
Dirumah Sakit.
"Keluarga Pasien?" ucap salah satu dokter.
"Iya dok, bagaimana keadaan Frisil?" ucap Vero terlihat sangat cemas saat itu.
"Pasien mengalami pendarahan yang hebat, pasien membutuhkan beberapa donor darah! Segera hubungi keluarga pasien" ucap Dokter.
Vero segera menghubungi Brayen, untuk meminta bantuan kepada sahabat nya.
"Brayen gue minta tolong beri tau nyokap Frisil, kalo Frisil jatuh dari lantai 4. Dan sekarang butuh donor darah yang cukup banyak" ucap Vero.
"Hp Frisil di bawa oleh kepolisian uduk penyidikan. Aku udah coba hubungan Tante Airin, tapi ngga di angkat" ucap Vero terbata bata saking paniknya.
"Tunggu gue akan segera tiba" ucap Brayen langsung mematikan ponselnya.
Dirumah.
"Ayahhhh" panggil Brayen dengan penuh kekhawatiran.
"Ada apa Brayen?" ucap Mamah Airin.
"Mahh Yah Frisil jatuh dari lantai 4, sekarang dia koma dan membutuhkan banyak darah saat ini" ucap Brayen.
"Yahhh anak kita" ucap lemas Airin, tak disangka perasaan tidak tenang nya sedari ternyata ini.
"Sayang kamu yang tenang, Brayen siapkan mobil kita berangkat" ucap Ayah Alfa.
"Bii titip Ara, ayo sayang" ucap Alfa membopong tubuh Airin yang sudah lemas.
Di Mobil.
"Yahhh gimana anak kita??" ucap Airin terus menangis.
"Tenang mah, aku yakin Frisil bisa bertahan. Dia anak kuat mah" ucap Brayen.
"Terus berdoalah agar Frisil bisa bertahan" ucap Ayah Alfa penuh ke khawatiran.
Sesampainya di rumah sakit, mereka bertiga langsung berlari menuju UGD. Mereka melihat Vero yang terus memukul kepala nya, dengan cepat Alfa yang mengerti perasaan Vero saat ini langsung mencoba menenangkan nya.
"Om maafin Vero, Vero nggak becus jaga Frisil. Tante maafin Veroo" ucap Vero bersujud di bawah Airin.
"Nak berdirilah, ini semua musibah. Kamu tidak salah" ucap Mamah Airin memeluk tubuh Vero yang bergetar hebat karena melihat kondisi kekasihnya saat ini.
"Maaf dengan keluarga pasien?" ucap dokter dengan kepanikan nya.
"Iya dok saya mamahnya" ucap Mamah Airin.
"Pasien koma, stok darah yang kami punya tidak cukup." ucap Dokter.
"Dok saya akan mendonorkan darah saya kepada adek saya" ucap Brayen, membuat Vero sedikit syok.
"Saya dan anak saya dok yang akan mendonorkan darah" ucap Ayah Alfa.
"Baiklah ikut saya" ucap Dokter.
"Aku akan jelasin semuanya setelah ini" ucap Brayen menepuk pundak Vero.
"Bagaiman bisa Frisil jatuh Vero?" ucap Airin duduk disamping Vero.
"Saya gatau pasti Tan, saya denger Frisil teriak nama saya. Dan ketika saya lihat salah satu wanita memakai topi dan masker langsung berlari." ucap Vero tidak sanggup meneruskan ceritanya.
"Saya gagal Tante, saya gagal jagain Frisil" ucap Vero memukul kepalanya sendiri.
"Nak udah, jangan nyakitin diri kamu sendiri" ucap mamah Airin memeluk tubuh Vero yang masih syok.
Selang beberapa saat, Brayen dan Ayah Alfa keluar dari ruangan. Mereka terlihat terlihat sangat syok, karena melihat kondisi Frisil saat ini.
"Mahh Frisil" ucap Brayen mulai menangis di pelukan mamahnya.
"Tenang sayang, Frisil pasti kuat" ucap Mamah Airin.
"Aku akan mengurus administrasi dulu" ucap Alfa lembut mencium pucuk rambut istrinya, dijawab anggukan oleh Airin.
"Vero ikutlah denganku" ucap Brayen, dijawab anggukan oleh Vero.
"Mah kami kesana dulu" ucap Brayen.
"Iya sayang" ucap Frisil.
Brayen mengajak Vero untuk ke taman, Vero masih dengan pakaian yang penuh darah dan tatapan yang kosong.
"Frisil saudara kandung gue sama Bryan, kita kembar" ucap Brayen bersender di kursi taman.
"Kembar?" ucap lirih Vero menoleh kearah Brayen.
"Yah kami kembar, tapi Frisil menyuruh kami untuk menutupi identitasnya." ucap Brayen.
Vero terdiam, ia mengingat sesuatu. Dari kemarin Frisil berusaha mengajaknya berbicara, soal Kakak. Tapi entah kenapa diwaktu bersamaan selalu ada yang memotong pembicaraan Frisil.
"Vero siapa yang mendorong Frisil?" ucap Brayen tiba tiba.
"Gue gatau pasti, dia memakai topi dan masker. Gue ngga sempet ngejar, gue fokus dengan kondisi Frisil saat itu" ucap Vero.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" ucap Mamah Airin.
"Anak anda sekarang masih dalam kondisi koma, sering sering lah ajak pasien bicara. Agar bisa melewati masa kritis nya" ucap Dokter.
"Baik dok, terimakasih" ucap Mamah Airin.
'*Tringggg' suara telfon Brayen.
"Ya halo" ucap Brayen.
"Dimana semua orang? kenapa rumah sepi?" ucap Bryan.
"Frisil jatuh dari lantai 4 dan sekarang masih koma" ucap Brayen.
"Apaa?? Dirumah sakit mana?" ucap Bryan khawatir.
"Di rumah sakit X" ucap Brayen, mematikan telfon nya*.
Frisil sudah di pindahkan diruang VIP, banyak selang yang menancap di tubuh Frisil dan perban di bagian Kepala dan tubuhnya. Vero tidak kuat melihat kondisi kekasihnya saat ini, ia memilih keluar dan membiarkan Tante Airin dan Om Alfa menemani putrinya.
"Bagaimana keadaan Frisil??" ucap Bryan datang dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Dia masih koma" ucap Vero dengan lamunannya.
Bryan langsung masuk, dan melihat kondisi adeknya yang beberapa hari terakhir tidak berhubungan dengan baik. Bahkan dirumah mereka seperti orang asing.
Vero menghubungi keluarga nya dan menceritakan semuanya, ia hari ini akan menemani kekasih nya dirumah sakit. Mamah Sara memaksa untuk kesana, namun Vero menyuruh nya untuk besok saja.
Airin merasa pusing, Brayen menyuruh ayah untuk mengantar mamah pulang saja. Brayen, Bryan dan Vero yang akan ngejagain Frisil.
Pagi Hari.
"Selamat Pagi" ucap salah satu kepolisian, kepada Vero yang saat itu masih stay di samping Frisil.
"Pagi pak" ucap Vero.
"Penyelidikan masih berlangsung, kami hanya menyerahkan handphone milik korban dan ini Flashdisk yang saat itu ada di lokasi jatuhnya korban." ucap salah satu kepolisian.
"Baik pak terimakasih" ucap Vero mengambil handphone dan Flashdisk yang diberikan polisi.
"Baiklah kami akan terus melakukan menyelidikan. Kami permisi" ucap salah satu kepolisian, dijawab anggukan dari Vero.
Selang beberapa saat, Brayen dan Bryan terbangun dari tidurnya.
"Lo gak tidur?" ucap Brayen.
"Gue gak akan bisa tidur, lihat kondisi Frisil saat ini" ucap Vero terus menatap lekat mata Frisil yang masih saja tertutup.
"Lo juga harus jaga kesehatan Lo juga. Kalo Frisil tau pasti dia akan marah liat lo nyakitin diri lo sendiri." ucap Brayen.
"Tenang aja, gue bisa jaga diri gue baik baik" ucap Vero.
Mereka bertiga bergantian membersihkan diri mereka. Ayah Alfa sudah menyiapkan baju untuk mereka bertiga. Setelah selesai semuanya berkumpul di dekat tubuh Frisil.
"Tadi polisi datang" ucap Vero.
"Gimana? Apa pelakunya sudah ketemu?" ucap Bryan.
"Belom, masih dalam penyelidikan." ucap Vero.
"Siapa yang senekat ini sama keluarga kita" ucap Brayen penuh emosi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Haii semuanya
Jangan lupa LIKE, COMENT, FOLLOW yaaa.
Makasih yang udah support Outhor sampai sekarang
Instagram @linaa.pndk
Salam kenal yaaa🤗🤗