


Ia menjalankan mobilnya menuju rumah Selin, sesampainya dirumah Selin. Brayen memencet tombol rumah Selin, keluarlah pembantu Selin.


"Iya den Brayen? ada yang bisa bibi bantu" ucap Bi Ani.


"Selinnya ada bi?" ucap Brayen.


"Apa Den Brayen belom dikasih tau kalo sekarang Non Selin di rumah sakit" ucap Bi Ani.


"Rumah sakit? siapa yang sakit?" ucap Brayen.


"Non Selin tiba tiba saja pingsan tadi, sama ibu bapak langsung dibawa ke rumah sakit" ucap Bi Ani.


"Dirumah sakit mana bi?" ucap Brayen khawatir.


"Di rumah sakit depan sana Den" ucap Bi Ani.


Brayen segera menjalankan mobil nya menuju rumah sakit, entah kenapa ia merasa bersalah kepada Selin. Seharusnya dia menolak ajakan Naya, kondisi ini tidak akan terjadi.


Sesampainya di rumah sakit, kondisi rumah sakit mulai sepi. Brayen langsung berjalan menuju resepsionis.


"Ada yang bisa kami bantu?" ucap Resepsionis.


"Atas nama Selina Aira Putri, diruangan mana sus" ucap Brayen.


"Ruangan Melati nomer 3 kak, tinggal lurus saja nanti ada tulisannya." ucap Resepsionis sopan.


"Makasih" ucap Brayen.


Brayen langsung berjalan mencari keberadaan ruangan Selin, ketika sampai di depan kamar Brayen segera mengetuk perlahan pintu kamar.


"Maaf Om Tante mengganggu malam malam" ucap Brayen sopan bersalaman dengan kedua orang tua Selin.


"Iya nak, silahkan masuk" ucap Tante Ira.


"Apa yang terjadi Tan?" ucap Brayen menatap kearah Selin yang tidak sadar kan diri.


"Tadi saat Tante pergi ke kamar Selin, dia terlihat pucat terus pingsan" ucap Tante Ira.


"Maaf Sayang" batin Brayen.


"Semoga Selin cepat sembuh Tan, besok pagi aku akan kesini lagi" Ucap sopan Brayen.


"Iya nak hati hati" ucap Om Rudi.


Brayen pergi meninggalkan rumah sakit, ia merasa bersalah. Kondisi kekasihnya saat ini karena ulahnya, seharusnya dirinya tidak seteledor itu.


Keesokan Harinya.


Brayen langsung menuju kerumah sakit menemani Kekasihnya, sedangkan Frisil menyuruh Kak Bryan untuk menemaninya pergi ke supermarket terdekat.


"Kak Bryan Ara titip es krim yaa" ucap Ara yang saat ini bersama Mamah Airin.


"Ikut Kakak aja ayo" ucap Frisil.


"Ndamau kak, aku sama mamah mau pergi kerumah Aunty Lala jenguk si dedek" ucap Ara.


"Yaa udah, mah aku berangkat dulu ya" ucap Frisil.


"Iya Hati hati" ucap mamah Airin.


Bryan melajukan mobil nya menuju salah satu supermarket yang cukup besar disana, lokasinya juga dekat dengan perusahaan nya. Mobil terparkir di halaman yang cukup luas.


Mereka berjalan menuju kedalam, banyak pasang mata yang melihat ke arah keduanya. Layaknya pasangan yang sangat perfect.


Frisil segera mengambil keranjang dan mengambil beberapa Snack dan es krim, sedangkan Bryan ia hanya berjalan di belakang Frisil.


"Sil kakak ke toilet dulu" ucap Bryan, dijawab anggukan oleh Frisil.


Bryan berjalan menuju toilet disana, namun tiba tiba saja seorang wanita menabraknya. Kedua mata itu pun bertemu, mereka berdua saling menatap satu sama lain.


"Maaf saya buru buru" ucap wanita itu yang tidak lain ialah Keisya.


"Bukan kah dia cewek yang ada di perusahaan kemarin" batin Brayen.


"Lo gak bisa kabur lagi, bayar sekarang utang bokap Lo" bentak seorang laki laki memegang kasar tangan Keisya.


"Iya aku akan bayar, tapi nanti. Kasih waktu aku seminggu lagi" ucap Keisya gugup.


"Sampai kapanpun aku ga akan mau nikah sama bosmu" bentak Keisya akan kabur, namun dengan cepat laki laki itu Manarik kasar tangan Keisya.


Bryan yang melihat kejadian itu pun, dengan cepat langsung mendorong tubuh laki laki itu. Dan menarik Keisya agar berada di belakang nya.


"Siapa Lo?? kita ngga ada urusan." bentak laki laki itu.


"Berapa hutangnya?" ucap Bryan.


"Lo mau jadi pahlawan?? Lo ngga akan bisa melunasi hutang dia" ucap laki laki itu menunjuk kearah Keisya.


"Berapa nominalnya tulis disini" ucap Bryan memberikan satu lembar cek kepada laki laki itu.


Laki laki itu mengambil lembaran cek, dan menuliskan Tiga digit hutang orang tua Keisya. Bryan langsung menandatangani cek itu.


"Sekarang hutangnya lunas, jangan ganggu dia lagi" ucap Bryan dingin.


"Nahh kan gini enak" ucap Laki laki itu pergi meninggalkan keduanya.


"Terimakasih anggap saja ini hutang. Aku akan menyicilnya" ucap Keisya.


"Okey kamu berhutang denganku" ucap Bryan berjalan meninggalkan Keisya


"Bahkan aku tidak tau rumah nya? ataupun tempat kerjanya?" batin Keisya.


"Bagaimana caraku menyicilnya?" ucap lirih Keisya.


Di Depan Supermarket.


"Kenapa kakak senyum senyum gitu" ucap Frisil melihat kakanya yang datang dengan gerak gerik yang berbeda.


"Tidak ada, ayo pulang" ucap Bryan.


"Okey let's go" ucap Frisil.


Di Rumah Sakit.


"Sayang maaf kemarin handphone ku lowbet, aku lupa ngga ngabarin kamu" ucap Brayen lembut kepada Selin.


"Kemana kamu kemarin?" ucap Selin.


"Emm aku diajak makan malam sama orang tua Naya" ucap Brayen menundukkan kepalanya.


"Tapi aku berani bersumpah, aku ngga ada apa apa sama Naya. Aku asik ngobrol sama ayahnya Naya yang kebetulan perusahaan nya bekerjasama dengan Aero Grub." ucap Brayen menjelaskan kepada kekasihnya.


"Iya sayang gapapa kok. Kemarin aku cuma khawatir aja hpmu ngga aktif" ucap Selin lembut.


"Makasih sayang" ucap Brayen.


Tiba tiba pintu terbuka, muncul lah Naya dengan gitar yang ada di belakangnya. Ia juga membawa bingkisan untuk Selin.


"Maaf mengganggu" ucap Naya.


"Ada apa kamu kesini nay?" ucap Brayen.


"Tadi kata kak Niko kamu hari ini ngga bisa latihan karena Selin masuk rumah sakit. Jadi aku putuskan kesini untuk menjenguk kondisi Selin juga" ucap Naya lembut.


"Masuklah Nay" ucap Selin.


Entah kenapa perasaan Selin sangat tidak tenang, namun Selin melihat Naya tidak menunjukkan sikap berlebihan kepada Brayen.


"Bagaimana kondisimu? ini buah untukmu" ucap Naya.


"Aku udah mendingan, makasih" ucap lembut Naya.


Mereka asik mengobrol bertiga, Naya yang saat itu membawa gitar. Membuat Brayen berinisiatif menghibur kekasihnya dengan lagu yang ia bawakan.


Sangat merdu, bahkan beberapa kali Brayen mencium lembut kening dan tangan Selin di depan Naya. Hal itu membuat perasaan Naya sedikit sakit, namun ia berusaha untuk menutupi nya.


"Coba saja aku lebih dulu mengenal Brayen" batin Naya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#Haii semuanya


Jangan lupa Like, Coment, follow yaa


Instagram @linaa.pndk