
Setelah hari itu hubungan Frisil dan Vero semakin dekat, bahkan beberapa kali Frisil main ke rumah Vero untuk bertemu mamah Sara.
"Kak Vero" panggil Frisil.
"Iya sayang ada apa?" ucap Vero.
"Emm ada yang ingin aku bicarakan" ucap Frisil.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" ucap lembut Vero.
"Sebenarnya kakak aku itu Br......." ucapan Frisil terpotong.
"Nak kemari lah, bantu Tante milih gaun ini" ucap Mamah Sera menggandeng tangan Frisil.
"Nanti aja aku ngasih tau Vero soal Brayen dan Bryan" batin Frisil.
-
-
Keesokan harinya.
Jam menunjukkan pukul 7 malam. Vero mengajak kekasihnya untuk pergi dinner malam ini. Frisil tengah sibuk mencari dress yang akan ia pakai.
"Mahh Frisil pakai yang mana??" ucap Frisil.
"Tunggu, mamah punya stok Dress yang mamah punya dulu." ucap mamah Airin membantu mencarikan Dress Frisil.
"Kemungkinan sih muat ke kamu sekarang" ucap Mamah Airin berjalan menuju kamar nya dan mengambil dress yang belom sempat ia pakai dulu.
"Wahh mahh ini mamah yang nge desain sendiri?" ucap Frisil.
"Iya dong, coba kamu pakai. Mamah jamin pacar kamu akan kagum melihat mu malam ini" Goda Mamah Airin.
"Mamah ih, malu tau" ucap Frisil langsung mencoba dress, dan benar saja ukuran nya pas dengan tubuh Frisil.
"Lo masih belom siap siap dek, bentar lagi pasti Vero datang" ucap Brayen.
"Brayen kamu sendirian? mana Bryan?" ucap Mamah Airin, sedari tadi tidak melihat Bryan.
"Gatau mah, udah dari tadi keluar" ucap Brayen.
Frisil segera bersiap siap, selang beberapa saat mobil Vero sudah berada diluar. Frisil langsung segera berjalan menuju ke depan bersama mamah Airin tentunya. Vero terus saja memandang Kekasihnya.
"Eh Malam Tante" ucap Vero menyalami Mamah Airin.
"Malam nak, titip Frisil ya" ucap Mamah Airin.
"Pasti Tan, aku bakal jagain Frisil" ucap Vero.
Vero langsung membukakan pintu mobil kepada Frisil, ia tidak lupa berpamitan dengan Mamah Airin. Vero melajukan mobil nya menuju Restoran yang cukup terkenal di kotanya.
"Kenapa perasaan ku jadi ngga tenang gini" batin mamah Airin melihat kepergian Frisil dan Vero.
"Mahh ada apa? ayo masuk" ucap Brayen datang melihat Mamahnya yang terus saja berdiri di gerbang.
"Perasaan mamah ngga tenang" ucap Mamah Airin.
"Mungkin mamah kecapean aja, ayo masuk" ucap Brayen merangkul mamahnya untuk segera masuk.
Sedangkan Di Mobil.
"Kak Vero" panggil Frisil.
"Iya sayang" ucap lembut Vero menoleh kesamping nya.
"Sebenarnya kakak aku itu B...." ucap Frisil terpotong karena telfon dari hp Vero.
"Ya halo" ucap Vero.
"....."
"Saya sudah dekat" ucap singkat Vero mematikan telfonnya.
Vero langsung melajukan, dan tidak lama kemudian mereka sampai di Restoran yang tidak terlalu ramai saat itu. Vero menggandeng lembut tangan kekasihnya untuk masuk ke dalam.
"Atas nama Vero" ucap Vero.
Pelayan langsung mengantarkan Vero dan Frisil ke lantai 4 tingkat paling atas disana. Vero menggandeng tangan Frisil untuk keluar ke rooftop.
Banyak pasang mata yang melihat kehadiran mereka berdua. Pasalnya keduanya memiliki paras yang sangat tampan dan cantik tentunya.
"Kak Vero ini keren banget" ucap Frisil bisa melihat pemandangan ibu kota malam itu.
"Syukurlah kalo kamu suka" ucap Vero lembut.
"Sayang" ucap lembut Vero, menggenggam kedua tangan Frisil.
"Iya kak" ucap Frisil, menoleh kesamping nya.
"Cupp...Cupp" dua kecupan mendarat di kening dan bibir Frisil.
Hal itu membuat Frisil langsung membulatkan kedua matanya. Ini pasalnya Vero laki laki pertama yang menciumnya.
"I love you too kak Vero" ucap Frisil.
Vero langsung mendarat kan bibir nya ke bibir Frisil. Namun tidak ada pemberontakan dari Frisil, hal itu membuat Vero semakin memperdalam Cium*nnya. Frisil hanya mengikuti permainan Vero.
"Emmmmmm..." Frisil memukul tubuh kekar Vero.
Vero melepaskan cium*annya melihat Frisil yang mulai kehabisan oksigen.
"Hehehehe maaf" ucap Vero cengengesan.
Frisil mengatur nafas nya, Ia terus menatap kekasihnya yang saat ini tersenyum manis di hadapan nya. Vero merangkul pundak Frisil menuju ke dalam. Dinner malam itu sangat lah romantis bagi Frisil.
"Bukan kah itu Melia? Dasar ****** masih saja bermain di bekalang kakakku." batin Frisil melihat Melia menggandeng tangan seorang laki laki tua dengan mesra.
"Kak aku ke luar dulu ya, pengen hirup udara malam ini" ucap Frisil, melihat Vero mengecek i file file yang ada di email hp nya.
"Iya sayang" ucap Vero.
Disisi lain, Melia yang tiba tiba melihat Frisil yang sedang asik di melihat pemandangan di rooftop sendirian, ia langsung merencanakan sesuatu.
"Lo salah satu orang yang akan menghalangi hubunganku dengan Bryan" batin Melia menatap tajam ke arah Frisil.
"Sayang kamu boleh tunggu aku di hotel, ada urusan yang harus aku kerjakan" ucap Melia kepada lelaki hidung belang.
"Baiklah honey" ucap lelaki hidung belang, meninggalkan Melia.
Melia langsung memakai Hoodie dan menutupi kepala nya dengan topi. Ia berjalan mendekati Frisil, di rooftop hanya ada mereka berdua saat ini.
"Melia" ucap Frisil melihat Melia disampingnya dengan tatapan yang tidak biasa.
"Lo ora satu satunya yang akan ngehalangin hubungan gue sama Bryan!!" ucap Melia penuh penekanan.
"Gue ngga akan tinggal diam kalo ada seseorang yang ngehianatin kakak ku" ucap Frisil.
"Berhenti ngurusin hubungan gue dan Bryan!!" bentak Melia.
"Sampai kapan pun gue gak akan rela Lo dapetin kakak gue" ucap Frisil.
"Lo penghalang yang harus gue musnahkan!!" bentak Melia mendorong tubuh Frisil.
Posisi Frisil yang saat itu berada di atas, membuatnya langsung terdorong kebawah. Namun ia masih bisa memegang pinggiran Rooftop.
"Apa apa loo, Kak Veroooo tolongggg" teriak Frisil masih bisa menahan tubuhnya.
Vero yang saat itu mendengar kan sama suara Frisil, langsung menoleh ke arah Rooftop. Ia melihat seorang wanita memakai Hoodie dengan topi.
"Selamat tinggal penghalang" ucap Melia menginjak tangan Frisil, membuat Frisil seketika melepaskan tangannya.
"Akhhhh" teriak Frisil.
Melia yang melihat Vero berlari mendekati nya, ia langsung segera berlari pergi meninggalkan Restoran.
"Sayanggg" teriak Veroooo melihat kekasihnya terjatuh.
'Brukkkkk'
Vero langsung turun, banyak orang yang berkerumun di sekitar tubuh Frisil. Vero langsung menelfon Ambulans, hanya beberapa saat ambulans datang dan langsung membawa tubuh Frisil yang berlumuran darah.
Vero terus menggenggam tangan Frisil.
"Sayang jangan tinggalin aku" ucap Vero, menangis melihat kondisi kekasih nya saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Haii semuanya
Jangan Lupa Like, Coment, Follow yaaa
Makasih yang udah support Outhor sampai sekarang
Instagram @linaa.pndk
Salam kenal semuanya 🤗*