
"Kenapa rasanya bisa pas seperti ini" batin Bryan menikmati kopi yang dibuat kali ini.
Sore Hari.
Selin berinisiatif untuk pergi ke studio kekasihnya. Ia membawakan camilan untuk Kak Brayen. Mobil terparkir di halaman studio, Selin segera melangkah kan kakinya menuju ke dalam.
Namun ketika Selin membuka pintu, ia melihat Kak Brayen sedang di dalam studio bersama seorang perempuan. Selin menghampiri Niko yang ada di sana.
"Eh Lo Sel" ucap Niko, melihat Selin yang terus menatap ke arah Brayen.
"Mereka sedang membangun chemistry diantara mereka berdua. Lo tenang aja mereka profesional" ucap Niko.
"Dia Nana?" ucap Selin.
"Iya kali ini Brayen akan sepanggung dengan Nana atas permintaan produser musik." ucap Niko, dijawab anggukan oleh Selin.
Selin duduk di sofa, ia membuka camilan yang ia bawa sambil menunggu kekasihnya selesai latihan. Setelah beberapa menit Brayen yang melihat kehadiran Selin, langsung pergi menghampiri kekasih nya.
"Sayangg, kok ngga ngabarin aku dulu" ucap Brayen.
"Tadi aku bosen, langsung kesini deh" ucap Selin.
Naya keluar dari studio, ia melihat ke arah Brayen yang sedang bersama kekasihnya. Disisi lain Selin sedikit terkejut dengan seseorang yang baru saja keluar dari studio.
"Bukannya dia sekretaris kamu waktu itu" ucap Selin.
"Iya, Naya kenalin ini Selin" ucap Brayen.
"Salam kenal ya Naya" ucap Naya.
"Selin" ucap Selin tersenyum manis.
"Yaudah aku kesana dulu ya" ucap Naya lembut.
"Gabung aja sama kita" ucap Selin.
"Disini aja nay" ucap Niko.
Naya menatap ke arah Brayen, dijawab anggukan oleh Brayen. Naya duduk disamping Niko. Mereka saling bercerita satu sama lain, tawa mereka berempat memenuhi ruangan.
"Uhukkk uhukk" tiba tiba saja Naya tersedak, dengan cepat Brayen langsung memberikan botol minumannya kepada Naya.
"Lo gapapa?" ucap Brayen.
"Gapapa kok" ucap lembut Naya.
Selin hanya menatap Kak Brayen dan Naya bergantian, ia berusaha untuk positif thinking. Naya kelihatan nya cewek baik baik, mereka palingan cuma bangun chemistry mereka berdua.
Hari Semakin Larut.
"Nay Lo nanti pulang sama siapa?" ucap Niko.
"Palingan nanti pesen taxi, soalnya mobil ku masih di bengkel." ucap Naya.
"Bareng Brayen aja, Selin bawa mobil sendiri kan?" ucap Niko, membuat Selin langsung menatap nya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Iyasih, kenapa ngga sama kak Niko aja?" Ucap Selin.
"Gue masih disini, ada beberapa yang perlu gue siapkan" ucap Niko.
"Gapapa kan sayang aku nganter Naya? kasihan jam segini udah jarang taxi lewat sini" ucap Brayen lembut.
"Gapapa kok, yaudah aku pulang dulu ya" ucap Selin, memeluk kekasihnya.
"Hati hati Sel" ucap Niko dan Naya bersamaan.
Selin keluar dari studio, entah kenapa perasaan nya tidak tenang. Ia tidak suka dengan kehadiran Naya, namun ia harus bisa terima resiko ini.
Brayen sekarang bukanlah Brayen yang dulu, kedepannya pasti akan banyak lagi partner cewe lainnya. Selin berfikir mungkin ia tidak tenang karena pertemuan pertama dengan Naya dulu.
" Selin Lo harus berfikiran positif " batin Selin menjalankan mobilnya meninggalkan Studio.
Setelah kepergian Selin. Brayen mulai memasuki mobilnya di ikuti Naya yang duduk disampingnya. Tiba tiba terdengar suara dering telfon Naya.
"Halo pah?" ucap Naya.
"Kamu langsung aja ke restoran biasanya, papah sama mamah perjalanan kesana" ucap papah Naya.
"Emm okey pah" ucap Naya mematikan telfonnya.
"Brayen antarkan aku ke restoran Alqueen" ucap Naya menatap ke arah Brayen.
"Okey" ucap Brayen.
"Maaf ngerepotin" ucap Naya lembut.
"Sans" ucap Brayen.
Brayen melajukan mobilnya menuju ke restoran Alqueen. Sesampainya disana papah dan mamah Naya yang baru saja sampai, ketika melihat Putrinya, mereka langsung mendekat ke arah Naya.
"Mahh pah" ucap Naya kepada kedua orang tuanya
"Sayang, kamu siapa? kok belom dikenalin ke mamah"' ucap Mamah Naya, melihat ke arah Brayen yang turun dari mobil.
"Om Tante" ucap Brayen bersalaman kepada kedua orang tua Naya.
"Mah Pah ini Brayen, partner duet Naya Minggu depan" ucap Naya.
"Iya nak, ikutlah dengan kami" ucap Mamah Naya.
"Emmm" ucap Brayen terpotong.
"Sekali saja ikutlah" bisik Naya kepada Brayen.
Mau tidak mau, Brayen tidak enak jika menolak ajakan orang tua Naya. Ia akhirnya ikut masuk bersama Naya dan kedua orang tuanya.
Brayen asik dengan obrolan nya bersama ayah Naya, sedangkan mamah Naya terlihat sangat suka dengan Brayen.
Disisi lain.
Sepulang nongkrong bareng sahabatnya, Frisil langsung bergegas menuju Markas. Ia mulai disibukkan dengan bisnisnya yang cukup menguntungkan dibantu oleh Kenzo.
Frisil menanam beberapa saham di beberapa perusahaan yang cukup ternama. Hanya duduk manis saja keuntungan sudah ia dapatkan begitu banyak.
Adapun beberapa perusahaan yang mencoba curang, mereka mencoba mengambil banyak keuntungan. Dengan kejeniusan yang dimiliki Frisil, dengan waktu yang sangat singkat perusahaan itu pun dibuat bangkrut oleh Frisil.
Hari semakin larut, Frisil sampai rumah. Ketika mengecek hp nya, banyak sekali pesan dari Selin. Ia menanyakan keberadaan Brayen.
"Mahh kak Brayen belom pulang?" ucap Frisil kepada mamah Airin.
"Mamah belom liat dari tadi, coba kamu telfon" ucap Mamah Airin.
Frisil mencoba menelfon kakaknya, namun hp kakak nya tidak bisa dihubungi. Frisil mencoba menelfon Niko, manajer kakaknya.
"Kak Brayen apa belom pulang?" ucap Frisil.
"Udah pulang dari tadi, nganter Naya pulang juga tadi" ucap Niko.
"Naya?" ucap Frisil.
"Partner manggung Brayen Minggu depan" ucap Niko.
"oooo oke makasih" ucap Frisil mematikan telfonnya.
Frisil masuk ke dalam kamarnya, ia memberitahukan kepada Selin jika kakaknya belom pulang.
"Lihat saja kalo Sampek kak Brayen main main sama cewek lain" ucap lirih Frisil.
~
Hari semakin larut, Brayen melihat ke arah jam tangannya. Sudah cukup lama ia asik mengobrol dengan papah Naya, dia juga lupa tidak memberi kabar kepada Selin.
"Maaf om Tante, saya permisi dulu. Sudah malam juga" ucap Brayen sopan.
"Iya nak, main lah kerumah nak" ucap papah Naya.
"Iya om" ucap Brayen.
"Makasih udah nganterin" ucap Naya.
"Sama sama Nay" ucap Brayen.
Brayen segera meninggalkan restoran, ia melajukan mobilnya menuju kediamannya. Sesampainya dirumah Mamah dan ayah berada di ruang keluarga.
"Baru pulang Boy?" ucap Ayah Alfa.
"Hehehehe iya yah, main bentar tadi" ucap Brayen.
"Tuh tadi Frisil nyariin kamu" ucap Mamah Airin.
"Yaudah mah aku ke kamar dulu" ucap Brayen, dijawab anggukan oleh mamah dan ayah.
Brayen segera menghubungkan Charger ke hp nya. Ketika layarnya hidup, banyak sekali notif dari Selin dan juga Frisil.
"Akhhhhh bisa mati aku" ucap Brayen mengacak ngacak rambutnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Haii semuanya
Jangan lupa Like, Coment, follow yaa
Instagram @linaa.pndk