
Cika langsung berjalan mendekati Kiya dkk yang sekarang tertawa melihat Frisil terjatuh karena bola yang ia lempar.
"Lo yaa, jangan mentang mentang lo lebih tua dari kita, lo bisa seenaknya kaya gini" bentak Cika yang langsung menarik rambut Kiya dengan sangat keras.
"Berani banget lo ngerusak rambut gue." bentak Kiya berusaha melepaskan tangan Cika.
"Apaa? ngerusak?? nihhhh biar gak rusak" ucap Cika mengambil minuman yang berada di dekatnya dan langsung menyiram kan nya ke rambut Kiya.
"Berani banget ya loo" bentak Kiya tidak terima dengan perlakuan Cika.
"Apaaa lo mau apaa haa???" ucap Cika dengan tegas penuh emosi.
"Cikaaa" panggil Selin.
"Urusan gue sama lo belom selesai!" ucap Cika dengan menunjuk wajah Kiya dengan di ikuti tatapan tajam Cika, dan langsung mendekati Selin dan Frisil yang tergeletak.
Disisi lain, ketika Selin memanggil Cika. Vero dan Brayen mengikuti arah suara itu. Alangkah kaget nya ketika Brayen melihat adek nya yang menjadi korban Kiya Dkk.
Vero yang melihat Cewek yang pernah ia temui di mall waktu itu tergeletak karena ulah Kiya dkk. Tanpa aba aba Vero langsung berlari menuju Selin yang mencoba membangunkan Frisil, di ikuti Brayen dan Leo.
"Frisill bangunnn,, Cikk gimana ini?" ucap Selin panik karena darah yang keluar dari kening Frisil karena terbentur pinggiran tempat duduk, membuat Cika iku panik.
Ketika Brayen akan berlari ke arah adeknya, tiba tiba saja Vero lebih dulu berlari dan langsung membopong tubuh Frisil.
"Minggirrr" ucap Vero dengan panik nya.
Selin segera memberi jarak untuk kakak kelasnya itu. Vero segera membopong tubuh mungil Frisil menuju UKS. Perlakuan Vero membuat semua siswi iri dan saling menebak hubungan antara Vero dan Frisil.
Brayen dan yang lainnya mengikuti Vero dari belakang menuju UKS. Ketika sampai UKS Pihak UKS segera memeriksa keadaan Frisil yang saat ini masih pingsan.
"Broo sejak kapan lo peduli sama cewek?" tanya Leo yang melihat kepanikan di raut wajah sahabatnya itu. Di ruangan hanya ada Cika, Selin, Brayen dan Leo yang saling bertatapan.
"Apaasih gajelas!" ucap Vero datar.
"Lo ga usah bohong lah sama kita" ucap Leo melihat kebohongan di wajah Vero.
"Gue cuma kasian aja" ucap Vero berusaha cuek kembali.
"Okeokee" ucap Leo.
Ceklekk 'suara pintu terbuka.
"Gimana keadaan sahabat saya?" tanya Cika kepada petugas UKS.
"Temanmu baik baik saja, hanya sedikit benturan di kepala nya, kalian bisa masuk" ucap petugas UKS. Mereka berlima segera masuk bersamaan keruangan Frisil.
"Lo gapapa kann? masih sakit ngga? kalo masih kita ke rumah sakit aja" ucap Selin panik.
"Kenapa setiap melihat nya, detak jantungku selalu berdetak lebih kencang" batin Brayen menatap lekat Selin sedari tadi.
Ketika Brayen merasakan sesuatu ketika melihat Selin, ia langsung memerintahkan seseorang untuk mencaritahu siapa sebenarnya wanita yang di depannya kali ini.
Brayen tersenyum penuh bahagia melihat data pribadi Selin. Yang ternyata ia adalah gadis cantik yang dulu satu sekolah dengannya, gadis itu mampu membuat Brayen selalu memikirkannya.
Bahkan ketika Brayen bersekolah di negara X, ketika Brayen berkencan dengan para gadis disana, ia tetap saja memikirkan tentang Selin. Ternyata takdir sangat adil kepada Brayen, ia dipertemukan kembali dengan Gadis mungil cinta pertamanya di sekolahan nya yang sekarang.
"Gue udah gapapa kok, ini mereka kenapa disini?" tanya Frisil menatap ketiga cowok di depan nya.
"Tadi kak Vero yang bawa lo ke UKS" ucap Cika. Seketika membuat Vero dan Frisil saling bertatapan.
"Makasih kak" ucap Frisil. Namun hanya dijawab anggukan oleh Vero.
"Dihh ngapain gue terimakasih segala, kan dia jadi kepedean" batin Frisil menyesal.
"Yaudah kami kembali ke kelas dulu ya" ucap Brayen kepada Selin.
"Hmmm iya makasih ya kak" jawab Selin malu malu. Ketiganya pun keluar dari ruangan UKS, tinggal lah Cika dan Selin.
"Cieee,, ehemmm" ucap Cika menyenggol lengan Selin.
"Ihh apaan sih" ucap Selin salting.
"Kayanya bentar lagi ada yang jadian nih" ucap Cika.
"Hihhh jadian apaan. Nomer aja ngga punya" ucap Selin.
"ohhh jadi lo pengen punya nomer nya kak Brayen" goda Frisil tertawa melihat sahabatnya salting karena ulah kakaknya.
"ehhh kok gitu,, ceritanya gak gitu ya" ucap Selin.
Jam istirahat pulang sudah berbunyi. Frisil ditemani kedua sahabat berjalan menuju gerbang sekolahan. Banyak pasang mata yang melihat ketika gadis cantik itu.
"Permisi bisa bicara sama Frisil bentar?" tanya Bryan.
"Eh silahkan kak" ucap Cika. Bryan dan Frisil sedikit menjauh.
"Kamu gapapa kan? apa perlu kita periksa di rumah sakit?" tanya Bryan penuh khawatir setelah Brayen memberitahukan yang terjadi kepada Frisil.
"Syukurlah" ucap Bryan.
"Yaudah aku kesana dulu, udah ditungguin sahabatku." ucap Frisil.
"Lo kenal sama kak Bryan?" ucap Cika.
"Enggak, kak Bryan nyampein pesan dari guru IPA" ucap bohong Frisil.
Tinn tinnn 'suara klakson mobil Brayen.
"Bareng kita ajaa" ucap Brayen menatap lekat Selin. Vero dan Leo saling pandang melihat aksi Brayen.
"Sell,,, terima aja, kan sopir lo hari ini gak bisa jemput. Dari pada kita naik ojek, hemat uang buat jajan besok" bisik Cika.
"Gue malu, terserah lo aja deh" bisik Selin terhadap Cika.
"Nih Kakak naksir beneran kaya nya sama Selin" batin Frisil melihat tatapan Brayen terhadap Selin.
"Emm emang nggak ngrepotin kak?" Tanya Cika.
"Enggak kok, bareng kita aja." ucap Leo tersenyum manis.
"Sil lo juga ikut ya" ucap Cika menarik tangan Frisil masuk kedalam mobil.
"Ehh Ver lo pindah dibelakang aja sama Frisil, biar Selin di depan" ucap Brayen dengan tatapan memohon kepada Vero.
"Hufffsss" dengus Vero keluar menuju kursi belakang.
"Loh kak,, gapapa aku dibelakang aja sama Frisil." ucap Selin.
"Udah kamu di depan aja, tuh kursi udah pada penuh" ucap Brayen menunjuk kebelakang. Memang Frisil sudah masuk lebih dulu di kursi belakang, di ikuti Vero.
Selin yang melihat kursi sudah penuh, segera duduk di kursi depan bersama Brayen.
"Kenapa sih ini jantung gue, kenapa juga kak Brayen ngomongnya jadi aku kamu. Kan gue jadi kepedean" batin Selin.
"Bray gimana kalo kita mampir ke Cafe Rebix, mumpung lagi ramean" ucap Leo.
"Boleh tuh kak" ucap Cika spontan, karena ia sangat ingin pergi kesana tapi waktu tidak bersahabat dengan nya.
"Ihh buset, ngagetin banget" ucap Leo.
"Yahh sorry,, katanya sih bagus tempat nya." ucap Cika dengan menggaruk garuk kepalanya.
"Tapi Frisil kan masih sakit" ucap Selin.
"Gapapa, ngikut aja gue mah" ucap Frisil. Tohh dia juga pergi nya sama kakak nya.
"Kalo lo Ver? gmn?" tanya Brayen.
"Ngikut aja" jawab Brayen, masih sibuk dengan Hp nya. Frisil hanya melirik sekilas.
Brayen senang bukan main, karena sahabat nya memberikan jalan untuk nya agar bisa lebih dekat dengan Selin.
"Lo bisa nggak? ngga usah nyanyi,, kasian telingaa gue" ucap Leo menutup kedua telinga nya.
"Suara gue bagus tauu,, nih dengerin lagi......." jawab Cika malah menggoda Leo.
Sedangkan Vero dan Frisil hanya diam melihat keributan di mobil antara Leo dan Cika.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Haii semuanya
Jangan lupa Like, Coment, Vote yaaa
love uuuuu
Instagram @linaa.pndk