
"Sayang besok aku harus ke Amerika, untuk mengembangkan perusahaan ku disana." ucap Vero, tidak berani menatap Frisil.
"Kenapa harus sedih gitu mukanya? harusnya seneng dong kamu berhasil mendirikan perusahaan kamu sendiri" ucap lembut Frisil menggenggam tangan Vero.
"Aku ngga bisa jauh jauh dari kamu! aku takut" ucap Vero menatap kedua mata indah Frisil.
"Apa yang kamu takutin?" ucap lembut Frisil.
"Aku takut kehilangan kamu, aku takut kamu ninggalin aku" ucap Vero.
"Sayangg, inget ngga akan ada cowok lain yang bisa menggantikan posisi mu disini" ucap Frisil memegang hatinya.
"Janji" ucap Vero.
"Janji sayang" ucap Frisil lembut.
Makanan yang mereka pesan akhirnya sampai juga. Vero memperlakukan Frisil seperti Queen, tidak salah lagi Frisil mencintai lelaki seperti Vero.
"Sayang" ucap Frisil.
"Ya ada apa sayang" ucap Vero.
"Kamu harus selalu ngabarin aku okey?" ucap Frisil.
"Pasti sayang" ucap Vero mengusap lembut rambut kekasihnya.
Disisi lain.
Kondisi Airin yang sudah membaik, ia langsung berjalan menuju ruang bawah tanah untuk menemui seseorang untuk yang terakhir kalinya.
"Hai Abel" ucap Airin yang tiba tiba datang.
"Mau apa kau!!" bentak Abel yang terikat hampir 1 bulan ia di kurung di ruang bawah tanah.
"Kasian sekali adek tiriku" ucap Airin mendekat ke arah Abel.
"Lepasin gue!!!!!!" bentak Abel.
'Plakkkkk' satu tamparan keras mendarat ke pipi Abel.
"Jangan harap" ucap Airin tersenyum.
"Berani banget Lo nampar gue!!" bentak Abel.
"Kenapa harus takut?? Gue udah baik hati, ngasih beberapa Minggu untuk kehidupan Lo" ucap Frisil.
"Kalo bukan karena gue Lo udah mati dari awal ketangkep" bisik Frisil di telinga Abel.
"Lo yang harus nya matii!!!! kenapa Lo masih hidup!!" bentak Abel.
"Gue akan mati nantinya tanpa campur tangan Lo" ucap Airin.
"Gara gara bokap Lo, gue sama mamah jadi orang miskin" bentak Abel menatap tajam ke arah Airin.
"Dimana papah?" ucap Airin.
"Gue masukin dirumah sakit jiwa" ucap Abel tersenyum puas.
"Dia hanya akan menghabiskan uangku dan uang mamah untuk penyakitnya itu" ucap Abel.
"Lo sama nyokap Lo sama sama licik" ucap Frisil.
"Kalo bukan karena bokap Lo dulu kaya, mamah gue ngga akan mau sama bokap Lo" ucap Abel.
"Cukup menghabisi nyokap Lo, kekayaan itu sekarang sudah ada ditangan gue" ucap Abel.
'Plakkkkkk' tamparan keras mendarat di kepala Abel.
"Jangan harap Lo bisa keluar dari sini dengan selamat" ucap Airin, melangkahkan kakinya keluar.
"Hyper habisi wanita itu" ucap Airin keluar dengan emosi.
"Baik" ucap Hyper.
"Apa Lo bilang??? lepasin gueee" teriak Abel, namun tidak digubris oleh Airin.
Di kamar.
"Udah selesai?" ucap Alfa.
"Udah aku serahkan ke Hyper" ucap Airin.
"Sayangg" Panggil Airin mendekati suami nya.
"Aku rindu anak anak" ucap lembut Airin.
"Bentar lagi kita akan ketemu mereka, kamu yang sabar yah" ucap Alfa, memeluk tubuh istrinya.
~
Keesokan Harinya.
"Dek Vero mau tinggal di Amerika, Lo udah tau?" ucap Brayen.
"Udah kak" ucap santai Frisil.
"Lo ngga takut??" ucap Brayen.
"Ngapain takut?" ucap Frisil.
"Yaa Lo kan tau Vero itu punya ketampanan yang di atas rata rata,, sooo??" ucap Brayen.
"Gue yakin sama kak Vero, yang penting itu salin percaya satu sama lain kak" ucap Frisil.
"Adek gue dewasa banget" ucap Brayen mengacak rambut Frisil.
"Kakkk ihh" ucap Frisil memukul lengan Brayen.
"Salam buat Vero, semoga berhasil bisnis barunya" ucap Brayen.
"Iya kak" ucap Frisil.
Di Bandara.
Frisil tiba di bandara dengan outfit sederhana namun membuat banyak pasang mata yang melihat kedatangan nya. Ia mencari keberadaan kekasihnya di keramaian bandara saat itu.
Ketika akan menelfon kekasihnya, tiba tiba saja bola matanya tertuju kepada seorang cewek yang sedang memeluk erat tubuh kak Vero.
"Vero gue mohon maafin kesalahan gue dulu" ucap Anez.
"Lepasinn" ucap Vero menghempaskan tubuh Anez.
"Sayangg" panggil manja Frisil langsung bergelayutan ditangan kekar Vero.
"Hai Anez, Lo ngga malu apa meluk meluk cowok orang" ucap Frisil sinis.
"Lo yang harusnya malu!! Lo yang udah ngrebut Vero dari gue" bentak Anez.
"Dirumah Lo ngga ada kaca atau gimana sih?" ucap Frisil.
"Lo itu cuma masalalu nya okey!! dan gue masa depannya!! Dari sini paham kan?" ucap Frisil menarik tangan Vero menjauh dari Anez.
Namun ketika Frisil membalikkan tubuhnya, tiba tiba saja rambut panjang miliknya ditarik kasar oleh Anez dengan penuh emosi.
"Auww" rintih Frisil, dengan cepat Vero langsung mencoba melepaskan tangan Anez.
"Lepasinn" bentak Vero.
Tiba tiba saja dua orang berpakaian serba hitam datang dan langsung menarik tangan Anez. Hal itu membuat Frisil dan Vero langsung saling menatap.
"Apa itu pasukan dari markasmu?" ucap Vero.
"Bukan" ucap Frisil heran.
"Udah lah sayang, ayo kita masuk" ucap Frisil menarik tangan Vero.
Keduanya menjadi pusat perhatian orang orang yang ada di bandara.
"Sayang nanti kalo udah sampai jangan lupa ngabarin okey" Ucap manja Frisil.
"Iya Sayang, aku berangkat dulu." ucap Vero.
'Cuppp' Satu kecupan mendarat di kening Frisil.
Frisil menatap kearah kekasih nya, sebenarnya ia sedih jika harus menjalani hubungan jarak jauh. Tapi Frisil juga harus mensupport apapun yang akan dilakukan kekasihnya.
Dikantor RZ Grub.
Brayen tengah sibuk dengan beberapa dokumen yang harus ia pahami, ia tidak ingin jika perusahaan ayahnya mengalami penurunan. Tiba tiba saja telfonnya berdering.
"*Ya Hyper ada apa?" ucap Brayen.
"Tuan Bryan menyuruhku untuk menjemput Non Ara" ucap Hyper.
"Bentar lagi akan ada meeting dengan Klien, aku sudah menyuruh sekertaris baru untuk menemanimu" Ucap Hyper.
"Siapa?" ucap Brayen*.
Tok tok tok' suara ketukan pintu.
"Mungkin itu dia, aku matiin dulu" ucap Brayen mematikan telfonnya.
"Permisi tuan, perkenalkan saya Naya yang akan menggantikan sementara tuan Hyper" ucap Naya sopan.
"Duduk lah" perintah Brayen hanya menatap sekilas Naya.
"Bentar lagi akan ada meeting dengan perusahaan Wicaksono, ini berkas yang harus anda tanda tangani tuan" ucap Naya memberikan beberapa berkas.
Brayen segera menandatangani berkas itu, ia langsung berjalan keluar menuju ruang meeting di ikuti Naya di belakang nya. Meeting mereka berjalan dengan lancar.
"Tuan ini kopi untuk tuan" ucap Naya berjalan mendekati Brayen.
Namun tiba tiba saja ia tergelincir, membuat kopi yang ia bawa tumbas sedikit di jas milik Brayen. Hal itu membuat Naya langsung mengambil tisu dan mencoba membersihkan jas milik Brayen.
Hingga posisi mereka sangat dekat saat ini, Naya bisa melihat dengan jarak sangat dekat ketampanan yang dimiliki Brayen. Namun tiba tiba saja pintu terbuka.
"Apa yang kalian lakukan" ucap seseorang yang membuat Brayen langsung mendorong tubuh Naya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Haii semuanya
Jangan lupa Like, Coment, follow yaa
Instagram @linaa.pndk